oleh

Tahta, Kedudukan, dan Kuasa

-Info-454 views

Tahta. Simbol kedudukan dengan otoritas. Jabatan dengan kekuasaan. Kekuasaan terberi untuk melayani. Untuk kesejahteraan bersama (Bonum commune). Kepemimpinan yang melayani, bukan menindas.

Tahta bukan bukanlah tujuan. Ia cuma sarana. Sarana yang diperuntukkan bagi pelayanan kebaikan, kebenaran, keadilan, kebebasan, cinta kasih. Maka berada padanya mesti bijaksana. Memiliki kekuasaan, tetapi bukan berkuasa.

Memiliki otoritas, tapi bukan otoriter. Sebagai sarana, fungsinya melayani kepentingan yang lain, bukan kepentingan pribadi. Maka yang dilakukan dari tahta adalah kepemimpinan yang melayani. Bukan kekuasaan yang otoriter.

Tahta itu amanat. Maka harus amanah. Kepercayaan yang diberikan. Maka harus bertanggung jawab. Pepatah Jerman mengatakan, Gabe ist Aufgabe. Pemberian adalah tanggung jawab.

Menerima kepercayaan berarti siap melaksanakan kepercayaan itu dengan baik dan benar. Muaranya adalah kesejahteraan bersama. Bonum commune.

Karena tahta atau jabatan itu adalah kepercayaan, maka jadilah pemimpin yang bisa dipercaya. Dipercaya berarti amanah. Amanah artinya bertanggung jawab dalam pelaksanaan kepercayaan.

Bekerja dengan baik dan benar. Jujur dan tulus. Bijaksana dan adil. Hasilnya pasti berupa bonum commune. Inilah kepemimpinan yang melayani.

Tahta atau jabatan itu wewenang yang dipercayakan. Wewenang itu tidak mutlak. Ada dalam batas-batas yang diatur dalam hukum publik.

Maka wewenang mesti dijalankan dengan baik dan benar. Jika tidak maka akan terjadi sewenang-wenang. Wewenang yang disalahgunakan berubah menjadi sewenang-wenang.

Ada penindasan. Ada korupsi. Ada ketidakadilan. Ujung-ujungnya bukan bonum commune, melainkan malum commune. Bukan kesejahteraan bersama, tetapi kesengsaraan bersama.

Setiap penerima kepercayaan tertentu sesungguhnya telah berada di tahta. Tahta itu amanat untuk pelayanan bagi kepentingan umum. Perlu mawas diri agar wewenang tidak menjadi sewenang-wenang.

Perlu komitmen dan keteguhan prinsip, agar otoritas tidak berubah menjadi otoriter.

Bahaya terjadi, bila tahta dipercayakan kepada yang mabuk kuasa, apalagi yang gila kuasa. Itu namanya susah sudah datang. Buntutnya adalah kesengsaraan bersama, bukan kesejahteraan bersama.

 

(Oleh: Rm. Sipri Senda)

Komentar

Jangan Lewatkan