oleh

Jawaban Surat Terbuka Fransisco Soares

-Info-6.299 views

Hallo Fransisco Soares selamat siang, apa kabar…

Saya membaca surat terbuka saudara di group WhatsApp Tekaiku. Saya benar-benar tergelitik dengan surat yang sadara tulis untuk anggota DRP-RI Dapil NTT-1, Benny K. Harman. Kesan awal saya, Anda berani! Tapi kesan itu rubuh seperti batang kelapa busuk ketika saya mengetahui identitas saudara palsu. Saudara tidak menggunakan nama asli saudara dan juga tidak mencantumkan identitas domisili, pekerjaan, pendidikan atau apalah. Mengapa begitu? Apakah nama saudara terlalu buruk sehingga saudara tidak berani menggunakannya? Mengapa saudara jadi pengecut seperti tikus got?

Saya Deni Sijegal, lulusan STT Bandung. Asal dari Alok – Maumere. Saya sangat bangga dengan tanah kelahiran saya. Dari daerah saya ada dua orang yang jadi Anggota DPR-RI, Pak Melky Mekeng (Golkar) dan Andre Hugo Parera (PDIP). Dua-duanya orang Maumere. Tapi ada satu anggota DPR-RI yang bukan orang Maumere, tapi selalu dipilih oleh orang Maumere pada setiap kali Pileg. Namanya Dr. Benny K Harman. Kalau pake pertimbangan primordial, kami pasti tidak pilih dia karena dia orang Manggarai. Tapi kami orang Mumere memilih orang berdasarkan pertimbangan kemampuan dan jam terbang orang tersebut di level nasional. Kami memilih Benny K. Harman karena dia pintar, berani, berintegritas, dan selalu berada di tengah masyarakat Maumere. Benny K. Harman itu rajin blusukan. Semua kampung di Sikka ini dia sudah datangi. Kami selalu berdoa agar beliau sukses. Saat beliau maju di Pilgub NTT, kami dukung penuh beliau, sehingga di Kabupaten Sikka dia dapat suara tertinggi. Saat Pileg dia jadi pemenang ketiga setelah dua putra daerah kami. Kami selalu panggil dia Moat BKH (panggilan penuh persahabatan).

Itu hanya introduksi ringan saudara Fransisco.

Saya coba masuk ke inti surat saudara. Inti surat terbuka yang saudara kirim untuk BKH itu, saudara sebut diambil dari pernyataan BKH di Kompas TV. Saya coba searching di kanal Kompas TV mengenai pernyataan itu, tidak ditemukan. Pernyataan langsung dari BKH tidak ada. Saya sudah browsing, ternyata KompasTV mengutip cuitan BKH di Twitter pada 23 Februari 2021, Pkl 21.20. Untuk menghindari terjadinya mispersepsi, saya tampilkan kembali cuitan BKH di Twitter. Begini bunyi lengkapnya “Luar biasa rakyat Maumere Flores sambut Presiden Jokowi. Mereka tumpah ruah ke jalan, rela terpapar Covid hanya utk melihat langsung wajah Presiden. Teringat saya dgn sambut Riziek di Bandara Soetta saat pulang dari LN. Seolah tidak percaya bahaya Covid”. Per Kamis (25/2/2021) cuitan ini sudah dilihat oleh 43.200 orang dan di –retweets oleh 538 orang.

Di kanal KompasTV (https://www.kompas.tv/article/149772/politikus-demokrat-asal-ntt-rakyat-maumere-sambut-presiden-jokowi-saya-teringat-habib-rizieq), saya menemukan kutipan pernyataan BKH terpenggal atas dua bagian. Bagian pertama, “Luar biasa rakyat Maumere Flores sambut Presiden Jokowi. Mereka tumpah ruah ke jalan, rela terpapar Covid hanya utk melihat langsung wajah Presiden”. Bagian kedua, “Teringat saya dgn sambut Riziek di Bandara Soetta saat pulang dari LN. Seolah tidak percaya bahaya Covid”.

Saudara menggunakan isi berita KompasTV sebagai acuan saudara untuk mengeritik BKH.

Di paragraf ketujuh saudara mengutip pernyataan BKH yang dikutip KompasTV. Inilah bunyi kutipan ‘asli’ yang saudara kutip dari KompasTV, “Masyarakat NTT rela korbankan dirinya terpapar COVID-19 hanya untuk melihat pemimpinnya”.

Coba saudara bandingkan Kutipan Saudara dari KompasTV dengan tulisan asli yang termuat di KompasTV. Perbedaannya sangat jauh! Di tulisan aslinya “Luar biasa rakyat Maumere Flores sambut Presiden Jokowi. Mereka tumpah ruah ke jalan,rela terpapar Covid …”. Subyek tulisan itu adalah rakyat Maumere Flores. Saudara kemudian mengubah subyek itu menjadi “masyarakat NTT”.

Di paragraf delapan dan Sembilan saudara mengubahnya menjadi “masyarakat Sumba dan Flores”. Kemudian di Paragraf sebelas saudara memperkuat posisi subyek dengan menyebutkan lokasi “di tanah Marapu dan Nusa Nipa”. Eh, saudara tahu ga cara membuat kutipan? Mengapa saudara edit subjeknya? Anda terlalu dungu membuat kutipan!

Dari kutipan amburadul yang saudara lakukan, saya coba menarik empat poin.

Pertama, saudara tidak cermat membaca isi KompasTV. Saudara benar-benar tidak cermat atau memang kemampuan menyimak saudara sudah sekecil itu? Dari kata pertama, ‘luar’ sampai dengan kata terakhir kalimat kedua ‘covid’ sebetulnya hanya terdiri dari 16 kata. Kemampuan saudara mengutip dan menyimak pernyataan pendek itu blepotan. Bagaimana halnya dengan pernyataan berhalaman-halaman?

Kedua, saudara tidak tahu dan tidak paham membuat kutipan langsung. Cara membuat kutipan sudah diajarkan di SMP/SLTP. Masa di usia setua ini saudara juga belum tahu?

Ketiga, Saudara membuat universalisasi untuk sesuatu yang partikular. Saudara telah telah mengliminasi subyek yang bentuknya partikular untuk memberi tempat ke subyeknya yang universal. Tindakan yang saudara lakukan adalah bagian dari kejahatan akademik!

Keempat, saudara membuat generalisasi. BKH hanya memberikan tanggapan untuk masyarakat Maumere Flores. Tapi saudara menambahkan juga ke dalam pernyataan itu masyarakat Sumba. Saudara benar-benar tidak mampu membuat pembedaan dan pemilahan.

Saudara Fransisco Soares, itu baru hal teknis saja! Sekarang saya coba masuk ke bagian yang lebih subtantif mengenai kunjungan Presiden RI, Jokowi, ke Maumere. Saudara Fransisco, Presiden Jokowi sudah lima kali berencana ke Maumere. Empat rencana sebelumnya dibatalkan secara mendadak ketika persiapan masyarakat sudah matang. Ini saya share link beritanya, biar Anda tidak jadi “katak dalam tempurung”. https://suryayogya.com/2021/02/15/empat-kali-presiden-jokowi-batal-kunjungi-maumere-ini-respon-alex-longginus/.

Banyak kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh pembatalan itu. Di janjinya yang kelima baru Presiden Jokowi tepati. Dia ke Maumere pada Selasa (23/2/2020). Kunjungan itu sebetulnya tidak terlalu urgent, hanya pergi untuk meresmikan bendungan. Di era teknologi super canggih seperti sekarang, peresmian itu bisa dilakukan secara virtual. Selain menghemat biaya, juga menghemat waktu. Dana yang dialokasikan untuk kegiatan kunjungan itu bisa dipakai buat masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Tapi apa daya “nasi sudah jadi bubur”.

Saudara Fransico Soares, saya kutip pernyataan saudara

“Mungkin saja ditengah merumunan masyarakat yang menanti hadirnya Presiden di tanah Sumba dan tanah Flores beberapa hari yang lalu terdapat sahabat kenalan, keluarga ataupun ipar Saudara yang merupakan masyarakat Kabupaten Sikka. Luapan emosi kegembiraan masyarakat dengan berbagai opini, pendapat, pesan dan kesan dalam kunjungan kerja Presiden ke NTT, dapat Saudara temukan jejaknya media sosial, haruslah Saudara tanggapi dengan cara pandang sosial masyarakat”.

Asumsi saudara Fransisco ada benarnya. Beberapa sahabat, kenalan, dan keluarga menyaksikan kedatangan Presiden Jokowi ke Maumere – Flores. Mereka juga meninggalkan jejak di media sosial pasca kunjungan Presiden. Saya sempat mengeceknya, ada yang tone positif dan ada juga yang sebalinya. Saudara tahu, BKH itu politisi nasional. Dia tidak akan mempersempit cakupannya hanya kepada sahabat, kenalan, dan keluarga. Dia melihatnya dari kacamata yang lebih besar, dari perspektif seluruh rakyat Indonesia. Anda tahu tidak bahwa kunjungan Presiden Jokowi menjadi trending topik pada 23 dan 24 Februari 2021 di pelbagai media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan WhatsApp? Ikuti dong perkembangannya, jangan jadi ‘kodok rebus’, merasa nyaman, tapi akhirnya terpanggang sendiri! Saudara tahu, trendingnya bukan karena topik Presiden bagi-bagi sepeda, tapi karena kedatangannya menciptakan kerumunan. Coba saudara Fransisco, buka kembali rekaman video kunjungan itu. Dalam rekaman video yang beredar di pelbagai kanal Media Sosial, Presiden Jokowi terlihat berada di tengah-tengah kerumunan orang. Presiden Jokowi berkemeja putih dan menggunakan masker hitam. Dari atap mobil terbuka Presiden melambai-lambaikan tanggan ke massa kerumunan, lalu melempar bungkusan sehingga membikin suasana riuh dan semakin tanpa jarak. Presiden juga membagi-bagi souvenir yang membuat orang berebutan sehingga mengabaikan protokol kesehatan. Presiden tahu bahwa orang-orang sendang mengerumuninya dan dibiarkannya! Aparat yang ada di lokasi tidak kuasa membubarkan kerumunan. Ketika Presiden dan aparat ‘diam’ saja berarti mereka menyetujui peristiwa kerumunan itu. Persetujuan itu diamini dengan membagi-bagi souvenir.

Saudara Fransisco, silakan saudara berselancar untuk melihat instruksi dan arahan Presiden untuk melawan Covid-19. Pada awal Maret 2020 Presiden Jokowi, mendeklarasikan ‘perang semesta’ melawan Covid-19. Senjata untuk memenangkan perang melawan Covid-19 adalah tidak membuat kerumunan. Pada Kamis (19/3/2020) Presiden mengeluarkan tujuh instruksi sebagai bentuk deklarasi ‘perang’ melawan Covid-19. Point pertama dari tujuh instruksi itu adalah menggencarkan sosialisasi jaga jarak, social distancing, dan mengurangi kerumunan. Lima hari berselang (24/3/2020) Presiden Jokowi menginstruksikan Physical Distancing sebagai cara paling pas untuk mencegah Covid-19. Instruksi jaga jarak dan tidak menciptakan kerumunan terus digaungkan pemerintah. Aparat penegak hukum yang mengabaikan protokol kesehatan dicopot dari jabatannya. Bandingkan Kapolda Metro Jaya dan Jawa Barat yang dicopot dari jabatan Kapolda gara-gara tidak mengindahkan protokol kesehatan.

Saudara Frasisco, apa yang saudara lihat di Maumere adalah Presiden melawan dirinya sendiri. Presiden tidak melaksanakan sendiri instruksi yang pernah dia keluarkan. Artinya, antara kata dan perbuatan tidak sejalan! Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, Presiden seharusnya memberikan teladan. Presiden harus menjadi yang terdepan dalam menegakkan protokol kesehatan. Rupanya harapan seperti itu terlalu berat bagi Presiden sehingga sulit untuk dijalankannya! Dampaknya adalah bahwa pelanggaran yang dilakukan Presiden memicu pelanggaran oleh masyarakat. Saudara Fransisco, mengapa saudara mengamini pelanggaran yang dilakukan oleh Presiden? Mengapa saudara menyetujui kerumunan yang potensial tertular Covid-19? Apakah saudara Fransisco punya otak untuk berpikir?

Saudara Fransisco, saya kembali mengutip pernyataan sauadara

“Sebagai seorang anggota Parlemen Nasional berlatar belakang pendidikan Strata 3 seharusnya Saudara melihat luapan kegembiraan masyarakat Sumba dan Flores menyambut kedatangan Presiden RI tersebut dari sudut pandang sosiologis dan budaya menerima tamu ala orang NTT dan bukan melihat dari sudut pandang sempit Saudara sebagai oposisi Pemerintah”.

Sebelum saya tanggapi, silakan saudara Fransisco baca data berikut ini. Pandemic Covid-19 melanda Indonesia sejak 2 Maret 2020. Awalnya hanya dua orang yang terjangkit Covid-19. Kini (Kamis, 25/2/2021) penyakit yang bermigrasi dari Wuhan- China itu sudah menjangkit ke 1,3 juta orang Indonesia dan menular ke 112 juta penduduk dunia. Covid-19 telah membunuh 35 ribu masyarakat Indonesia dan 2,4 juta penduduk dunia (Covid19.go.id). Tingkat positivity rate Covid-19 di Indonesia berada di kisaran 40 persen atau delapan kali lipat dari standard ideal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 5 persen (Kompas.com, 18/2/2021). Artinya, Indonesia semakin darurat Covid-19!

Pemerintah di belahan dunia manapun menginstruksikan untuk selalu jaga jarak dan tidak melakukan kerumunan supaya terhindar dari Covid-19. Kunjungan Presiden Jokowi ke Maumere harus dilihat dalam konteks global. Kalaupun saudara mereduksi penyambutan kedatangan Jokowi dalam konteks sosiologis dan kultural orang NTT, argumen Saudara memalukan. Seakan-akan orang NTT itu permisif untuk menerima siapa saja tanpa pertimbangan akal. Saya tidak melihat kunjungan yang berujung pelanggaran itu dalam skope siapa kawan (koalisi) siapa lawan (oposisi). Saya melihatnya dari kebutuhan masyarakat secara keseluruhan, yakni ingin mengakhiri Pandemic Covid-19.

Saudara Fransisco, ini yang terakhir saya mengutip pernyataan saudara,
“Saudara Benny K. Harman, tidakkah Saudara sadari bahwa karakter dasar yang dimiliki oleh rakyat Sumba dan Flores adalah loyal terhadap pimpinannya. Loyalitas itu pun telah ditunjukkan oleh rakyat Sumba dan Flores ketika menyambut Sang Presiden dalam kunjungan kerjanya ke NTT beberapa hari yang lalu. Di sisi yang sama dari sudut pandang yang berbeda, karakter loyal terhadap pimpinan itu pun telah mengantarkan Saudara untuk menempati sejumlah pos penting baik di Partai Politik maupun di Parlemen Nasional”.

Saudara Fransisco, loyalitas orang NTT itu bertumpu pada akal sehat. Sudah setua usia Republik ini, orang NTT hidup dalam zaman demokrasi. Kepatuhan orang NTT pada pemimpinnya bukan mengikuti loyalitas mutlak ala loyalitas hamba kepada tuannya. Loyalitas orang NTT itu didasarkan pada alasan-alasan yang reasonable. Hal yang sama juga berlaku ketika memilih pemimpin, selalu menggunakan alasan yang bertumpu pada akal budi. Saudara Fransisco tidak boleh mereduksi alasan loyalitas itu kepada kepatuhan mutlak tanpa nalar! Itu akan mendiskualifikasi harga diri orang NTT. Orang NTT itu punya hospitalitas tinggi, dan nalar yang di kepala orang NTT tidak pernah tunduk di bawah perasaan emosional sesaat!.

Sampai di sini saja tanggapan saya saudara Fransisco. Mudah-mudahan saudara bisa nyimak argumentasi di atas!

 

Oleh: Deni Sijegal (Alok – Maumere, lulusan STT Bandung)

Komentar

Jangan Lewatkan