oleh

Bencana Terjadi Karena Bencana Sebelumnya Terlupakan

-Kolom-642 views

Melawan Covid-19, Kim Jong Un berlaku tegas, juga kejam. Pemimpin tertinggi Korut ini, selain perintahkan tembak mati warga Cina bila dekati batas wilayah Korut, juga mengancam warganya sendiri bila terinfeksi Covid-19. Dia serukan resolusi nasional melawan Covid-19, dengan perketat pengamanan batas, isolasi per wilayah, setiap warga wajib masker. Kim tidak main-main. Beredar kabar, seorang warga Korut yang terpapar Covid-19 sepulang dari Cina ditembak mati karena melanggar perintah karantina.

Kim memang kejam. Seorang diktator — yang selalu digambarkan sebagai pemimpin tanpa nurani dan eksekutor berdarah dingin — di sebuah negara tertutup dan misterius. Tapi boleh jadi, melawan Covid-19, Kim belajar dari sejarah.

Sejarah konon — bila mampu menarik pembelajaran darinya — membantu orang tidak mengulang kesalahan yang sama, tulis Ignas Kleden dalam opini “Atas Nama Sejarah” di harian Kompas tahun 2017 lalu. Kim mungkin coba lakukan itu. Dia belajar sejarah yang buktikan mudahnya penyakit menyebar oleh manusia dan melalui mobilitas manusia. Karenanya Kim coba hentikan mobilitas warganya, sesuai versinya sebagai diktator.

Sejarah memang telah buktikan, wabah penyakit mudah menyebar melalui mobilitas manusia, dan manusia memang selalu kalah. Wabah pes di Athena tahun 430 SM sebagai misal mudah berkembang dan menyebar melalui hilir mudik prajurit dan logistik perang di Athena yang kala itu lagi hadapi Sparta dalam perang Peloponnesia. Wabah pes Yustinianus tahun 541-542 M mudah menyebar cepat, mulai dari Mesir kemudian menyebar ke wilayah kekaisaran Byzantium, di kota-kota jalur perdagangan yang padat penduduk dan tinggi tingkat mobilitasnya. Di abad pertengahan — di antara semakin berkembangnya industri, majunya akses mobilitas, dan menumpuknya penduduk di kota-kota besar Eropa — mewabah pes yang kemudian dikenal sebagai Black Death. Penyebaran wabah Demam Kuning di Paris, di masa kekuasaan Napoleon, dipermudah oleh mobilitas penduduk Paris yang memang padat penduduk. Wabah cacar di Amerika, yang menewaskan banyak suku asli Amerika ini, juga dipermudah oleh mobilitas orang-orang Eropa yang saat itu hendak menguasai Amerika. Pun demikian misalnya di tahun 1918, saat berkecamuk perang Dunia I. Bersama mobilitas dan interaksi prajurit yang menjangkau banyak wilayah perang di banyak negara, mewabah virus influenza. Cepat dan meluas, juga mematikan.

Kita pun harusnya demikian, belajar dari sejarah. Belajar dari sejarah untuk peta-kan kelemahan, sumber daya, dan karakter wabah agar tidak mengulang sejarah kekalahan. Seperti Kim yang tahu persis, bila membiarkan Covid-19 masuk berarti membiarkan Korut — yang minim fasilitas dan sumber daya kesehatan lainnya akibat berbagai embargo — berada di ambang kehancuran.

Tapi tentu kita tak perlu berlaku seperti Kim yang otoriter dan kejam. Sejarah — atau minimal fakta sebelumnya — pasti membantu kita untuk merumuskan rencana penanggulangan secara komperhensif dan sistematis. Belajar dari sejarah menghindarkan kita terlalu menitikberatkan pada upaya penanganan kedaruratan misalnya, lalu lupakan lainnya. Jika masih bisa dan mungkin hindari kedarutan, lakukan itu. Ingat, di masa kedaruratan — apa pun jenis ancaman dan risiko — selalu mungkin berubah dinamikanya, terlebih jika kita tak miliki pengetahuan sedikit pun profil kelemahan dan sumber daya sendiri. Toh kita pernah alami belum lama ini, betapa ‘tak siapnya’ kita hadapi ‘kondisi luar biasa’ — kondisi kedaruratan, walaupun yang kita hadapi itu jenis penyakit primitif.

Satu hal yang penting, hadapi Covid-19, kita perlu bersama. Kebersamaan hanya mungkin ada dalam kesamaan perspektif. Kesamaan perspektif hanya mungkin tercipta melalui edukasi dan informasi yang benar serta ter-arah. Edukasi dan informasi yang benar akan pula hasilkan pemetaan profil secara benar. Ini yang mungkin terlupakan dalam sejarah sebelumnya, dan oleh Kim yang dengan sengaja tiadakan kebersamaan.

Marilah bersama belajar tentang diri kita, tentang profil kita yang terbentuk melalui titik-titik kecil sejarah sendiri. Manfaatkan itu, bukan sebatas penelitian angka dan data di masa lampau. Sebab jika tidak, kita pasti mengulang kesalahan yang sama dan sejarah pun berulang, kita kalah oleh wabah penyakit. Ingatlah, bencana itu terjadi karena bencana sebelumnya terlupakan.

 

Oleh: Ofridus Krispinianus, Pegiat PRB tinggal di Maumere – Flores

Komentar

Jangan Lewatkan