oleh

Santo Joseph dan Jejak Misi di Paroki Boto

-Info-797 views

JEJAK Serikat Sabda Allah atau dalam istilah kata bahasa Latin Societas Verbi Divini (SVD) di kampung saya, Boto, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, nyaris seabad lalu hingga kini masih terlihat. Rasa syukur kepada Tuhan, pasti. Begitu juga kepada Pastor Arnoldus Jansen SVD. Bapa tuan Janssen, yang mendirikan SVD di Steyl, Belanda tahun 1875, dan oleh kasih-Nya, imam-imam SVD masuk Boto. Kerja keras umat dan imam serta biarawan-biarawati dan karya sosial di bidang kesehatan, pendidikan, dan pengembangan iman umat sejak di Boto, pantas saya apresiasi.

Mengingat-ingat kembali sosok para imam SVD perdana dan jejak karya Misi mereka sebelum tahun 1925 adalah pekerjaan yang sulit-sulit gampang. Bukan sekadar jauh dari sentuhan buku-buku atau dokumen tertulis Gereja baik di Dekanat Lembata atau di Keuskupan Larantuka, ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun, kisah karya Misi para imam SVD maupun para Suster Misi Abdi Roh Kudus atau dalam bahasa Latin: Servae Spiritus Sanctus (SSpS), lebih sering saya peroleh melalui cerita lisan orangtua di kampung.

Pastor Paroki St Joseph Boto Bernardus Bode SVD dan Pastor Johanes Knoor SVD adalah dua dari beberapa imam SVD “perdana” di Paroki Boto sebelum dan sesudah tahun 1925. Entah apa, nama baptis dua imam ini jarang saya dengar tatkala masih kecil. Kalau bukan “Bapa tuan” “Tuan”, paling juga dilanjutkan dengan nama kampung. Semisal Bapa tuan Bode atau Bapa tuan Knoor. Bapa tuan Bode adalah Pastor Paroki Boto sebelum tahun 1925.

Misionaris Asing

Sedangkan Bapa tuan Knoor adalah imam SVD yang menggantikan posisi Bapa tuan Bode sebagai Pastor Paroki Boto. Bapa tuan Bode adalah misionaris asal Belanda. Sedang Bapa tuan Knoor adalah imam dari Jerman. Dan dua nama biarawati Katolik tahun 1925: Sr Amaria SSpS dan Sr Dorotildis SSpS tak akan terhapus dari memori saya sebagai orang udik yang tumbuh dan besar di Boto, di lereng Gunung Labalekan. Sr Amaria dan koleganya, Sr Dorotildis SSpS (sedikit lebih tua) adalah biarawati dari Jerman, negeri bertabur filsuf seperti mantan Pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Emeritus Benediktus XVI (Kardinal Joseph RatzInger).

Karya besar SVD di Boto sejak dulu sudah saya tahu. Paling kurang adalah Poliklinik Santo Rafael Stasi Boto. Poliklinik ini awalnya dinamakan Rumah Sakit Lembata Barat (Rusalemba). Soso di balik kehadiran rumah sakit ini tak lain adalah Bapa tuan Knoor. Rumah sakit ini berdiri tahun 1925 hampir bersamaan dengan kehadiran gedung Gereja St Joseph Boto. Gedung Rusalemba ini dikerjakan umat di bawah pimpinan dua tukang yang piawai: Bapa Jakobus Tela Mudaj dan Bruno Tena Papang.

Bapa Kobus Tela berasal dari Kluang. Sedang tukang Bruno Tena berasal dari kampung Mingar, Desa Pasir Putih. Bruno, tukang yang “dibon” dari Misi Lewoleba, akhirnya memilih menetap di Kluang setelah menemui gadis pilihannya dari Kluang. Karena termakan usia, gedung gereja lama ini sudah rubuh. Pihak SVD juga merintus kebun Gereja, baik di kampung lama, Klua Lef Molu di bagian timur dusun Kluang, Desa Belabaja dan di Bunga Folor, arah barat dusun Boto, Desa Labalimut.

Tak Sekadar di Altar

Selain jejak perjalanan Misi SVD baik kebun Gereja maupun kolam ikan antara gedung Poliklinik St Rafael dan halaman gedung lama Gereja Boto, satu warisan yang masih tersimpan hingga saat ini yaitu kening, lonceng Gereja. Lonceng ini berbentuk tabung gas. Saya membayangkan, tabung ini dipakai para imam untuk membantu para pekerja di pastoran di Lewoleba kala itu memasak. Bisa juga tabung ini berisi oksigen, pernah dipakai membantu pasien di Rumah Sakit Bukit Lewoleba yang memerlukan tambahan pernapasan saat opname. Lonceng berbentuk tabung gas ini menggantikan lonceng sebelumnya berbentuk toa, di jaman Tuan Bode jadi pastor paroki. Lonceng berbentuk toa ini digantung di atas atap emperan Gereja lama.

Hampir setiap kali liburan, saya selalu tergoda menyambangi lonceng Gereja warisan tuan Knoor tahun 1925 itu. Beberapa waktu lalu, saya meminta bantuan adik Wilhelmus Wasa Wuwur, seorang aktivis OMK Stasi Boto. Saya meminta tolong ia mengabadikan warisan berharga karya Misi bapa tuan Bode dan bapa tuan Knoor. Lonceng itu diamankan di beranda rumah pasutri bapa guru Yohanes Pati de Ona-Mama Mathildis Take Baon. Bapa gur Yan Pati dan mama Tildis adalah aktivis sosial dan setia mengurus serikat Gerejani di kampung kami. Orangtua Yan Pati berasal dari Kluang.

Lama mengabdikan waktu dan tenaganya sebagai pendidik, guru di Lewuka. Setelah pensiun ia bersama sang isteri dan anak-anak pulang kampung. Lama ia aktif sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Paroki St Joseph Boto. Pun masih menerima tugas tambahan sebagai Ketua Dewan Stasi Boto setelah “pensiun” dari Ketua DPP Paroki Boto. Saya ingat baik tatkala pulang kampung untuk menambah koleksi sakramen, urusan administrasi dan pengakuan hingga menikah di Gereja Stasi Belang, bapa Yan adalah sosok yang saya samparin untuk kelancaran prosesi pernikahan saya dan calon isteri.

Sejak gedung lama Gereja stasi Boto kian uzur di makan, lonceng itu masih bertahan di samping kiri pintu masuk Gereja Boto. Di sampaing lonceng itu ada juga besi pendek seukuran kira-kira 10 sentimeter. Besi itu semacam pipa yang di satu ujung tanpa lobang; seperti dilas tutup. Ujung lainnya berlobang. Di ujung yang dilas, ada lobang kecil sebesar lobang seruling. Saya ingat, kalau kami anak-anak antar kayu bakar untuk Sr Amaria atau Dorotildis, suka bermain-main di samping lonceng.

Kadang kami saling dongko kemudian meniup lobang lonceng sekuat tenaga. Sesaat mulut dilepaskan dari ujung lonceng kemudian lobang kecil besi untuk pukul lonceng ditempel. Apa tujuannya? Sekadar mendengar suara angin yang keluar dari lonceng itu melewati lobang potongan besi itu dalam durasi sekitar lima menit. Saya pikir ini adalah hiburan paling asyik bagi kami anak-anak usia masih ingusan. Meski sangat berbahaya jika lonceng itu jatuh dan menimpah kaki. Kalau itu terjadi saya pastikan kaki bisa remuk.

Dari mana lonceng gereja itu datang? Pertanyaan itu tak pernah terlintas dalam pikiran saya saat itu. Pasti bapa tuan Bode atau bapa tuan Knoor bawa dari Eropa lewat kapal. Apa begitu? Kalau saat itu ditanya, jawaban saya: tentu bisa saja. Muat pake Kapal Ama, Thresi atau Siti Namun, armada laut (kalau tak salah) milik Keuskupan Larantuka kala itu. Tapi cerita beberapa orangtua, lonceng itu dipikul dari Belame, stasi Bata, kurang lebih 5 kilometer dari Boto.

Lonceng Bersejarah

Lonceng itu konon dibawa dari Lewoleba dengan oto Misi dan diturunkan di Belame. Mengapa tak dibawa terus ke Boto karena tak ada akses jalan oto. Konon, beberapa anak muda kekar Boto berdiskusi dengan tuan Knoor dan beberapa orang, termasuk bapa guru Petrus Atalema Bataona. Bapa guru Atalema ini saat itu menjabat Kepala SDK Boto. Maka ramai-ramailah mereka berjalan kaki dari Boto-Lamalewar-Bata hingga Belame. Dari Belame, lonceng itu diikat dan dipikul bergantian hingga Boto.

Perjalanan karya Misi Gereja Katolik di Lembata via SVD dan SSpS di Boto adalah perjalanan penuh syukur tak sekadar bagi umat stasi maupun paroki Boto. Namun, lebih dari itu adalah kisah perjalanan pengabdian para imam, biarawan & biarawati, suster, bruder, termasuk para guru agama Katolik yang hingga kini dialami dan dirasakan umat.

Para imam dan biarawan serta biarawati dari Benua Amerika dan Eropa, adalah kisah bagaimana Tuhan mengutus mereka untuk menunaikan tugas-tugas perutusan untuk mengajar atau mengenalkan banyak umat yang masih bertahan di gunung dan lembah hidup dan tumbuh seturut kehendak Tuhan, Sang Sabda yang hidup. Selain tentu juga para imam dan biarawan serta biarawati dalam negeri yang tak sekadar mempertaruhkan nyawa akibat akses ke setiap stasi masih sangat sulit, terutama di wilayah selatan Lembata kala itu.

Jejak Misi Gereja di stasi maupun Paroki Boto tak sekadar Rusalemba, kebun gereja atau lonceng yang kini masih terjaga dan terawat baik. Lebih dari itu benih panggilan imamat pun melimpah; paling kurang dari stasi Boto. Sr Vinsensia Pukan SSpS (Almr), Sr Erenbertha de Ona SSpS, dan Sr Maria Bernadeth Ketoj SSpS (Almr) adalah tiga biarawati generasi pertama. Berikut beberapa suster lain yang mendedikasikan dirinya untuk melayani Tuhan.

Melangkah Melayani Dunia

Sr Vinsensia lama menjadi misionaris di Roma, Italy, sebelum akhirnya menghabiskan sekitar 30 tahun lebih di Ghana, benua Afrika dan kembali ke Komunitas SSps Ruteng. Di tanah Congkasae, ia mengakhiri sisa waktu ziarahnya di bumi dan kembali ke rumah-Nya belum lama berselang. Sekadar tambahan. Ada tiga imam yang lama mengabdi di Paroki Boto dan sangat berkesan. Pater Lambertus Paji Seran SVD asal Adonara dan Pastor Nicholas Strawn SVD, asal Ilinoi, negara bagia USA. Selama 17 tahun bapa tuan Niko melayani kami. Sedang bapa tuan Lamber, tatkala beberapa saudaranya libur di Boto, mereka selalu memperkuat POL, tim bola kaki Boto. Satu lagi yaitu Romo Tarsisius Tupeng Pr. Dari bapa tuan Tarsi, saya suka melihat sampul majalah GATRA & TIME yang bagus meski tak sempat baca. Bapa tuan Tarsi kerap menjadi wasit bola atau memperkuat tim bola volley di stasi.

Tak hanya itu. Banyak putra-putri kampung kecil ini juga mengikuti jejak misionaris perdana kampung kami totaly mempersembahkan hidup dan karya mereka untuk menjadi pelayan Sabda. Entah sebagai imam, bruder, suster maupun frater. Paling kurang belasan orang. Jumlah ini belum lagi ditambah dengan stasi-stasi lain di wilayah Paroki Boto. Para pelayan Sabda ini, terutama dari Boto, menyebar tak hanya dalam negeri namun juga di manca negara.

Di Eropa terutama Roma ada empat misionaris asal stasi Boto yang berkarya Roma, kota Abadi. Ada juga yang tengah menunaikan Misi di Filipina, negeri pimpinan Presiden Rodrigo Duterte. Bagi saya, semua ini buah dari jejak pengabdian Misi Gereja Katolik melalui SVD dan SSpS di stasi bahkan Paroki St Joseph Boto yang dirahmati Tuhan yang adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Boto, kata seorang pucuk pimpinan di Lembata, seperti Taman Eden, Firdaus. Meski hingga kini menuju Boto seperti masih melewati jalan yang sulit. Jalan sengsara.

Suara Malaikat

Tapi lepas dari itu satu yang tak pernah saya lupa: lonceng Gereja. Ya, loceng atau “kening” dalam dialek kami orang Boto. Setiap pukul 06.00 pagi, 12.00, dan 18.00 WITA, lonceng biasa diketuk (dane dlm dialek kami) entah oleh Sr Amaria atau Dotothildis. Ada pemandangan menarik. Setiap lonceng dibunyikan selalu diiringin lolongan Boto, anjing kesayangan di Susteran SSpS Boto. Begitu pula tatkala lonceng berdentang seisi Boto (dusun Boto, Kluang & Belabaja) bagai kota tak berpenghuni. Senyap. Suara orang titi jagung atau nyanyi seketika senyap. “Mlekaten alanga”, bunyi Malaikat, pertanda setiap orang sembahyang Angelus, Malaikat Allah.

Tatkala umat yang mayoritas petani yang pigi kebun lewat di jalan tak jauh dari beranda Gereja lama, akan meletakkan barang-barang di atas tanah. Dorang berdoa Angelus sampai suster selesai ketuk itu lonceng. Saat saya sekolah di SDK Boto setiap jam 12.00 aktivitas belajar mengajar berhenti sejenak. Kami khusuk dalam doa Angelus dan satu lagu rohani. Paling sering lagu: Santo Joseph yang Menjaga atau Malaikat Tolong Adikmu. Nah, lonceng, kening adalah kisah hidup kami anak kampung kala itu. Kening warisan sejak bapa tuan Bode & bapa tuan Knoor, dua (kata bapa saya) turis dari luar negeri, dekat Sran (Larantuka) atau Sagu di Adonara. Selamat Pesta Santo Joseph, pelindung Paroki Santo Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka.

 

Jakarta, 19 Maret 2021
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan