oleh

Galang Kerja sama Tingkatkan Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Novel Coronavirus

-Kesehatan-1.095 views

Kemunculan wabah pneumonia yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV) menimbulkan kekhawatiran dan perhatian serius dari hampir semua masyarakat dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 31 Desember 2019 menerima laporan pertama kali kasus ini di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat Cina (RRC). WHO mencatat terus terjadi penyebaran dan peningkatan kasus pneumonia akibat 2019-nCoV di berbagai penjuru dunia. Di daratan Cina sendiri, sudah dikonfirmasi terjadi 2.463 kasus, dan data terbaru pada 26 Januari 2020 pukul 9:00 WIB, dilaporkan sudah terjadi setidaknya 80 kematian akibat kasus ini. Jonathan Read, seorang peneliti dari Inggris meramalkan bahwa diperkirakan jumlah ini akan meningkat dalam kurun waktu 14 hari, yaitu mencapai 250.000 jiwa terinfeksi pada tanggal 4 Februari 2020. Coronavirus (CoV) sendiri ialah keluarga virus yang menyebabkan penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV). Novel Coronavirus (nCoV) merupakan strain baru yang diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Gejala umum jika terinfeksi virus tersebut ialah demam, batuk, sesak nafas hingga sulit bernafas. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut parah, gagal ginjal hingga kematian.

Kota Wuhan merupakan kota pelabuhan terbesar ketujuh di daratan Cina. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat industri baja dan menjadi andalan infrastruktur nasional Negeri Cina. Strategisnya pengaruh Kota Wuhan dalam perekonomian Cina, bahkan dunia, menyebabkan ribuan puluhan ribu orang hilir mudik masuk ke kota dengan populasi 11 juta tersebut, dan turut pula menjelaskan mengapa virus ini kemudian menyebar begitu cepat ke berbagai penjuru dunia. Hingga 25 Januari 2020, tercatat virus ini sudah menyebar ke berbagai wilayah dunia, yaitu Hong Kong (5 kasus), Thailand (5 kasus), Perancis (3 kasus), Malaysia (3 kasus), Singapura (3 kasus), Taiwan (3 kasus), Jepang (2 kasus), Macau (2 kasus), Korea Selatan (2 kasus), Amerika Serikat (2 kasus), Vietnam (2 kasus), Australia (1 kasus), dan Nepal (1 kasus). Tidak bisa dipungkiri lagi, luasnya penyebaran merupakan konsekuensi dan harga mahal dari kesepakatan globalisasi.

Globalisasi dalam Kesehatan Masyarakat: Manfaat dan Ujian

Ungkapan Clinton tentang globalisasi sebagai world without wall (dunia tanpa dinding) atau Tony Blair yang mengatakan globalisasi adalah hal yang inevitable dan irresistible kini terbuktikan dalam konteks kesehatan. Tidak berdayanya sebuah negara membentengi diri dari berbagai ancaman penyakit menular mulai dari SARS, Flu Burung, Flu Babi, dan kini Pneumonia akibat 2019- nCoV memperlihatkan dunia yang kita huni memang tak berdinding. Kedahsyatan transfer risiko sebuah penyakit bagai tak terhindar dan tak bisa dihentikan. Kesepakatan membangun kampung dunia (global village) membuat setiap negara tidak dapat lagi mencegah arus lalu lintas dari dan ke luar negara. Pengertian tersingkat globalisasi versi Kate Galbraith dari The Economist sebagai “crossing borders” adalah sebuah peringatan bagi kita, saat di mana tidak ada lagi “batas antarnegara”, maka kemampuan untuk menghadapi berbagai transfer risiko atau potensi bahaya seperti transmisi penyakit-penyakit menular mutlak harus dimiliki.

Berkembangnya industri pariwisata dan meningkatnya arus wisatawan membawa potensi kontak infeksi dan lalu lintas mikrobiologi ke manca negara setiap hari. Wabah kolera di Peru, yang menyebar dalam waktu singkat ke seluruh benua Amerika di awal tahun 1990 adalah contoh untuk itu. Sejak meratifikasi konvesi WTO dengan Undang-Undang Nomor 7 tahun 1984 tentang Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia, Indonesia terikat secara hukum dengan ketentuan yang berlaku. Artinya Indonesia telah resmi menjadi bagian dari negara-negara yang menyepakati peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer atau bentuk-bentuk interaksi lain dengan segala konsekuensnya. Tidak hanya manfaat dan keuntungan yang bisa diraih yang perlu mendapat perhatian pemerintah, kapasitas untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak negatif termasuk dalam menghadapi ancaman globalisasi transfer risiko penyakit juga menjadi batu ujian bagi pemerintah.

Koordinasi Strategis Antarnegara dalam Menghadapi Transfer Risiko Penyakit

Meski WHO hingga saat ini belum menetapkan kasus coronavirus sebagai kegawatdaruratan kesehatan global, namun dampak dari kesepakatan globalisasi selazimnya diselesaikan mendunia pula, atau setidaknya secara regional. Julio Frenk dan Octavio Gomez-Dantes dalam sebuah pertemuan kesehatan dunia mengemukakan bahwa upaya meningkatkan kesehatan adalah aktivitas global universal. Oleh karenanya harus dibangun kesadaran dan kesiapan melakukan aktivitas internasional untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh umat dunia dengan karakter “exchange, evidence, and empathy”. Dalam aspek exchange, negara-negara harus memiliki kesediaan untuk selalu bertukar pengalaman menghadapi masalah yang terjadi, dalam hal ini kebaruan perkembangan pencegahan dan penanganan kasus coronavirus. Sementara aspek evidence, yang mempersyaratkan data dan bukti ilmiah sebagai dasar penetapan alternatif tindakan, diperlukan sebagai pondasi kebijakan publik. Pada aspek empathy yang mempertautkan relasi dan interaksi antar manusia dalam nilai-nilai humanisme, perlu disampaikan terutama dalam posisi Indonesia yang bertetangga dengan negara-negara terdampak coronavirus.

Upaya yang dilakukan Indonesia saat ini ialah dengan menyiapkan termoscaner di 135 pintu negara baik udara, laut, maupun darat sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. Anung Sugihantoro, M.Kes. untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Berbagai macam upaya serupa juga dilakukan oleh negara lain dengan melakukan skrining khususnya kepada mereka yang baru saja tiba dari wilayah China, bahkan Korea Utara melakukan pemblokiran terhadap turis Cina.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan pengumpulan dan pengujian beberapa ketegori spesimen klinis termasuk tiga jenis spesimen (pernafasan atas, pernafasan bawah dan spesimen serum) serta jenis spesimen tambahan (seperti feses, urin) untuk dapat meningkatkan kemungkinan mendeteksi infeksi 2019-nCoV. Spesimen tersebut harus dikumpulkan sesegera mungkin setelah Patient Under Investigation (PUI) diidentifikasi terlepas dari waktu onset gejala. Sebab hanya melakukan skrining saat tiba di bandara/entry screening saja tidak menjadi jaminan terhadap kemungkinan masuknya virus baru tersebut.

Kesiapan Pemerintah Indonesia dan Rekomendasi IAKMI

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Letnan Jendral TNI (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto Sp. Rad(K), menegaskan kesiapan pemerintah untuk mengantisipasi dan mengatasi penyebaran penyakit pneumonia akibat 2019-nCoV dengan baik. Ia menekankan bahwa Kementerian Kesehatan dan seluruh jajaran terkait bekerja aktif 24 jam untuk mencegah masuknya virus 2019-nCoV ke Indonesia, baik melalui jalur udara, laut, maupun darat. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg. R. Vensya Sitohang, M.Epid menjelaskan bahwa pemerintah sudah menyiapkan 100 rumah sakit yang ditetapkan sebagai rujukan untuk emerging disease, termasuk kasus ini. Berbagai logistik pun telah disiapkan, berupa peralatan skrining, masker, dan alat pelindung diri lainnya di seluruh pintu masuk Indonesia, terutama di 19 daerah yang menerima penerbangan langsung dari Cina.

Siaran pers Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM yang disampaikan Minggu, (26/1/2020), dalam hal ini menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi yang terjadi. IAKMI mendorong upaya amat serius pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman 2019-nCoV, termasuk menggalang kerja sama dan kesepakatan dengan Badan Internasional. Meskipun saat ini Cina telah melakukan larangan pergi bagi seluruh penduduknya guna menghentikan penyebaran virus, dan di Indonesia saat ini telah dibekali termoscaner sebagai modal screening di seluruh pintu masuk namun hal itu tidak menjadi jaminan terhadap kemungkinan masuknya virus yang dibawa oleh turis.

IAKMI mengajak para ahli kesehatan masyarakat untuk memonitor dan mengevaluasi kebijakan pemerintah terkait kasus ini. Sementara itu, diharapkan bagi pemberi layanan kesehatan dan tenaga kesehatan untuk selalu waspada dan turut mengedukasi masyarakat terkait virus ini. IAKMI terus menghimbau kepada masyarakat untuk mengikuti rekomendasi terkait pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran coronavirus.

Tindakan kewaspadaan masyarakat antara lain; mencuci tangan dengan sabun selama sedikitnya 20 detik, jika tidak tersedia sabun dan air dapat menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol; hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dicuci; hindari kontak dekat dengan orang yang sakit (menunjukan gejala terinfeksi); tinggal di rumah ketika sedang sakit, ketika batuk/bersin tutupi dengan tisu dan buang ke tempat sampah; bersihkan dan disinfeksi barang-barang yang sering disentuh; serta memasak daging dan telur hingga matang. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan