oleh

Bagaimana Bisa Hitam Putih Begitu?

-Kolom-137 views

Sebelum aku menuntaskan cerita tentang genosida (pembunuhan massal) 1965 di Indonesia, lalu berlanjut ke peristiwa Bumi Hangus Timor Timur 1999, yang melibatkanku, Opa dan Bundamu, aku menuliskan keresahanku dengan berseliwerannya video, meme, kutipan, dan berita yang lewat di media sosialku mengenai Aksi Omnibus Law Cipta Kerja (OLCK) kemarin di Indonesia.

Di Indonesia, orang suka menyebarkan apa saja selama pendapat itu sesuai dengan keyakinan mereka. Mereka tak lagi melihat konteks dan latar belakang.

Fahri Hamzah yang selama ini dihujat sebagai anti pemerintah, sekarang menuai pujian dari para penghujatnya dulu, karena sekarang mendukung OLCK.

Video Prabowo mengutuk aksi kerusuhan di Kompas TV juga dicuplik dan sebarkan oleh banyak orang yang dulunya sangat anti Prabowo.

Mungkin mereka lupa bahwa dua kali Prabowo kalah, dua kali pula massa pendukungnya turun ke jalan, pecah bentrok berdarah, rusaknya fasilitas umum, dan kerugian material serta biaya pengamanan yang sangat banyak jumlahnya.

Mungkin mereka lupa bahwa Fahri Hamzah dan Prabowo, butuh juga untuk menggalang suara, sebagai investasi politik untuk pemilihan mendatang, Pemilu 2024.

Lupa itu membuat mereka mengecam siapa saja yang tak setuju dengan Omnibus Law sebagai segerombolan orang jahat. Mereka yang kritis ini tiba-tiba jadi serupa dengan kelompok yang dari dulu anti terhadap pemerintahan Jokowi.

Kamu tahu kan ada kelompok yang menganggap pokoknya Jokowi pasti salah (ada juga yang menggangap Jokowi pasti benar)? Nah, tindakan sebagian dari mereka kini dibenarkan karena mendukung OLCK, sementara pendukung Jokowi garis keras tapi kritis terhadap OLCK tiba-tiba digolongkan sebagai anti pemerintahan.

Bagaimana bisa hitam putih begitu?

Di sisi lain. Bagaimana pula Si A (aku takkan menyebut namanya, bukan juga karena faktor kampung halaman) tiba-tiba menjadi pahlawan bagi publik karena keras mempertanyakan OLCK ini?

Tentang Si A ini, aku punya cerita sendiri.

Malam hari, akhir Agustus 2017, Bandara Guarulhos, Sao Paulo, Brasil, mengalami kendala listrik. Pesawat kami terlambat cukup lama, padahal di Doha, Qatar nanti, kami transit kurang dari dua jam saja.

Saat itu aku bersama rombongan DPR RI dari PDI Perjuangan, sementara Si A bersama istrinya (aku tidak tahu persis siapa dia), ikut kami pulang. Ia memisahkan diri dari rombongan partainya yang hari itu berkunjung ke Amazon.

Ketika akhirnya kami bisa masuk pesawat, kami minta pada petugas agar pesawat di Doha sedapat mungkin menunggu kami, agar kami tak perlu berlama-lama menunggu penerbangan lain yang tak pasti. Dalam pesawat, kami tak benar-benar tenang. Belasan jam dalam gelisah.

Sesampainya di Doha, aku titip tas, berlari mencari informasi terkait penerbangan kami.

Bandara itu luas sekali. Aku harus memberitahu pada petugas imigrasi bahwa kami terlambat, kami tidak bisa ikut antrian normal imigrasi. Petugas menyarankanku untuk ke petugas yang lain dulu, menginformasikan bahwa kami sudah tiba, dan memastikan pintu yang harus kami tuju.

Lalu diminta kembali ke antrian.

Semua kulakukan dengan cepat, dan tentu saja dengan berbahasa Inggris. Ketika hendak masuk antrian, Si A di belakangku, dia dan istri bertanya, kita harus ke mana sekarang. Aku spontan menjawab mereka menggunakan bahasa Inggris, mengulangi apa yang disampaikan petugas.

Mendadak dengan nada tinggi, ia setengah berteriak, “Bahasa Indonesia! Bicara bahasa Indonesia dengan saya!” Aku tercekat. Beberapa detik kemudian, aku cuma katakan, semuanya, ikut saya.

Sampai di Indonesia, aku bertanya ke Opa, apakah beliau tak mengerti bahasa Inggris, atau benar-benar karena situasi panik saja? Opa hanya tertawa.

Oh ya, saat menuju ke Brazil aku berangkat sendirian. Jakarta – Doha 8,5 jam, Doha – Sao Paulo 15,5 jam, Sao Paulo – Brasilia 2 jam.

Sao – Paulo tidak seharusnya selama itu jika Qatar tak diisolasi oleh tiga negara sekitarnya. Konflik Qatar dengan tetangga itu konflik lama yang timbul tenggelam.

Kembali ke soal pergantian posisi antar para politisi.

Kamu mungkin bertanya, bukankah kita harus fokus pada apa yang dibicarakan, bukan siapa yang bicara? Benar, tapi dengan serta-merta menanggalkan konteks, apa-kapan-bagaimana-di mana, rekam jejaknya, kita akan mendapati diri kita terjebak pada ruang yang sempit, tanpa tahu gambaran besarnya.

Apalagi jika terkait politik, perhatikan keseluruhannya. Kamu harus lebih komprehensif dalam berlogika, atau kamu akan jadi sebatas pemetik buah ceri (cherry picking).

Hati-hati pada orang yang tiba-tiba baik. Titip rindu untuk adik-adikmu. (Catatan untuk kakak Ames)

 

Moskow, 15 Oktober 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan