oleh

39.532 Kasus Covid-19 Hari Ini di Indonesia, NTT Peringkat Tiga

-Kesehatan-1.987 views

RADARNTT, Jakarta – Tim Satgas Covid-19 Indonesia mengumumkan penambahan 39.532 kasus baru Covid-19 pada Jumat, 6 Agustus 2021. Total kasus 3.607.863.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merangsek naik ke posisi tiga besar angka kasus baru hari ini sebanyak 3.598.

Secara nasional Kasus Aktif 507.129 (-11.181), Sembuh 2.996.478 (+48.832), Meninggal dunia 104.256 (+1.881).

Berikut rincian jumlah kasus baru hari ini per provinsi:

– Jabar 4.580
– Jatim 4.490
– NTT 3.598
– Jateng 3.022
– Riau 2.205
– Jakarta 2.185
– Sumut 2.045
– Kaltim 1.815
– DIY 1.639
– Sulteng 1.566
– Bali 1.239
– Sulsel 1.166
– Banten 1.003
– Sumbar 925
– Kalsel 906
– Sumsel 897
– Babel 862
– Lampung 696
– Sulut 621
– Kepri 512
– Kaltara 509
– Kalbar 423
– Bengkulu 402
– Aceh 383
– Jambi 369
– Kalteng 286
– Papua 212
– NTB 202
– Sultra 201
– Malut 189
– Gorontalo 157
– Sulbar 143
– Papua Barat 71
– Maluku 13

Melihat kondisi di provinsi NTT saat ini yang kian meningkat kasus baru, dokter ahli penyakit dalam dari RSUD TC Hillers Maumere, Asep Purnama menekankan pentingnya meningkatkan Test, Tracing, dan Treatment (3T).

“3T sangat penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular, termasuk Covid-19,” tegasnya.

Dengan melakukan Test, maka kita akan mengetahui siapakah yang sudah tertular Covid-19 dan mana yang belum. Untuk yang sudah tertular (penyintas Covid-19) segera diobati dan diisolasi (Treatment), supaya sembuh dan tidak menularkan ke orang lain.

Selain diobati dan diisolasi, penyintas Covid-19 dilakukan penelusuran lebih lanjut, menanyakan siapa saja yang telah kontak erat, untuk dilakukan test Covid-19. Jika dilakukan test hasilnya positif, maka dilakukan ritual yang sama, yaitu pengobatan dan isolasi. Dan seterusnya 3T dilakukan dengan tujuan utama memutus rantai penularan Covid-19.

Menurut dr. Asep Purnama, pelaksanaan 3T bisa dianalogikan seorang nelayan yang menjala ikan.

Misalnya seorang nelayan biasanya menurunkan jalanya 50 kali per hari. Dan kemudian karena sedang tidak enak badan, sang nelayan hanya menurunkan jalanya 25 kali sehari. Tentu jumlah ikan yang tertangkap akan menurun.

“Jika kita mengurangi test Covid-19 per hari, tentu jumlah kasus Covid-19 yang terdeteksi akan lebih sedikit,” kata dokter Asep Purnama.

Ia menganalogikan, seorang nelayan bisa memperbesar ukuran jaring-jaring jala-nya sehingga “ikan” yang kecil kecil tidak tertangkap. Otomatis jumlah ikan yang tertangkap akan menurun, karena hanya akan menangkap ikan yang besar-besat saja. Ikan yang kecil akan lolos dari tangkapan jala.

“Idealnya jika ada satu penyintas Covid-19, harus di-tracing (ditelusuri) dan minimal di test kontak eratnya sebanyak 20 orang. Jika kita malas melakukan tracing, dan hanya memeriksa kurang dari 20, tentu jumlah kasus Covid-19 yang terdeteksi akan rendah,” jelasnya.

Jika kita mau menurunkan kasus Covid-19 di suatu daerah, maka caranya mudah. Kurangi test Covid-19, dan jangan di-tracing jika ada kasus Covid-19 yang baru.

Analoginya, sang nelayan pasti akan sedikit mendapatkan ikan jika jarang menebar jala dan memperbesar ukuran jaring-jaring jalanya. Bukan berarti samudera tempat sang nelayan menjala ikan tidak mengandung ikan, tetapi karena sekali lagi- sang nelayan mengurangi frekuensi menebarkan jala-nya dan memperbesar jaring-jaring jala-nya.

Data apa yang bisa membantu sang nelayan tahu bahwa suatu samudera mengandung banyak ikan?

Dari jumlah ikan yang tertangkap setiap kali menebar jala-nya ke samudera. Jika sekali menebar jala, langsung didapat banyak ikan, maka bisa diduga bahwa komunitas ikan di samudera tersebut cukup banyak.

Analoginya sama dengan Positivity Rate (PR) dalam pemeriksaan Covid-19. Jika prosentase hasil positive warga yang ditest Covid-19 sangat tinggi, maka patut diduga, masih banyak warga lain di lokasi yang sama sudah tertular Covid-19.

Dokter Asep menjelaskan, kalau PRTest Covid-19 masih tinggi (masih di atas 5-10 persen), maka kita harus tetap waspada dan segera berupaya meningkatkan jumlah testing. Untuk menemukan mereka yang sudah tertular Covid-19 tapi tidak bergejala atau bergejala ringan.

“Kenapa mereka belum ditemukan? Karena jumlah testing dan tracing-nya masih terlalu rendah,” jelasnya.

Kenapa ikannya sedikit ditangkap? Karena frekuensi nelayan menebar jala sangat sedikit dan jala yang ditebar jaring-jaringnya terlalu lebar sehingga tidak bisa menangkap ikan yang kecil. Tidak bisa menemukan penyintas Covid-19 yang tidak bergejala atau bergejala ringan.

Bagaimana kita tahu bahwa ikan di samudera memang sudah sedikit sekali?
Jika sang nelayan sudah meningkatkan frekuensi menebar jala, menggunakan jaring-jaring jala yang sangat kecil diameternya dan sangat sedikit ikan yang didapat.

Bagaimana kita tahu bahwa jumlah kasus Covid-19 di suatu daerah sudah sangat sedikit?

1. Jumlah warga yang di-test C19 minimal 1 orang/1000 penduduk/minggu (WHO)

2. Jumlah warga yang di tracing setiap kali ada kasus baru Covid-19 (kasus index), minimal 20-30 orang

3. Jumlah warga yang positive Covid-19 setelah ditest Covid-19 (Positivity Rate), di bawah 5 persen.

Jumlah warga yang di-test Covid-19 harus terus ditingkatkan, jika PR meningkat. Jika PR mingguan <5 persen, jumlah test sebanyak 1/1000 penduduk/minggu.

Jika PR mingguan 5-14 persen, jumlah test sebanyak 5/1000 penduduk per minggu.

Jika PR mingguan 15-24 persen, jumlah test sebanyak 10/1000 penduduk per minggu.

Jika PR mingguan diatas atau sama dengan 15 persen, jumlah test sebanyak 15/1000 penduduk per minggu.

Ia mengimbau masyarakat agar jangan takut jika tim tracing menelusuri dan melakukan test Covid-19. “Ayo tetap dukung 3T dalam rangka memutus mata rantai penularan Covid-19,” ajak dr. Asep Purnama. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan