oleh

Pandemi Fenomena Yo-yo

Pandemi ini fenomena yo-yo. Kalau prokes dan PPKM diperketat akan turun kasus dan kematiannya. Kalau dilonggarkan, akan naik lagi. Begitu terus cycle-nya.

India yang sudah turun kasusnya di bawah 20 ribu bulan lalu, sekarang naik lagi 40-an ribu. Karena prokes dan pembatasan pergerakan dilonggarkan.

Sampai kapan? Fenomena yo-yo ini akan terus terjadi hingga tercapai suatu steady state condition yaitu herd immunity.

Sepanjang belum mencapai herd immunity, sebaiknya jangan euforia melihat angka kasus atau kematian menurun.

Tetap disiplin prokes (5M) sebagai Kebiasaan Normal Baru kita, dukung 3T, dan Vaksinasi dengan cakupan seluas-luasnya dan secepat mungkin.

Kenapa vaksinasi harus serentak (cakupan diatas 70 persen dalam waktu kurang dari 6 bulan), karena diduga setelah 6 bulan, antibodi kita yang sudah divaksin menurun dan seseorang menjadi rentan tertular Covid-19 lagi.

Meskipun cakupan sudah 70 persen, tapi jika 30 persennya divaksin lebih dari 6 bulan yang lalu, herd immunity tidak tercapai. Mereka yang sudah divaksin lebih dari 6 bulan (sebanyak 30 persen) harus dikeluarkan dari cakupan, sehingga cakupan tinggal 70-30 = 40 persen. Herd immunity tidak tercapai.

Oleh karena itu diperlukan vaksinasi serentak.

Trend kasus mulai menurun. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Kasus semakin menurun. Tentu kita syukuri hasil kerja keras kita semua.

Ini bukti yang menguatkan kita semua, bahwa kita bisa “mengendalikan” Covid-19.

Selanjutnya bagaimana?

Kasus Civid-19 sangat dinamis. Potensi naik lagi jelas bisa terjadi. Oleh karena itu, kita jaga agar tetap terkendali dengan melakukan tiga hal berikut:

Pertama, Disiplin melakukan 5M. Jadikan 5M sebagai kebiasaan baru.

Kedua, Pemerintah giat melakukan 3T. Kita mendukung pelaksanaan 3T. Jangan menolak di tes Covid-19 jika kita kontak erat dengan kasus Covid-19.

Tujuan utama 3T adalah memutus mata rantai penularan. Caranya dengan mendeteksi sedini mungkin kasus baru Covid-19. Semakin cepat dideteksi, maka semakin cepat diisolasi dan ditangani.

Sehingga penyebaran bisa dihentikan secepatnya, sebelum meluas. Seperti kebakaran, semakin cepat diketahui dan dipadamkan, maka lebih mudah ditangani.

Tujuan 3T lainnya adalah sebagai alat untuk evaluasi apakah 5M memang benar-benar dilakukan atau hanya sekedar dilakukan. Apakah himbauan benar-benar dipatuhi atau hanya sekedar angin lalu.

Jika 3T menemukan masih banyak yang positif Covid-19, artinya 5M belum dilakukan dengan disiplin dan benar. Maka, langkah selanjutnya adalah melakukan edukasi ulang. Jangan hanya dengan menghimbau saja, tapi harus senantiasa mengevaluasi apakah himbauan sudah dilaksanakan atau belum. Kalau belum, maka perlu diulang kembali dengan intensitas yang lebih masif atau kalau perlu dengan strategi edukasi yang baru.

Ketiga, Vaksinasi serentak dengan cakupan sebanyak-banyaknya.

Jadi, yang terpenting saat ini CEGAH KASUS BARU (dengan 5M dan Vaksinasi) dan jika sampai ada kasus baru, HARUS BISA MENDETEKSI SEDINI MUNGKIN (dengan 3T).

Kasus sedikit, maka tracing (telusur) kontak erat harus benar-benar dilakukan dengan cepat. Dalam waktu 24 jam, harus sudah dilakukan telusur dan testing kontak erat, minimal sebanyak 15 orang. Begitu terlambat, maka penularan akan semakin meluas dan semakin sulit dikendalikan.

Ujian terdekat kita adalah menghadapi perayaan Natal 2021 dan Tahun baru 2022. Apakah kita mampu tetap mengendalikan kasus Covid-19? Atau seperti India, yang kasus Covid-19 kembali meningkat setelah adanya pelonggaran pesta panen.

Semoga kita bisa lulus menghadapi ujian Natal dan Tahun Baru 2022. Amin

Tetap semangat. Bersama kita bisa.

 

Oleh: Asep Purnama

Komentar

Jangan Lewatkan