oleh

Proses Pembuatan Batu Bata Merah

-Info-415 views

Batu Bata Merah solusi perekonomian masyarakat dusun Pandang kelurahan Tangge.

Dusun Pandang Kelurahan Tangge

Kelurahan Tangge merupakan  sebuah kelurahan yang berapa di kecematan Lembor, kabupaten Manggarai Barat, Proviwnsi Nusa Tenggara Timur.

Kelurahan Tangge memiliki luas wilayah mencapai 29,00 kilometer persegi dengan keadaan geografis terdiri dari perbukitan, dataran rendah, dan sungai. Di tahun 2019 tercatat jumlah penduduk mencapai sebanyak 5.989 jiwa. Kelurahan Tangge memiliki 4 dusun, sala satu diantaranya adalah Dususn Pandang yang terletak di bagian paling selatan diantara keempat dusun ini.

Mata pencaharian utama masyarakat kelurahan Tangge adalah Petaqni sawah, Tak terkecuali dengan masyarakat dusun Pandang yang sebagian besar masyarakatnya memiliki lahan persawahan.

Walaupun demikian, masyarakat dusun Pandang memilih bekerja batu bata merah. Hal itu dikarenakan sebagaian besar tanah di dusun Pandang lebih dominan dengan tanah liat, dan sangat cocok untuk membuat batu bata merah, selain itu penghasilan batu bata merah jauh lebih besar dari penghasilan sawah. Bahkan dusun Pandang merupakan dusun dengan penghasilan batu bata merah terbanyak dan berkualitas di kabupaten Manggarai Barat.

Pelaku Ekonomi

Observasi lapangan ini dilakukan di lokasi usaha milik orangtua penulis yang juga salah satu pengusaha batu bata merah di dusun Pandang.

Sistem Produksi

Rata-rata masyarakat dusun Pandang memproduksi bata merah sebanyak 40.000–50.000 bata per bulan. Proses produksi membutuhkan tenaga kerja minimal 5–8 orang untuk menyelesaikan pekerjaan dalam 1 minggu. Proses produksi mulai dari pencetakan, pengeringan, pemerataan samping-samping bata agar kelihatan persegi panjang (penyisikan samping samping bata), pengangkutan menggunakan gerobak yang sudah didesain khusus mengangkut batu bata mentah dibawa ke sebuah wadah yang sudah disediakan (dapur), dan kemudian proses pembakaran. Proses pembakaran batu bata ini butuh waktu cukup lama, bisa sampai 3 hari 2 malam paling lambat, tergantung banyaknya bata yang dibakar.

Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain: Tanah liat, cangkul, mesin sedot air, sekam, terpal 5–15 buah,  penggali, sekop, ember 12–16 buah, air dan kayu sebanyak 2–4 dam truk tergantung banyaknya pembakaran.

Berikut uraian proses produksi:

  1. Proses produksi dimulai penggalian tanah menggunakan cangkul, sekop, penggali. kemudian tanah yang sudah digali langsung disiram air menggunakan mesin dan ditaburi sekam hingga 2–4 karung agar pada pemerosesan pencetakannya tidak patah. Selanjutnya tanah diinjak-injak agar merata dengan sekam dan disimpan selama satu malam agar tanahnya betul-betul hancur.
  2. Kemudian tanah yang sudah didiamkan semalam, diinjak-injak lagi agar tanah dan sekamnya benar-benar merata tercampur dan tanahnya benar benar hancur. Kemudian selanjutnya tanah yang sudah diinjak diambil menggunakan ember dan 4 orang yang memikul tanah menggunakan pemikul khusus karena harus memikul 2 ember berukuran 18 dibawa ke tempat pencetakan dan 2 orang bertugas mencetak.
  3. Setelah bata yang sudah dicetak memasuki setengah kering, selanjutnya dirapihkan samping samping bata tersebut atau sering disebut sisik. Setelah pemerosesan sisik ini selesai baru dijemur kembali hingga benar-benar kering.
  4. Bata-bata yang sudah benar-benar kering kemudian diangkat menggunakan gerobak dibawa ke tempat pembakaran atau sering disebut dapur.

Penghasilan

Rata rata penghasilan dari penjualan Batu Bata Merah ini mencapai Rp 35.000.000 perbulan. Penghasilan itu terdiri dari Rp 15.000.000.000 modal pembuatan bata merah sekaligus bayar tenaga kerja, dan sisahnya Rp 20.000.000.00 merupakan hasil bersih yang diterima perbulan.

Biaya Produksi

Biaya produksi yang dibutuhkan sebanyak Rp 15.000.000 digunakan membayar tenaga kerja, membeli alat-alat seperti yang sudah disebutkan di atas, makan minum, rokok karyawan dan kopi ditanggung serta membeli kayu dan membayar truk.

Kendala dan Solusi dalam Proses Pembuatan Bata

Kendala yang sering dialami dalam pembuatan bata adalah hujan. Kenapa hujan, karena saat hujan proses pengeringan sangat lambat, karena salah satu untuk cepat proses pembakaran adalah pengeringan. Apabila turun hujan maka terpal yang sudah disediakan digunakan untuk menutupi bata agar tidak basah, apabila kekurangan terpal maka bata yang sudah kering akan hancur.

Kejadian ini sering terjadi ketika pemerosesan pada musim hujan. Banyak masyarakat dusun Pandang berhenti bekerja bata pada musim hujan karena mereka beranggapan merugikan, selain prosesnya yang lama juga kendala terpal. Masyarakat dusun Pandang sebagian besar yang kerja bata akan beralih kerja sawah pada saat musim hujan tiba.

Bata yang sudah bakar tidak perlu ditutupi dengan terpal karena bata yang sudah bakar akan semakin kuat apabila kena air terus menerus bahkan ada yang sampai tumbuh lumut, saking lamanya kena air hujan.

Hujan juga ada baiknya, apabila kurangnya orang bekerja bata harga bata pun akan semakin naik, karena sedikitnya orang yang memproduksi juga disertai lambatnya pemerosesan batu batanya. Itulah penyebabnya.

 

Oleh: Irwan/Mahasiswa Prodi Manajemen Operasional Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta

Komentar

Jangan Lewatkan