oleh

Hari Kemenangan Rusia

Rusia memperingati Hari Kemenangan, 9 Mei 1945 lalu. Ketika itu Nazi Jerman berhasil ditaklukan oleh Tentara Merah Uni Soviet, di garis pertahanan mereka yang terakhir, Berlin, Jerman. Tahun yang sama, Indonesia merdeka. Beberapa negara Asia-Afrika juga lepas dari belenggu penjajahan. Dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terbentuk. 1945 adalah tahun bersejarah bagi hampir seluruh umat manusia, bukan hanya bagi Indonesia.

Ceritanya begini. Sebelum pecah Perang Dunia (PD) II, negara-negara Eropa masing-masing memiliki tanah jajahan, baik di Asia-Afrika, (dan Latin Amerika). Meskipun beberapa dari negara itu sudah menganut demokrasi, mereka masih gemar mengeksploitasi bangsa lain. Mengambil kekayaan alam Asia-Afrika demi kemajuan bangsa dan negara mereka di Eropa.

Jadi jangan pernah katakan Asia-Afrika itu miskin. Tidak! Yang miskin adalah penduduknya, rakyat Asia dan Afrika, bukan tanahnya. Tak ada satupun bangsa Eropa yang datang menjajah daerah miskin, tidak ada. Mereka mau datang dan menjajah, justru karena tanah Asia-Afrika itu sangat kaya.

Orang Asia-Afrika miskin karena ratusan tahun dieksploitasi, dimiskinkan. Yang paling jahat dari semua itu adalah, orang Asia-Afrika kemudian mengenal politik segregasi, diskriminasi antar suku bangsa sendiri. Saling mencurigai, saling tak percaya. Dan hingga kini, politik Asia-Afrika adalah politik elit yang mengkhianati rakyatnya. Kita bahas ini nanti.

Nah, ketika Nazi Jerman berkuasa, ia tak hanya menjajah Afrika, tapi mulai mencaplok wilayah tetangga, sesama kulit putih Eropa. Sampai pada puncaknya, negara-negara Eropa yang selama ini terkenal sebagai penjajah pun, kini berstatus terjajah oleh Nazi. Banyak dari negara Eropa terjajah itu lari menyelamatkan diri.

Setidaknya 10 negara mengungsi ke Inggris, bagian Eropa Barat yang tepisah oleh lautan. Termasuk Belanda. Di tanah Belanda, dikabarkan banyak orang Belanda yang tak tahan hidup dalam jajahan Nazi, beberapa di antara mereka lakukan bunuh diri atau percobaan bunuh diri di dalam penjara.

Di tanah Belanda, pemuda Jawa, pelajar Ambon, dan orang Indonesia lainnya menjadi pejuang, turut membebaskan kota-kota Belanda dari tangan Nazi Jerman. Dimulai dari Leiden. Itu mengapa di Belanda banyak orang Indonesia, termasuk kuliner Nusantara.

Di tanah Asia, Belanda kehilangan cengkeraman terhadap Indonesia. Posisinya diganti Jepang. Jepang menguasai banyak wilayah jajahan yang sebelumnya dijajah Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol, di kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, ketika PD II berakhir, turut berakhir pula cerita tentang kolonisasi yang usianya ratusan tahun lamanya. Negara Eropa butuh membangun kembali negaranya dari puing-puing akibat perang. Beberapa dari negara Eropa berusaha merebut kembali jajahan mereka, sayangnya banyak yang gagal, apalagi sudah ada PBB yang siap menengahi.

Jika Nazi tak menjajah Belanda, mungkin sampai kini Indonesia masih di bawah kolonialisme Belanda. Jika Tentara Merah tak mengalahkan Nazi Jerman, mungkin Indonesia masih tetap berada dalam situasi menyedihkan di bawah Jepang.

Oleh karena itulah, adrenalinku turut menyala, menyaksikan parade di Moskow ini dari dekat. Dari peristiwa inilah, tak lama kemudian Bangsa Indonesia diproklamirkan sebagai sebuah nation-state oleh Soekarno-Hatta. Inilah yang kusebut sebagai rentetan kemenangan. Satu peristiwa di suatu wilayah, membawa dampak di belahan bumi lainnya. Dunia saling terikat, terkait satu dengan lainnya.

Dari Jalan Arbat dan Pusat Kota, kami berpindah ke Stasiun Bellaruskaya. Di sana kami melihat kereta yang digunakan oleh Uni Soviet menjemput Tentara Merah dari Berlin. Mereka pulang penuh kemenangan. Penuh tangis, peluk, dan ciuman. Tak lama lagi, di Bulan Agustus nanti, Indonesia turut merayakan kemerdekaan.

Kami senang, karena bangunan, senjata, kereta, semuanya yang bersejarah dirawat dengan baik di sini. Kereta itu masih bisa mengeluarkan asap dan meniup peluit panjangnya, masih bisa berfungsi. Betapa luar biasa mereka yang merawatnya.

Aku berharap, di Indonesia ada kerinduan, ada kepedulian terhadap cagar budaya, terhadap benda bersejarah, terhadap nama jalan dan wilayah, juga terhadap apa-apa yang tertulis di buku sejarah.

 

Moskow, 9 Mei 2021
Oleh: Joaquim Lede Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan