oleh

Surat Terbuka Kepada Presiden, Perhatikan Mahasiswa terkena PSBB di tanah rantau

-Info-1.277 views

Kepada
Yth. Bapak Presiden RI Ir. Joko Widodo

Dengan hormat,

Sehubungan dengan adanya bencana wabah Covid-19 yang melanda dunia, khususnya Indonesia. Mengakibatkan lumpuhnya aktivitas ekonomi, perdagangan, perkuliahan, perkantoran dan sebagainya. Penyebaran Covid-19 semakin hari, semakin meningkat hingga mencapai kurang lebih 8.211 kasus (kompas.com 25 April 2020). Dalam rangka percepatan penanganan Corona Virus Disease Pemerintah seperti Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat Jogjakarta dan lainnya melakukan keputusan Social Distancing dan Physical Distancing, maupun PSBB (Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2020, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 648, Permenkes 9 tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19).

Ada banyak hal yang dibatasi dan dihentikan Pemerintah selama PSBB berlangsung, yakni: Aktivitas Perkantoran, Sekolah, Perkuliahan, pusat keramaian, transportasi, perdagangan, perkumpulan orang dalam jumlah banyak lainnya, dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan kerugian besar bagi Perusahaan Swasta hingga mem-PHK-kan karyawannya. Menteri Tenaga kerja Ida Fauziyah mengatakan,Covid-19 berimbas kepada tenaga kerja kurang lebih 1.5 jutaan. Karyawan yang di PHK kurang lebih 150.000 orang (10%) dan 90% orang dirumahkan.

Nasib pilu para PHK 10% dan 90% Orang yang dirumahkan mulai merasakan kebingunan, merana, tidak jelas, stres karena sulitnya mencari uang untuk biaya kehidupan sehari-hari. Nah, Sebagai ganti rugi akibat PSBB tersebut, Pemerintah mengadakan pembagian Bantuan Sosial berupa uang Rp. 600.000,- per kepala (walaupun belum terakomodasi secara keseluruhan), dan juga bantuan sembako ke seluruh rakyat. Pada umumnya, masyarakat luas selalu diperhatikan oleh banyak kalangan (Partai, Legilative, Eksekutive dan Elemen lainnya).

Para orang tua yang telah di PHK berimbas atau berdampak buruk bagi kehidupan anak-anak (Mahasiswa/i) yang sedang studi ditanah rantau. Mahasiswa/i terkendala membayar kos-kosan, apartemen karena tidak mempunyai uang kiriman untuk menanggulanginya. Nasib Mahasiswa/i ini mulai mengalami ambang kegaulaun, kebimbangan, kegundahan, kekuatiran dan merasa bingung sambil bertanya-tanya dalam hati. “Apakah yang akan terjadi dengan kuliah ini?”.

Selain itu, PSBB berkibat pada pelarangan Penerbangan dan Pelayaran ke segala daerah diseluruh Indonesia hingga berdampak buruk juga bagi Mahasiswa/i Perantau. Banyaknya Mahasiswa/i yang tidak bisa Mudik atau pulang kampung untuk mengilosi diri dirumah, Puasa bersama Orang Tua sambil menunggu selesainya COVID-19.

Meresponi persoalan konflik ketahanan ekonomi Mahasiswa/i perantau diatas, Dengan ini, Saya mengajukan Surat Terbuka ini kepada Bapak Presiden Republik sebagai kepala negara sekaligus Bapak dari Mahasiswa/i perantau agar Mahasiwa/i tersebut diperhatikan secara seksama. Jangan biarkan Mahasiswa/i itu sakit, meninggal dunia karena kelaparan, jangan biarkan mahasiswa/i putus sekolah karena tidak mempunyai uang untuk bertahan pada masa PSBB.

Melalui Surat Terbuka ini, ada beberapa aspirasi yang perlu Bapak Presiden layani yakni;

(1). Jika Para Kepala Rumah Tangga saja, Negara ini menjamin atau memberikan uang ganti rugi PSBB sebesar Rp. 600.00,-. Maka dari itu, Bapak Presiden yang terhormat wajib relokasikan anggaran untuk mahasiswa terkena dampak PSBB sebesar Rp. 600.00,-

Daripada anggaran 5,6 T diberikan kepada PT. Ruang Guru Indonesia untuk menjalankan Kartu Prakerja yang tidak tepat pada momen Covid-19 dan Surat ke seluruh Camat Se-Indonesia untuk mendukung PT. Amartha. Alangkah baiknya anggaran tersebut dialihkan ke Mahasiswa yang sedang menangis di Kos-kosan.

(2). Jika Listrik 50% atau digratiskan untuk kalangan umum. Maka data internet unlimited kepada mahasiswa yang telah terdaftar di Universitas negeri maupun swasta untuk kuliah Social Distancing dan Physical Distancing, maupun PSBB. (Jika data internet tidak digratiskan maka kuliah Social Distancing dan Physical Distancing, maupun PSBB membebani orang tua yang sudah di PHK. Sebab Mahasiswa wajib mengeluarkan uang yang lumayan banyak untuk membeli data internet. Sebab sekali kuliah saja, Mahasiswa harus menghabiskan 3 atau 4 jam/mata kuliah online). Kasus terjadi : biaya pulsa makin mahal, jaringan internet makin susah, listrik sering mati dan lain sebagainya.

(3). Sediahkan Dapur umum dan Poskoh pengaduan untuk Mahasiswa yang terkena dampak PSBB ditanah rantau.

(4). Mahasiswa/i merupakan generasi penerus atau kader bangsa Indonesia ditahun selanjutnya. Oleh karena itu, Nasib Mahasiswa/ perantau perlu diperhatikan. Alangkah baiknya, Kementerian Pendidikan atau lainnya melakukan pembagian sembako dikhususkan kepada Mahasiwa yang tidak keluar rumah dan lain sebagainya.

(5). Pemeriksaan kesehatan seluruh Mahasiswa yang berada ditanah rantau.

(6). Negara ini wajib hadir untuk menyelamatkan nasib Para Mahasiswa/i tersebut yang sedang mengalami kegundahan PSBB melawan Covid-19.
Mahasiswa/i ini akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dan akan memajukan negeri ini kelak, maka dari itu, Jangan abaikan nasib kehidupan para Mahasiswa/i merana, jangan biarkan Mahasiswa/i menangis di pinggir jalan akibat diusir oleh pemilik Kos/Apartemen, jangan biarkan Mahasiswa/i kelaparan hingga berujung sakit, stres, bunuh diri, meninggal bukan karena Covid-19 tetapi karena kelaparan dan sebagainya.

Demikian Surat Terbuka ini dibuat, Kami sangat berterima kasih bilamana Bapak Presiden Republik dapat membaca Surat Terbuka ini. Akhir kata, Saya ucapkan Terima ksih. Tuhan memberkati.

Aktivisi dan politikus Milenial Asal Alor Nusa Tenggara Timur.

 

Salam Restorasi
Jakarta, 25 April 2020

Fridrik Makanlehi, ST.,M.Sc

Komentar

Jangan Lewatkan