oleh

70 Kandidat Vaksin Corona, Tiga Masuk Tahap Uji Klinis

-Kolom-317 views

Sampai dengan saat ini sudah ada 70 kandidat vaksin corona potensial yang sedang diupayakan untuk dikembangkan. Tiga di antaranya bahkan telah mencapai tahap uji klinis. Biasanya tahap uji coba vaksin sampai dapat diaplikasikan dan dipasarkan menelan waktu 10-15 tahun, namun beberapa laboratoroium perusahaan terkemuka dunia berusaha memangkasnya menjadi kurang dari setahun.

Pengembangan vaksin biasanya dapat memakan waktu yang cukup lama. Dalam proses yang panjang tersebut, peneliti juga diharuskan untuk menguji vaksin kepada hewan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan apakah vaksin aman dan efektif untuk mencegah penyakit.

Kandidat vaksin yang sudah paling jauh pengembangannya adalah buatan CansSino Biologics Inc., Hong Kong, dan Beijing Institute of Biotechnology. Sejak mendapatkan persetujuan pemerintah China untuk melakukan uji klinis pada manusia bulan Maret lalu, Vaksin hasil kolaborasi kedua institusi ini telah mencapai fase kedua. Sementara itu, diungkapkan dalam dokumen WHO yang dirilis pada 11 April 2020, dua vaksin lainnya yang juga sudah mulai melakukan uji klinis pada manusia adalah vaksin buatan Moderna Inc. dan Inovio Pharmaceuticals Inc. Inovio baru memulai pengujian klinis fase 1 pada manusia beberapa minggu lalu, setelah menunjukkan data respons imunitas yang potensial dalam uji praklinis terhadap hewan.

Melansir dari AFP, Senin (16/3/2020), vaksin yang disebut mRNA-1273 itu dikembangkan oleh para ilmuwan dan kolaborator National Institutes of Health (NIH) AS di perusahaan bioteknologi Moderna yang berbasis di Cambridge, Massachusetts. Vaksin yang dikembangkan menggunakan teknik baru untuk membuat mRNA yang mirip dengan mRNA yang ditemukan di SARS-CoV-2. Secara teori, mRNA buatan akan bertindak sebagai instruksi yang mendorong sel manusia untuk membangun protein yang ditemukan di permukaan virus.

Protein tersebut nanti diharapkan akan memicu respon imun protektif. Merancang vaksin dengan cara ini memungkinkan Moderna untuk mempercepat proses pengembangan. Namun perusahaan memang belum pernah menguji teknologi ini sebelumnya.

Uji coba terhadap hewan sebenarnya juga telah dilakukan. Ahli virologi di National Intsitute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) memberikan vaksin eksperimental pada tikus percobaan.

Menurut Barney Graham, Direktur Pusat Penelitian Vaksin NIAID, tikus-tikus standar laboratorium itu tak dapat terjangkiti virus corona seperti manusia. Sehingga harus membiakkan hewan pengerat yang rentan untuk memulai eksperimen.

Dalam pembuatan obat untuk Covid-19, para ilmuwan hanya perlu melanjutkan kembali pengembangan obat untuk virus corona lain, yaitu SARS dan MERS, yang sempat terhenti karena wabahnya berakhir. Kandidat obat Covid-19 yang terdepan adalah remdesivir yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Gilead. Riset menunjukkan bahwa obat ini dapat memblokir SARS dan MERS pada sel dan tikus. (Florian Krammer; Profesor & pakar pengembangan vaksin Icahn School of Medicine at Mount Sinai).

Brikut ini daftar perusahaan Farmasi yang sedang berkonsentrasi dalam pengembangan vaksin corona.

1. Gilead Sciences (California), Gilead Sciences membuat remdesivir, pengobatan intravena yang digunakan untuk mengobati 1 pasien yang terinfeksi di Amerika Serikat. Pengobatan fase 3 ini rencananya akan dilakukan penelitian lanjutan untuk pasien di Asia. Akhir bulan ini, Gilead akan mengetes sekitar 1.000 orang yang terkena penyakit Covid-19 untuk memastikan apakah dosis remdesivir yang diberikan beberapa kali bisa menghentikan infeksi.

2. Moderna Therapeutics (Massachusetts), Perusahaan farmasi Moderna Therapeutics membuat rekor pembuatan vaksin tercepat dengan nama mRNA-1273. Vaksin ini dibuat hanya 42 hari setelah virus SARS-CoV-2 ditemukan.

Dalam pembuatan vaksin Covid-19, perusahaan ini bekerja sama dengan National Institutes of Health. Percobaan akan dimulai bulan depan.

Jika mRNA-1273 terbukti aman, dua organisasi ini akan melanjutkan penelitian kepada ratusan pasien lainnya untuk membuktikan bahwa vaksin tersebut melindungi diri dari infeksi SARS-CoV-2.
Messenger RNA (mRNA) didesain untuk tubuh memproduksi antibody sebagai perlawanan terhadap virus. Moderna Therapeutics mengantongi izin dari Food and Drug Administration (FDA) untuk obat-obatan berbasis mRNA.

3. CureVac (Jerman), Sama seperti Moderna, CureVac menggunakan mRNA buatan manusia. Layaknya Moderna juga, CureVac mengantongi izin dari Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). CureVac mengatakan akan siap mengetes vaksin Covid-19 beberapa bulan mendatang. Dua perusahaan ini juga menginisiasi Mobile mRNA Manufacturing Technology, yang secara teoritis bisa membuat vaksin di wilayah mana saja yang terkena epidemi.

4. GlaxoSmithKline (Inggris), GlaxoSmithKline adalah salah satu perusahaan produsen vaksin terbesar di dunia. Perusahaan ini bekerja sama, dalam hal ini meminjamkan teknologi pembuatan vaksinnya, pada perusahaan farmasi berbasis di Chengdu yaitu Clover Biopharmaceutials

5. Inovio Pharmaceuticals (Pennsylvania), Inovio telah menghabiskan lebih dari 4 dekade terakhir untuk membuat obat-obatan berbasis DNA. Perusahaan ini percaya bahwa DNA juga bisa digunakan sebagai vaksin penangkal virus SARS-CoV-2.
Inovio Pharmaceuticals bekerja sama dengan perusahaan asal China, Beijing Advaccine Biotechnology, membuat vaksin yang disebut INO-4800. Kedua perusahaan tersebut akan melakukan uji klinis akhir tahun ini.

6. Johnson & Johnson (New Jersey), Johnson & Johnson sebelumnya juga cepat tanggap terhadap virus Ebola dan Zika. Perusahaan ini sedang dalam tahap pengembangan vaksin yang memperkenalkan manusia dengan virus yang sudah tidak aktif. Hal tersebut dinilai akan meningkatkan imun tanpa infeksi terlebih dahulu.

7. Regeneron Pharmaceuticals (New York), Regeneron dikenal luas karena kemampuannya membuat antibodi manusia dari gen tikus. Perusahaan tersebut saat ini tengah mengembangkan antibodi dari tikus yang diinfeksi SARS-CoV-2 dalam jumlah sedikit.

Jika semuanya berjalan lancar, Regeneron akan siap uji klinis terhadap manusia akhir musim panas ini.

Terakhir kalinya Regeneron melakukan pengembangan yang sama yakni pada 2015 yakni menghadapi virus Ebola. Hasilnya adalah antibodi yang dua kali lipat lebih kuat untuk para pasien Ebola.

8. Sanofi (Paris), Sanofi sebelumnya berhasil mengembangkan vaksin untuk yellow fever dan diphtheria. Perusahaan ini bekerja sama dengan BARDA untuk mengambil DNA dari virus SARS-CoV-2 itu sendiri, dan menggabungkannya dengan material genetik dari virus yang tidak mematikan.

9. Vir Biotechnology (San Francisco), Vir Biotechnology adalah perusahaan yang fokus pada penyakit menular. Mereka menggunakan antibodi dari orang yang pernah menderita SARS, kerabat dekat Covid-19, dan mengembangkannya untuk mengobati pasien Covid-19.

Vir Biotechnology bekerja sama dengan perusahaan farmasi China yaitu WuXi Biologics, dan sudah dalam tahap awal pengembangan. Belum diketahui target maupun kapan obat Covid-19 akan diuji klinis.

 

Oleh: Lazarus Atamau

(Diolah dari berbagai sumber)

Komentar

Jangan Lewatkan