oleh

Kabar Kandidat Vaksin COVID-19, Vaksin Merah Putih Karya Anak Bangsa

RADARNTT, Jakarta – Indonesia tidak hanya menunggu impor bahan baku maupun vaksin jadi dari luar negeri, tapi juga berupaya melakukan riset Vaksin Merah Putih.

Lembaga penelitian dan universitas yang turut melakukan penelitian telah menunjukkan kemajuan dalam penemuan kandidat vaksin merah putih dalam waktu dekat.

Vaksin Merah Putih adalah vaksin yang dikembangkan berbasis virus COVID-19 yang beredar di Indonesia, oleh beberapa pusat penelitian di Lembaga Eijkman, ITB, UI, Unair, dan sebagainya.

Perkembangannya sampai saat ini sesuai target. Di Maret atau paling lambat April 2021 kandidat vaksin akan diserahkan ke PT. Bio Farma untuk diuji pada tahap selanjutnya

Tahap selanjutnya merupakan langkah-langkah yang harus dilakuan untuk menguji keamanan dan khasiat vaksin: dilakukan uji pra klinik dengan hewan percobaan, dan uji klinik I, II, dan III.

Semua uji klinik itu harus ditempuh untuk kemudian pengajuan untuk mendapatkan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)

Pengembangan vaksin Merah Putih merupakan wujud kemandirian dan penting untuk masa depan bangsa Indonesia.

Sebelumnya, dilansir antaranews.com, lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan pengembangan vaksin Merah Putih sudah mencapai kemajuan 60 persen dari skala laboratorium.

“Kalau dihitung persentasenya sekitar 60 persen ya dalam arti kita masih dalam proses untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi protein rekombinan yang sudah kami desain, itu akan dihasilkan oleh sel mamalia maupun sel ragi,” kata Kepala Eijkman Amin Soebandrio kepada ANTARA, Jakarta, Rabu (6/1/2021).

Amin menuturkan sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan, bibit vaksin Merah Putih akan diserahkan ke PT Bio Farma dalam kurun waktu hingga Maret 2021.

Vaksin Merah Putih yang dikembangkan Eijkman berbasis subunit protein rekombinan dan menggunakan isolat virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang bersirkulasi di Indonesia.

Amin mengatakan jika protein rekombinan berhasil diperoleh dari sistem ekspresi, maka dapat dilanjutkan ke tahap uji praklinis pada hewan.

“Setelah (mengisolasi dan mengkarakterisasi protein rekombinan) itu selesai maka akan dilakukan uji pada hewan dan setelah itu baru diserahkan ke Bio Farma,” tuturnya.

Menurut Amin, uji pra klinis pada hewan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan. (KPCPEN/TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan