oleh

Menjadi “Batu Hidup”

-Info, Rohani-544 views

Dalam terang kebangkitan-Nya, Kristus menghendaki kita untuk pergi ke rumah Bapa; bersatu dalam kemuliaan-Nya, dan mencapai kebahagiaan sejati dan abadi bersama-Nya. Satu-satunya cara untuk menggapainya ialah dengan melalui Kristus sendiri. Berjalan melalui Kristus berarti mengikuti cara hidup Kristus, sang batu penjuru Gereja; yang mengarahkan Gereja untuk sampai kepada Allah. Berjalan melalui Kristus berarti juga meneladani Pribadi Kristus yang adalah saluran cinta kasih Allah bagi umat manusia.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita sebagai anggota Gereja untuk menjadi “Batu Hidup”. Dalam  Bacaan pertama rasul Petrus berbicara mengenai batu. Batu dapat dengan mudah kita jumpai di mana saja. Batu merupakan benda mati, yang bersifat keras, kering dan seringkali dipandang tidak penting. Menarik bahwa meskipun batu adalah benda mati, namun Petrus justru mengajak kita untuk menjadi batu, menjadi “Batu yang Hidup”.

Dalam perjanjian lama, batu bukan hanya digambarkan sebagai benda mati, yang keras, dan kering, namun batu juga digambarkan sebagai tempat berteduh para musafir yang memberikan kesejukan. Batu sering dipakai sebagai fondasi rumah yang kokoh. Dalam ibadat orang Israel, batu menjadi sangat penting untuk membuat mezbah yang menjadi sarana untuk mempersembahkan kurban pada Allah. Bahkan dalam beberapa teks Kitab Suci Perjanjian Lama ditemukan bahwa batu-batu yang memiliki lubang merupakan tempat berdiam burung merpati.

Bacaan kedua hari ini pun mengingatkan kita bahwa untuk menjadi rahmat bagi sesama, pertama-tama kita harus menjadi batu hidup.“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup…”  (1 Petrus 2:5).

Saudaraku terkasih, Menjadi “Batu yang Hidup” pertama-tama berarti membuat diri kita menjadi batu mezbah yang merupakan sarana rahmat dan pengudusan Allah bagi sesama, serta sarana umat Allah berhubungan dengan Allah. Layaknya batu yang memberikan naungan dan memberikan kesejukan bagi para musafir, kita juga dituntut menjadi batu hidup yang memberikan naungan dan kesejukan kepada sesama kita dalam tutur kata, tingkah laku, dan cara hidup kita sehari-hari. Kita pun hanya akan menjadi “batu yang hidup” jikalau kita juga senantiasa memelihara roh kudus yang ada dalam diri kita. Setia dalam hidup doa, ekaristi, dan senantiasa berpikir positif kepada sesama, demikianlah kita menjaga roh Allah yang ada dalam diri kita.

 

( Oleh: Fr. Micky Kojongian)

Komentar

Jangan Lewatkan