oleh

Komitmen Lapangan Hans Louk, Jurnalis Senior NTT Berpulang

-Info-420 views

“Komitmen lapangan anak ini kurang bagus. Begitu cepat puas dengan data dan informasi dari polisi saja. Dion tolong minta dia turun lapangan lagi. Ke rumah sakit dan rumah duka. Masih cukup waktu sebelum deadline.”

Begitu permintaan Redaktur Pelaksana Surat Kabar Harian Pos Kupang, Hans Christian Louk suatu hari di tahun 1996.

Saya segera menghubungi si reporter yang bertugas di suatu kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Sesuai arahan Om Hans Louk, saya sampaikan hal-hal yang perlu dia lengkapi agar beritanya layak dipublikasikan Pos Kupang.

“Waktumu masih empat jam lagi menuju deadline, kawan.”

Kira-kira tiga jam kemudian reporter tersebut kirim data tambahan lewat faks alias faksimile. Setelah ketik ulang kuteruskan kepada Om Hans Louk.

Om Hans menerima dengan raut wajah kurang ceria. Saya tahu musababnya. Data dan informasi tambahan kurang lengkap. Sungguh jauh dari harapan. Padahal itu peristiwa kecelakaan hebat yang menelan korban jiwa.

Demikianlah cara kerja Om Hans Louk sebagai wartawan. Berulangkali dia tekankan kepada kami para juniornya mengenai komitmen lapangan seorang jurnalis.

Wartawan sejati mesti selalu berada di tengah gemuruh persoalan sosial. Harus menggali sedalam-dalamnya dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi langsung dari sumber primer.

Sumber pertama! Gagal sumber primer baru beralih ke sumber sekunder dan seterusnya. Deskripsi lapangan adalah keniscayaan.

Tidaklah elok seorang jurnalis duduk manis di belakang meja, merasa puas menyiarkan rilis humas suatu instansi. Apa kata jubir polisi, misalnya, itulah yang disajikan bagi publik.

“Gampang amat kalau begitu cara kerjanya,” kata Om Hans Louk.

Selain komitmen lapangan, Om Hans yang beberapa tahun menjadi wartawan Harian Surya biro Jember amat galau kalau wartawan kecolongan informasi.

Kecolongan adalah “dosa” besar jurnalis. Pertanda dia malas mengikuti perkembangan informasi dan mengubernya sebisa mungkin.

Sebagai wartawan, Om Hans Louk tegas dan teguh pada prinsip tapi lembut cara penanganannya. Dia merupakan pimpinan, guru dan mentor yang bijaksana. Pun peduli pada rekan kerja dan anak buahnya.

Begitulah yang saya alami selama kebersamaan kami yang indah enam tahun lebih di Harian Pos Kupang.

Kendati tidak puas dengan hasil kerja wartawan, Om Hans akan menegur secara lembut. Nada suaranya datar. Tidak meledak-ledak. Kesabarannya luar biasa.

Om Hans juga tidak sekadar menegur atau kritik. Dia pasti memberikan solusi, cara, kiat untuk memperbaiki.

Saya sangat beruntung mendapat banyak ilmu dari Om Hans bersama para senior yang terlibat pada masa awal Pos Kupang, seperti Jack Embu Lato, Hila Japi, Wens John Rumung, Maxi Wolor, Harry Prabowo, dan Pius Rengka. Juga Kakak Yusran Pare.

Om Hans adalah tipe pekerja keras dan total. Tak hanya menyentuh konsep besar, Om Hans pun sangat memperhatikan detail.

Verifikasi data dan fakta adalah hal mutlak. Kerap pemilik inisial dua huruf “hl” ini mengingatkan agar jurnalis tak boleh percaya begitu saja.

Mesti bersikap skeptis demi mendapatkan sesuatu yang valid, objektif, dan bisa dipertanggungjawabkan kepada khalayak.

Prinsip kerja ala jurnalistik ini pula kiranya mewarnai pengabdian Om Hans Louk selama 15 tahun sebagai komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) level provinsi dan kabupaten.

Om Hans Louk lima tahun menjadi komisioner KPU Provinsi NTT dan 10 tahun menjabat sebagai ketua KPU Kabupaten Kupang.

Selama 15 tahun menyelenggarakan pesta demokrasi yang menguras energi, Om Hans Louk menunaikan tugas dan tanggung jawabnya secara baik. Tidak ada masalah apapun yang mencolok.

Mereka yang pernah bekerja sama dengan Om Hans Louk di KPU Provinsi NTT maupun KPU Kabupaten Kupang tentu merasakan hal itu.

Akurasi data dan informasi menjadi atensi utama Om Hans sebelum mengambil keputusan atau kebijakan. Ketenangan dan kesabarannya menghadapi tekanan selalu membuahkan hasil yang manis.

Hans Christian Louk berpulang pada Rabu 12 Mei 2021 setelah menderita sakit selama beberapa waktu.

Flobamora kehilangan seorang lagi jurnalis andal serta tokoh yang berjasa besar dalam merajut demokrasi berkualitas.

Sebelum mutasi tugas ke Bali, saya sempat ke rumah Om Hans di kawasan Tanah Merah, Oebelo, Kabupaten Kupang. Itulah pertemuan terakhir kami.

Selamat jalan senior dan mentorku.

Beristirahatlah dalam damai dan kasih Tuhan.

 

Oleh: Dion D Bata Putra

Komentar

Jangan Lewatkan