oleh

Asrama dan Tanggungan

-Kolom-502 views

SEKOLAH di kampung tempo doeloe, tahun 80-an, mengasyikkan. Ada hal menyenangkan. Pake seragam baru. Putih-biru dan Pramuka. Seragam putih-merah segera tanggal. Menyandang predikat anak atau siswa siswi SMP juga jadi kebanggaan. Lebih dari itu pasti banyak teman baru. Dari kampung-kampung dari luar Boto, kampung saya. Meski masih dalam satu bahasa daerah, akan sangat beda teman-teman dari kampung lain yang hanya bisa berbahasa Indonesia. Mereka yang bisa berbahasa Indonesia, lebih banyak anak guru. Itu pun kalau bahasa daerah, bahasa ibu jadi bahasa pengantar harian. Namun, menarik bagi saya, banyak teman dari keluarga guru dari desa-desa di luar Boto, sangat fasih bahasa daerah. Meski mereka melewati masa SD di luar Boto. Semisal Mingar (Desa Pasir Putih) atau Imulolo.

Dua teman seangkatan di SMP Lamaholot Boto tahun 1984 anak guru yaitu Ana Maria Margaretha Ose Labaona atau Suster Amaria SSpS dan Lorensia Magi Lewar. Teman saya Sr Amaria, orang dari Atawuwur atau Atawai, kampung/desa tetangga. Atawai saya kenal juga dengan Sisi Rimba. Nama ini familiar dengan sebutan demikian karena berada dalam pelukan hutan atau rimba. Boleh jadi ini ditandai dengan Dua atau Lamadua, sepotong kawasan di sebelah timur Gereja Stasi St Rafael Atawai. Seingat saya, Dua ini lokasi keramat untuk memberi makan (sesajen) bagi para tuan tanah atau leluhur suku Lamadua atau Duan yang sudah berpulang. Atawai ini adalah kampung dalam balutan panorama alam yang masih mempesona. Ia (Atawai) kampung asal kawan Sr Amaria, tempat di mana pasutri bapa guru Yohanis Kari Lewar-Ny Kari Lewar, orangtua kawan saya Lorens Magi Lewar, tinggal. Bapa guru Ani Kari, begitu kami menyapanya, lama menetap dan mengajar banyak anak kampung Atawai di SDK Atawuwur (Atawai). Bapa guru Ani Kari sesungguhnya berasal dari Solor, pulau mungil di depan Loang, kota kecamatan Nagawutun. Kalau tak salah, di sini beberapa anak bapa guru Ani Kari lahir dan tumbuh kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP Lamaholot Boto, termasuk kaka Don Lewar dan teman saya, Lorens Magi. Sedang bapa guru Frans Bako Labaona, lama mengabdi sebagai guru di SDK Pasir Putih, Mingar, kampung yang menempel di bibir pantai nan eksotik menghadap laut Sawu, tak jauh dari Loang, kota paling jumbo tempat orangtua kami pigi timbang (jual) kemiri dan kopra untuk hidup dan biaya sekolah kami anak-anak petani.

Awal masuk SMP Lamaholot Boto tahun 1984 banyak lulusan SD sekitar Boto membanjiri sekolah menengah swasta tua ini. Seingat saya, tiga SMP swasta yang beken kala itu yaitu SMP Sinar Pelita Lodoblolong di Hadekewa, kota yang akrab orangtua kami bayar bea (pajak). Berikut SMP Tanjung Kelapa Lerek di Atadei dan SMP APPIS (Aksi Putra-Putri Ikan Sembur) Lamalera. Kampung nelayan yang sudah mendunia ini menyumbang banyak ata kebelekej (orang besar dalam benak kami). Sebut saja, Prof Dr Gorys Perawin Keraf, penulis buku Tata Bahasa Indonesia; Dr Alex Soni Keraf, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup erah Presiden Abdurrahman Wahid; para imam seperti Pastor Alex Beding SVD, P Bosco Beding SVD, mantan anggota Lembaga Sensor Film, P Yohanes Prasong; Moses Hodehala Beding CSsR di Sumba; Bruno Ulanaga Dasion, misionaris di Jepang; praktivisi dan motivator Josef Bura Bataona; dosen dan praktisi asuransi Pius Kia Tapoona; akademisi Dr Mance Dasion & Dr Jakobus Blikololong, dan lain-lain. Mengapa tak banyak teman-teman lanjut di sekolah-sekolah di atas, itu karena pertimbangan jarak saja. Masuk SMP Lamaholot Boto sedikit mudah dalam urusan pengiriman bekal untuk makan minum. Dalam catatan saya, teman-teman angkatan dari Atawai termasuk banyak. Sekitar delapan hingga sembilan orang. Mereka dari latar keluarga beragam: petani dan guru.

Awal tahun ajaran kami sepertinya masih menyesuaikan diri. Tak hanya dengan situasi sekolah dan fasilitas pendukung yang sangat minim. Kursi seingat saya kami bawa sendiri dari rumah. Bapa saya harus sowan ke tukang kayu di kampung agar menyelesaikan kursi tanggungan saya. Ayah lepas padi 1 blik ke tukang dan jadilah kursi. Kalau dihitung, 1 blik padi setara 10 kg beras merah atau hitam. Sistem barter jalan tanpa hambatan karena stok padi ladang di lumbung banyak. Barangkali beda dengan anak guru seperti dua teman saya: Amaria dan Lorensia. Bagaimana dengan guru-guru? Kala itu kami cukup puas dengan guru-guru lulusan setara SMA. Plus satu dua orang yang baru lulusan PGSLP yang tinggal menunggu mengikuti tes PNS. Guru-guru kami kala itu rata-rata dari desa semua. Ada Valentinus Blida Batafor (kepala SMP), Yohanes Layir Wujon, Elias Tada Asaan, Maria Goreti Wujon, Viktoria Kewa Sakeng, Frans Sales Pukan, Sr Helena Wewo SSpS, Donatus Ero de Ona, dan Margaretha Lelo Klobor. Kaka suster ini orang Mataloko, Ngada. Ia bertugas di SSpS Boto tapi membantu ngajar Agama dan Kesenian.

Angkatan kami termasuk rombongan belajar jumbo. Selain kami dari Boto, banyak juga dari Atawai, Liwulagang, Ile Boli, Mingar, Puor, Uruor, Idalolong, dan Imulolong. Teman-teman dari desa tetangga ada yang tinggal di rumah penduduk karena orangtua mereka kenal atau masih kerabat. Tinggal tanpa bayar kos. Banyak juga yang tinggal di asrama susteran SSpS. Mereka ini pun lebih banyak dari anak guru. Rupanya, animo siswa baru untuk sekolah tinggi, Pak Valens Batafor dan guru-guru putar otak. Mereka merencanakan membangun sebuah gedung asrama besar secara swadaya agar anak-anak muridnya bisa tinggal dan dibimbing dalam belajar. Uniknya, asrama ini khusus anak laki-laki kelas 1-3. Asrama itu berdinding buluh (fulor) dan rangka kayu kemudian diatap pake alang-alang. Siapa yang menanggung bahan-bahan bangunan itu? Bahan-bahan itu menjadi tanggungan setiap murid kelas 1-3 tanpa kecuali. Setiap akhir pekan kami diberi waktu untuk memotong alang-alang dan bahan-bahan bangunan lainnya. Setelah itu, Sabtu pekan berikutnya, orangtua kami datang untuk mengerjakan secara gotong-royong. Kami anak-anak sekolah akan menyiapkan makanan lokal seperti pisang ditambah sayur-mayur dan lauk serta lawar. Minumnya, ya, tuak kelapa. Orangtua murid bawa masing-masing dari rumah. Pake bambu. Proses bikin asrama berjalan lancar. Anak-anak asrama tinggal, masak, dan makan minum sendiri. Pak Valens menjadi bapa asrama. Ia menempati satu kamar khusus. Selebihnya, ruang asrama itu dijejali tempat tidur dari bambu. Kecuali satu dua siswa yang pake tempat tidur ‘elite’ berbahan kayu pahlawan. Bermodal tikar dan bantal. Kebanyakan tempat tidur bambu pake newong. Pakaian sekolah digantung di dinding. Ada satu dua menyimpan seragamnya di keler (wadah aluminium) yang bagian luar dan dalamnya mulai karat. Mereka rata-rata siswa dari keluarga ‘berada’.

Tinggal di asrama kala itu, menarik. Saya mulai kenal minum susu. Susu bubuk itu diisi dalam kelombu. Entah bagaimana didatangkan saya tidak tahu. Setahu saya dan teman-teman, setiap pagi, kami antri di pintu kamar Pak Valens untuk terima satu sendok susu bubuk. Mau bawa mok besar, sedang atau besar jatah susu cuma satu sendok. Tinggal masing-masing kami campur kopi lalu di depan tungku masing-masing di belakang asrama kami putar rame-rame. Menemani ubi kayu, ubi jalar, keladi atau pisang sebelum jam pelajaran dimulai. Kadang juga bermodal bemi (sejenias sarimi atau supermi) dan makanan lokal, sudah cukup mengikuti pelajaran di sekolah yang berada di depan asrama. Aktivitas usai sekolah terutama akhir pekan rutin. Mengerjakan atau membersihkan kebun guru. Selain membayar ongkos honor mereka, sekaligus untuk mencari uang tambahan kapur tulis. Akhir pekan juga menjadi waktu yang pas kami semua, anak-anak sekolah, menuju hutan untuk memotong anakan pohon waru atau jarak untuk pagar keliling sekolah. Begitu juga buluh (bambu) muda sebagai pengganti tali pengikat pagar. Sekali lagi, saat mengerjakan pagar, makanan lokal seperti pisang dan ubi jadi teman setia. Halaman sekolah tergolong luas. Ditanami pisang, alpukat, kelapa dan aneka jambu. Semua tanaman itu berbuah lebat. “Kamu makan kulit dan isinya sampe habis. Kalau kamu ulangi lagi, saya suruh kamu makan lagi kulit dan isinya sekaligus,” kata seorang guru saya kala itu. Beberapa teman kerap usil. Pisang bugis (kepok) yang sudah matang setandan di dalam lumbung samping sekolah menggoda. Beberapa teman mecopot beberapa buah untuk dimakan. Padahal, mestinya tunggu waktunya untuk dibagi kepada setiap anak di akhir jam pelajaran.

Proses belajar-mengajar dalam situasi serba minim kala itu berbuah. Setiap tahun, banyak lulusan mulai meninggalkan almamater, SMP Lamaholot Boto. Banyak melanjutkan SLTA di Lewoleba, kota Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata. Banyak pula tak sempat lanjut dan memilih merantau ke tanah Jiran, Malaysia. Ada juga bertahan meneruskan karya perutusan sebagai petani. Para guru juga sebagian besar perlahan pindah karena diangkat jadi PNS. Ada juga yang berhenti mengikuti suami. Begitu juga para suster guru-guru saya juga pindah ke tempat Misi yang baru. Misalnya, Sr Cornelia SSpS atau Sr Helena Wewo SSpS. Ada kebanggaan karena banyak dari rekan-rekan memilih hidup selibat, entah sebagai imam atau suster. Dua teman saya yang masih kerabat dekat: Amaria dan Rosa Nogo, masuk Kongregasi SSpS. Begitu juga kakak kelas, Pastor Patrisius Breket Mudaj SSCC, melayani umat di Bandung sebelum terbang ke Jerman sebagai Misionaris. Sekian lama, Amaria dan Rosa Nogo, tak bersua. Satu waktu kami dipertemukan. Rekan Sr Rosa Nogo, kini berkarya di Ruteng, kota Kabupaten Manggarai, ujung barat Pulau Flores. Banyak di antara teman-teman sealmamater mengabdi dan merasul di bidangnya masing-masing. Sedang teman saya yang lain, Amaria menunaikan tugas di Jepang. Di negeri para Kaisar itu ia menunaikan tugas sebagai pelayan Tuhan.

Awal April 2008, Sr Amaria dan rekan-rekannya mengabarkan saya kalau ia dan rekan-rekannya berkesempatan mendaki Gunung Fujiyama dan menikmati puncak gunung tertinggi di Jepang itu. “Aduh! Sungguh indah pemandangan Gunung Fujiyama. Saya sungguh menikmati betapa Ia mencintai dan menyertai hidup saya sebagai seorang anak dari kampung terpencil, Atawai (Atawuwur), di pedalaman Pulau Lembata,” katanya lewat surat elektronik. Saya dan Sr Amaria pernah satu kelas saat masih di Sekolah Pendidikan Guru Kemasyarakatan (SPGK) Lewoleba, Lembata. Sebelum menuju Puncak Fujiyama, ia mengabarkan, saat itu cuaca Nagoya, Jepang sangat cerah. Semua penghuni negeri para pengeran itu bergembira menikmati keindahan-Nya. Begitu pula saat berada di Puncak Fujiyama, ia terus memanjatkan doa mengagumi keagungan Tuhan. Bahkan rasanya ia berada di Puncak Gunung Labalekan, gunung yang juga menjadi salah satu obyek pendakian bagi siswa sekolah dasar dan menengah di selatan Lembata. Termasuk kami anak-anak saat di SMP Lamaholot Boto. “Saat berada di Puncak Fujiyama salju begitu lebat dan dingin sekali. Tapi syukur saya sudah terbiasa dengan empat musim di sini sehingga walau dingin dan panas, itu sudah menjadi bagian dari hidup dan perutusanku di negeri Sakura ini,” cerita biarawati peraih Program Magister (S-2) Teologi, ini.

Meski mencoba menyesuaikan diri dengan cuaca Jepang, toh, bukan berarti ia terbebas dari sergapan penyakit. Suster Amaria sempat menderita pilek akibat salju dan kepungan dingin Fujiyama. Namun, selama berada di Puncak Fujiyama, ia terus merenungi perjalanan hidupnya hingga Tuhan berkeputusan menunjuk dirinya menjadi pelayan Tuhan. Ia begitu mengagumi rencana Tuhan atas dirinya. Ia tak pernah membayangkan kalau Tuhan memanggil dirinya di kampung Atawai atau Atawuwur, nun di pedalaman Pulau Lembata untuk menjadi pelayan Tuhan. Apalagi, harus terbang ke Negeri Sakura demi sebuah janji pada-Nya mewartakan kasih dan cinta bagi sesama. “Selama seharian di Puncak Fujiyama, air mata sedih, bahagia, syukur, berat, pasrah mengalir tak bisa saya bendung. Saya tak habis bersyukur. Tidak ada kata yang bisa saya ungkapkan. Sungguh. Tuhan punya rencana Ilahi,” katanya. Hari ini, sahabat baik ini berulang tahun. Dan dari tanah Air doaku terkirim. Selamat Ulang Tahun, tema Sr Amaria SSpS. Semoga sehat selalu. Tuhan berkati. Arigato.

 

Jakarta, 24 Juni 2020
Oleh: Ansel Deri
Orang udik dari kampung;
Catatan untuk teman Amaria yang ultah hari ini

Komentar

Jangan Lewatkan