oleh

Perburuan 27 Juli 1996

10 Oktober 1996, tiba kembali di rumah, sejak Juli bersembunyi, semua rindu dan kemarahan tertumpah jadi satu. Marah pada negara, rindu pada keluarga. Namun, semua itu hanya berlangsung dalam hitungan jam saja, ketika warga Kampung Malang mengabarkan kedatangan tentara.

Secepat kilat saya bangun, menyambar tas, lalu pergi lagi, hanya dengan sandal, kaos singlet, dan celana pendek. Saya lari dari rumah satu kawan ke kawan lainnya. Saya beruntung, tak ada yang menolak kehadiran saya. Dalam pengalaman kawan-kawan, ada cerita tentang penolakan, tentang pengkhianatan, juga tentang ikatan yang semakin kuat satu dengan lainnya.

Pertama lari dari rumah, saya ke kontrakan orang-orang Timor di Wonorejo. Tidak jauh dari rumah, dan mudah dalam koordinasi dengan orang tua. Toh saya tidak bisa pergi jauh dengan hanya kaos singlet, celana pendek dan sandal jepit itu. Mirip gembel.

Saya butuh baju tentu saja, serta sejumlah uang, buku bacaan dan alat tulis. Saat di Wonorejo, saya melihat drama televisi yang menyudutkan para aktivis demokrasi ditayangkan berulang. Situasi gawat. Saya melihat mereka mulai cemas.

Lalu saya pamit, pergi lagi ke rumah kawan lainnya, begitu seterusnya, hingga akhirnya Mama menemani saya menyingkir jauh ke tanah Timor, kampung orang tua, kampung halaman saya. Semua saudara mendukung, hilang rasa takut. Di Timor saya mulai memanjangkan rambut.

Sampai keadaan mulai reda, kami kembali ke Surabaya. Tiba di Surabaya, Mama pulang ke rumah, saya tidak. Saya menumpang di kost kakak sepupu, Daniel Rohi, yang adalah Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Surabaya. Setelah beberapa hari di sana, kami menuju ke Tegalsari, sekretariat GMKI Surabaya.

Itu awal saya bergabung dengan GMKI. Saya tinggal di sana, bahkan ketika kehidupan mulai berjalan normal. Saya kadang tidur di meja rapat, kadang di aula, atau di mana saja di sekretariat tersebut. Saya juga memasang tangga untuk lari ke perkampungan belakang sekretariat jika sesuatu yang buruk terjadi.

Sony Saragih, banyak sekali mambantu saya. Mulai dari menguruskan cuti kuliah, hingga menjadi kurir pesan antara saya dan teman-teman yang bergerak di bawah tanah.

Dari tangan Sony saya menerima surat dari Raharja Jati Waluyo, juga di tangannya saya menitipkan kembali pesan buat Jati dkk. Saya diminta Jati untuk terlibat aktif dalam aktivitas propaganda dan mendistribusikannya. Kawan-kawan tetap dalam posisi memobilisasi massa, menjaga semangat perlawanan terhadap Soeharto.

Saya mulai menulis, mengumpulkan tulisan, memperbanyak, dan mendistribusikan tulisan-tulisan itu. Ada yang bentuknya newsletter, ada yang selebaran biasa, ditempelkan di kampus, dibagikan di perkampungan buruh, dan dibicarakan di kalangan kaum miskin perkotaan. Nama samaran yang saya gunakan saat itu Iin. Berharap aparat terkecoh, berpikir penulisnya adalah perempuan. Berharap aparat melupakan saya.

Ketika represivitas Orde Baru melonggar, kami makin mudah berkoordinasi, makin gencar lakukan perlawanan kembali. Namun, saya belum berani kembali ke kampus, hingga pada suatu malam; English Night, acara musik tahunan yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga.

Dengan rambut panjang, penampilan baru, saya malam itu ke kampus. Mulai mencari teman-teman lama, namun tetap dalam kewaspadaan tinggi. Ketika melihat kumpulan kawan-kawan saya mendekati, duduk berlama-lama tanpa menyapa. Saya duduk dekat David Kris. Ia tak mengenali saya. Saya banyak mendengar pembicaraan kawan-kawan.

Sepertinya aman!

Menjelang bubaran, saya menyapa mereka yang pangling dengan penampilan saya. Pertemuan yang kaku, juga mengharu biru. Tak lama kemudian kami mulai sering bertemu. Kami bertemu di kampus saat malam hari, terkadang alkohol menemani pembicaraan kami.

Setelah itu, saya kembali ke kehidupan kampus. Semua dosen dan teman menerima dengan kangen, tanpa takut, tanpa stigma yang disematkan ke saya, juga kepada teman-teman yang baru keluar dari persembunyian dan penahanan.

Kehidupan perkuliahan dan perlawan kembali ke titik sebelumnya. Dari kampus FISIP Universitas Airlangga ini, perlawanan dan segala perdebatan metode gerakan yang turut menjatuhkan Rejim Soeharto berawal.

Saat saya belum bisa kembali ke rumah, masih tinggal di Tegalsari, Mama sering datang berkunjung, membawa masakan dalam jumlah besar. Mama masak buat semua orang, tentu saja para mahasiswa di sana senang. Mama juga membawakan untukku buku-buku, termasuk Selamat Pagi Surabaya, buku kumpulan tulisan Papa di Harian Memorandum.

Mama mengabarkan bahwa tentara sudah mulai jarang ke rumah. Bahwa dokumen-dokumen saya masih dikubur di tanah, terbungkus plastik. Mama juga cerita, bahwa beberapa kali Papa Mama iseng mengelabui tentara.

Pernah suatu kali mereka berdua sengaja keluar, berjalan kaki menuju Pasar Kembang, di ujung Wonorejo III. Tentara mengikuti mereka. Mama masuk wartel, tapi tanpa menelpon siapa-siapa. Kemudian keluar dari sana, berjalan pulang. Mereka sepertinya senang mengajak jalan-jalan tentara-tentara itu. “Seperti jalan-jalan tapi punya pengawal.”

Betapa beruntung saya punya mereka. Heroik!

Mama Papa cukup berani mengambil resiko. Selain menyediakan rumah kami digunakan sebagai tempat berkumpulnya aktivis, setidaknya Mama mengijinkan dua buronan negara untuk bersembunyi di kamar atas rumah kami; Heru Krisdiyanto dan Dwi S. Budiono.

Heru, saya lupa, apakah karena dia dituduh sebagai dalang pembakaran Kantor Golkar Jatim, atau kasus lainnya. Yang saya ingat dari Korlap Aksi spesialis bentrok ini, dia menjahit kawat nyamuk kamar atas yang sobek agak panjang, mencegah nyamuk masuk.

Dwi S. Budiono, menghindari panggilan paksa aparat. Dia lolos ketika suatu subuh beberapa tentara mendobrak masuk pintu depan rumahnya. Saya juga lupa apa tepatnya tuduhan yang dijatuhkan oleh negara. Maklum, negara bisa menuduh apa saja, kepada siapa saja. Itulah kehidupan di bawah Soeharto. Jangan terulang. Jangan lagi.

Nunca Mas!

*Memenuhi janji kepada Eghi Taneo

 

Moskow, 28 Juli 2020
Mengenang Mama dan Papa Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan