oleh

Apolo, Labalimut, dan Bola

-Kolom-435 views

TEMPO doeloe nama Boto, Kecamatan Nagawutun, Lembata, NTT, lebih mentereng ke luar. Labalimut seolah tenggelam. Telinga masyarakat luar, bahkan dunia internasional lebih akrab dengan Boto. Nama Labalimut, kata anak milenial, ga nendang. Tak gaul.

Nama Boto meliputi dua dusun lain: Kluang dan Belabaja. Namun, Boto pun seolah membungkus kebesaran nama Labalimut, sebuah desa gaya baru. Boto seolah merampas popularitas nama dua dusun lain di atas. Boleh jadi Boto lebih dikenal para misionaris Serikat Sabda Allah atau dalam istilah kata bahasa Latin, Society Verbi Divini (SVD). Pun para suster Abdi Roh Kudus (SSpS).

Maklum saja. Boto adalah pusat karya perdana para SVD dan suster-suster SSpS (semoga saja saya tidak keliru) setelah pihak SVD melebarkan karya pewartaan, sosial, dan pendidikan di sana. Boto sebagai pusat Paroki Santo Joseph Boto dan pusat karya SSpS melepaskan diri dari Paroki St Petrus Paulus Lamalera. Seperti juga Paroki Santa Maria Ratu Damai Mingar, paroki yang berada di bibir pantai nan eksotik berhadapan muka dengan Pulau Solor dan Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Boto juga merupakan kota Kecamatan Nagawutun sebelum pindah ke Loang hingga saat ini. Sebagai kota pusat kecamatan, Boto mengendalikan kegiatan pemerintahan yang wilayahnya meliputi Wulandoni. Itu (kalau tak salah) sekitar tahun 1960-an.

Labalimut

Nama Labalimut tenggelam? Bisa saja. Tapi itu dulu. Saat saya masih kecil. Apalagi nama Apolonaris Dua Baon, Kepala Desa Labalimut. Labalimut dan Apolonaris Dua Baon adalah ilmu pengetahuan. Guru Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kami di SDK Boto, Yohanes Lele Mudaj, mewajibkan kami mencatat dan mengafal semua desa gaya baru plus nama kepala desanya. Kalau besok balik lagi ke sekolah dan pas pelajaran.

“Hafal nama desa gaya baru dengan ibu kota dan nama kepala desa harus di luar kepala. Paling pertama hafal Desa Gaya Baru Labalimut dengan Apolonaris Dua Baon. Begitu juga nama desa gaya baru Atawai dengan ibu kota Idalolong dan kepala desa Rofinus Langun Musa,” kata Pak Jan Lele Mudaj. Karena itu, tatkala di kelas III SD ditanya siapa nama kepala desa gaya baru Labalimut, ada teman langsung menjawab, “Kepala Desa Labalimut namanya Apolo Dua Naris Baon” satu “ketukan” mistar guru mendarat di kepala.

Begitu pula saat saya ditanya “itik termasuk bangsa apa”, saya menyambar enteng. “Itik termasuk bangsa Indonesia”. Lalu seperti biasa mendapat ‘hadiah’ serupa. Lalu teman-teman ketawa. Tapi, sebagai murid, perlu tebal muka karena show must go on karena Lewoleba yang berjarak 24 kilo meter menari-nari di batok kalau sudah lulus SMP Lamaholot Boto. Karena itu, rasa ingin tahu dari guru semakin menggunung sebagai anak gunung yang “tersandra” lekuk lereng Labalekan nan asri. Lalu nama Apolonaris Dua Baon selalu melekat sebagai kepala desa. Pun ibu kota Labalimut pasti segera akan kami jawab dengan enteng: Boto. Ini karena Boto adalah tempat tinggal kepala desa.

Lalu apa sosok Apolonaris Dua Baon sangat jauh dari warganya? Tidak. Kepala desa ini di masanya adalah figur publik sangat gaul. Ia memimpin desa dengan pendekatan ala kampung. Olahraga terutama bola seolah menjadi sisi lain menarik dalam kepemimpinan Apolo. Tak sebatas itu. Apolo juga seorang petani tulen. Kebunnya bersama keluarga besar: Bapa Korolus Nati Baon, magun Bao atau Karolus Ingan Baon, dll, ada di Kaduor atau (kalau tak keliru) Grobetalak. Apolo juga suka berburu babi hutan dan rusa di daerah Petek atau Ilmum dan sekitarnya.

“Kalau kamu tidak pulang untuk sekolah, saya hantam kamu pake ranting kayu. Berburu itu pekerjaan kami orangtua. Kamu anak-anak tinggal di kampung saja. Nanti kalau tidak masuk sekolah, guru-guru marah dan hajar kamu,” kata Titus Wolo de Ona, salah seorang pemburu dan tukang pasang jerat bareng ayah saya.

Juru damai

Ayah saya dan teman-teman sesama pemburu, termasuk kepala desa Apolo juga tak tahu kalau saya dan teman yang masih bocah menyelinap dan berada di “markas” pemburu di tengah hutan sekitar Petek. Saya meninggalkan sekolah dan menyusul diam-diam ayah saya sepanjang hutan. Padahal, biasanya lama perburuan memakan waktu satu minggu. Istilah lokal ada beberapa versi: “bati”, “karinga aoja”, “felo” atau “dop”. Tatkala ayah tahu saya dan teman sudah “bergabung” bersama pemburu lain, dia kaget.

“Anak-anak itu jangan dimarahi karena kita berada di tengah hutan. Kalau ada ubi bakar atau daging babi atau rusa yang sudah matang, kasi mereka makan. Takutnya mereka kelaparan,” kata kepala desa Apolonaris Dua Baon. Ayah saya bingung. Kok bisa-bisanya bocah seusia saya masih SD bisa tembus hutan. “Kasi mereka makan dan antar pulang kampung. Nanti guru-gurunya cari. Nanti mereka juga punya bagian dari hasil perburuan kita,” kata Apolo lagi.

Apolo juga seorang pemain bola andalan Persatuan Olahraga Laballimut (POL) di masanya. Labalimut bertabur bintang sehingga ada juga POL 2. Apolo adalah pemain sayap dalam POL 1. Sedang sayap kiri diisi Agus Orem de Ona dan sayap kanan dikawal Vincent Buga Pukan. Penjaga gawang POL 1 dikawal Martin Glinger Sakeng sedang Pol 2 dijaga Paulus Dolu Wujon. Tatkala perayaan HUT RI, POL 1 dan 2 menjadi kerinduan tim-tim bola desa-desa di pesirir bertemu di final. Durasi waktu seminggu tim-tim akan bertahan di Loang, kota kecamatan Nagawutun hingga laga final usai upacara bendera.

“Seluruh pamong (kepala dusun) saya tugaskan dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan beras, pisang, dan ubi dari warga saya untuk bekal para pemain dan warga yang menonton langsung pertandingan,” kata Apolo.

Dari Apolo juga saya belajar tentang arti solidaritas hidup bermasyarakat. Bagaimana membangun rasa percaya dan saling mendukung tatkala menghadapi persoalan sosial. Sekitar tahun 1980-an sebagian rumah warga dusun Boto beratap alang-alang dilalap api. Apolo segera menugaskan para anggota pertahanan sipil (Hansip) segera ke Loang melapor pihak kecamatan. Malamnya, berita kebakaran puluhan rumah warga Labalimut disiarkan RRI dan radio Australia. Bantuan mengalir.

Kami, anak-anak SDK Boto dan SMP Lamaholot Boto kebagian bantuan berupa baju seragam, alat tulis-menulis sekolah, dan susu. Sedang warga mendapat bantuan pakaian dan poster-poster yang entah di mana dicetak.

“Dulu kerja sama pemerintah dan masyarakat sangat baik. Saling menghargai satu sama lain sebagai warga desa terasa. Kerja sama memajukan desa terjalin baik. Kerja sama ini membuat Labalimu sangat maju. Kemudian Labalimut dimekarkan lagi. Dusun Kluang dan Belabaja membentuk Belabaja sebagai desa baru di Boto. Sedang dusun Boto bertahan dengan nama Labalimut,” ujar Apolo Baon.

Malam ini, saya sempat ngobrol dengan orangtua Apolonaris Dua Baon. Apolo berada di Lewoleba bersama isterinya, ibu Anastasia Ero Ketoj. Ibu Anas adalah teman kelas saya saat di SDK Boto. Mantan camat Nagawutun, Stanis Kebesa Langoday mengabarkan, magun Apolo dan isterinya tengah di Lewoleba. “Wah, sudah lama ama tak kontak saya lagi,” ujar magun Apolo dari balik telepon genggam milik Stanis, Sekretaris Dinas Kominfo Lembata.

“Handphone saya sempat rusak. Setelah saya bawa ke tukang service semua nomor hilang. Tapi, terima kasih karena saya sudah ketemu bapa malam ini,” ujar saya sembari memohon maaf. “Saya senang karena bapa dan ibu masih sehat. Semoga tetap semangat dalam tugas dan karya bapa sekeluarga,” lanjut saya.

“Dulu bapa Apolo ternyata pemain bola Boto yang hebat ya?,” kata Stanis di hadapan magun Apolo. Mereka tertawa. Saya juga ikutan tertawa mengingat saat saya dan teman mau diusir dari kelompok pemburu babi dan rusa di hutan. “Kasi dorang dua makan ubi bakar baru antar pulang kampung,” kata magun Apolo ke ayah saya.

Ditemani ayah, kami melangkah menelusuri hutan hingga kampung. Kalau saja ayah tak ikuti arahan kepala desa Apolo, sahabatnya itu, entah apa nasib saya kini. Terima kasih, bapa Apolo. Kita sudah ngobrol sejenak malam ini. Salam ke kampung.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan