oleh

Akibat Skandal Uang, Hasto Kristiyanto Jadi Momok Jelang Penetapan Caleg Terpilih

-Kolom-776 views

Nama Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, tidak hanya disebut-sebut terlibat dalam skandal suap PAW Harun Masiku untuk menggusur Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Riezky Aprilia, akan tetapi juga muncul dalam kasus Caleg PDI Perjuangan lainnya seperti Marlon Simanjuntak yang merupakan caleg DPRD terpilih Kabupaten Kampar, yang kehilangan haknya menjadi Anggota DPRD karena tidak sanggup menyediakan uang menjelang dilantik.

Begitu juga nasib Caleg PDI Perjuangan Aleksius Akim, ia tidak hanya kehilangan haknya untuk menjadi Anggota DPR RI dari Dapil Kalimantan Barat (Kalbar) I akan tetapi juga ia harus kehilangan keanggotaannya di PDI Perjuangan sebagai akibat menolak PAW yang secara sewenang-wenang dilakukan oleh Hasto Kristiyanto demi meloloskan Caleg DPR RI pada nomor urut paling bawah. Banyak pihak menduga ini bermotif uang dan budaya feodal di PDI P,erjuangan sehingga PAW selalu menjadi skandal yang semakin perburuk citra PDI Perjuangan di mata publik.

Pengalaman “sial” Marlon Simanjuntak, Caleg DPRD PDI Perjuangan Riau sebagaimana dilansir oleh Kamarudin Simanjuntak, Kuasa Hukum Marlon Simanjuntak, bahwa Morlan Simanjuntak meski Caleg DPRD terpilih, namun hanya karena tidak bisa memenuhi permintaan uang, oleh Hasto Kristiyanto diberikan surat penundaan pelantikan, hingga Marlon Simanjuntak harus bolak balik Pekanbaru-Jakarta untuk menghadap  Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, meminta tolong supaya dikeluarkan rekomendasi pelantikan, namun semua upaya itu sia-sia belaka.

Melihat pengalaman Harun Masiku, Aleksius Akim, Marlon Simanjuntak dan beberapa Caleg lainnya yang nanti akan bersuara, bahwa di PDI Perjuangan modal pintar dan dipercaya rakyat saja tidak cukup untuk menjadi Anggota DPR, karena masih ada satu syarat lagi yaitu uang besar. Disinilah budaya uang dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang feodalistik, telah berdampak buruk dimana Partai hanya melahirkan banyak kader benalu yang menjadikan Partai sebagai lahan untuk tempat mencari uang.

Banyak kader pintar, berbudipekerti baik bahkan dipercaya oleh rakyat terancam di PAW hanya karena tidak punya uang. Mereka setiap saat terancam di PAW akibat oknum di PDI Perjuangan yang tergoda uang dari Caleg berduit yang sering menjadi sapi perahan. Karena itu meskipun PDI Perjuangan selalu tampil sebagai Parpol peraih suara terbanyak pada Pemilu, namun kader yang dihasilkan sebagian berorientasi hanya pada uang dan kekuasaan, sedangkan kader yang terpilih karena dukungan rakyat, setiap saat terancam PAW.

Pengalaman Marlon Simanjuntak sama dan serupa dengan Aleksius Akim, Caleg DPR RI Dapil Kalbar I terpilih suara terbanyak namun dengan menggunakan senjata hak prerogatif Ketua Umum Partai, nasib kader-kader cerdas pilihan rakyat akan tergusur demi uang atas nama hak prerogatif Ketua Umum yang sering disalahgunakan. Ibarat hanya untuk membunuh seekor semut-pun Hasto Kristiyanto konon berlindung di balik hak prerogatif Megawati Soekarnoputri.

 

Oleh: Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Advokat PERADI

Komentar

Jangan Lewatkan