oleh

Berbela Rasa Bersama Pemulung

-Kolom-301 views

BERBELA rasa adalah suatu praktek hidup yang dibangun oleh setiap individu dalam ranah sosial demi menunjang sikap empatik  dan sikap mau peduli terhadap orang lain. Sikap berbela rasa merupakan konkritisasi dari sikap solidaritas yang menjadi suatu panggilan dalam diri setiap orang. Sikap berbela rasa tidak selalu bertendensi   mengubah problematika hidup yang dialami oleh segelintir orang yang  kita jumpai dalam masyarakat. Konsep berbela rasa ada dalam setiap pribadi manusia namun patut kita amini bahwa kadar sikap ini berbeda-beda pada setiap individu. Hal ini dapat terjadi karena sikap egoisme yang terkadang menjerumuskan manusia kedalam sikap eksklusif dan bahkan mengutuk kehadiran orang lain. Konsep solidaritas menitikberatkan pada konsep “orang kami atau kita” dan terjadi pengkotak-kotakan  terhadap sesama dalam masyarakat.

Menyikapi pentingnya aspek kemanusiaan ini maka pada hari Sabtu, (21/11/2020), para Frater Unit Santu Gabriel, Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero mengadakan kunjungan sekaligus membantu para pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Wairi’it-Maumere, kabupaten Sikka. Aksi ini bukan sekedar kunjung mengunjung tetapi agar para Frater terlibat secara langsung dalam kehidupan bersama orang-orang kecil, mengingat salah satu opsi dalam SVD adalah Option For The Poor.

Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memaknai hari orang miskin sedunia. Kegiatan memaknai  hari orang miskin sedunia terjadi di TPA Wairi’it, Maumere-Flores NTT bersama para pemulung. Kegiatan ini dikoordinasi oleh  Pater Hendrikus Maku, SVD sebagai prefek Unit Gabriel bersama 39 Frater. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08:00 Wita.

Setiba di sana para Frater berbaur bersama para pemulung untuk mengais rejeki yang tersirat melalui sampah-sampah yang berserakan. Siapa sangka berbagai macam sampah yang berserakan itu dapat menjadi hal yang berguna walaupun tidak terpakai lagi dan dibuang? Ini adalah salah satu nilai positif yang perlu ditelisik bersama bukan hanya dari aspek ekonomi semata tetapi lebih jauh pada tatanan moral etis.

Bagi mereka, sampah menjadi nilai ekonomis yang menunjang kehidupan serta ladang yang dapat menghidupi keluarga. “Bagi saya, pekerjaan menjadi pemulung merupakan suatu pekerjaan yang tetap. Melalui pekerjaan ini saya dapat menghidupi keluarga dan membiayai sekolah anak. Terlepas dari itu, pekerjaan ini juga  bukan hanya sebatas untuk memungut sampah tetapi untuk merawat bumi.” Demikian kata Bapak Roki (36 tahun).

Terlepas dari pernyataan tersebut, terdapat juga stigma negatif yang muncul dari ranah sosial masyarakat. Bagi masyarakat yang memiliki konsep individualisme yang tinggi menganggap masyarakat pemulung sebagai masalah sosial yang harus segera diatasi. Aktivitas pemulung dianggap mengganggu pemandangan masyarakat. Dari sini muncul suatu gerakan yang berpihak pada orang-orang kecil yang diselenggarakan oleh para Frater Unit Santu Gabriel Ledalero yang bertujuan untuk mengubah perspektif yang keliru dalam dunia sosial masyarakat terhadap komunitas para pemulung.

Hal ini dipertegas oleh Pater Hendrikus Maku, SVD dalam sambutannya menjelang akhir dari kegiatan kemanusiaan ini. Baginya, kegiatan ini sesungguhnya terinspirasi oleh sabda Yesus “Pergilah dan wartakanlah injil ke seluruh penjuru dunia” dan pesan Paus Fransiskus “Berbela rasa kepada orang miskin tidak dilihat dari latar belakang Ras, Agama, Bahasa, Suku, dan Kebudayaan. Agama sesungguhnya tidak serta merta menjadi penghalang dalam kegiatan kemanusiaan Karena orang miskin merupakan jantung dari injil itu sendiri.

Berbela rasa dengan orang miskin mengajarkan begitu banyak hal. Melalui orang miskin kita dapat menemukan kekayaan cinta dengan yang lain, membuka hati untuk mencintai yang terpinggirkan, dan memaknai hidup untuk selalu peduli dengan sesama. Di akhir dari sambutan ia menegaskan bahwa kegiatan kemanusiaan di TPA Wairi’it juga mengandung nilai toleransi lintas agama. Misi kemanusiaan sesungguhnya melampaui batas-batas agama. Agama-agama sesungguhnya bukan menjadi penghalang  bagi kita untuk bertoleransi dengan sesama yang berkekurangan.

Kegembiraan ini dilanjutkan dengan pembagian sembako yang dapat menunjang kehidupan mereka dalam keluarga, makan siang dan foto bersama. Akhirnya para frater kembali ke Ledalero dengan membawa suatu inspriasi baru tentang arti kemanusiaan. Allah tidak berwajah, Ia menunjukkan wajah-Nya dalam aspek kemanusiaan. Kemanusiaan ialah agama universal dan mari kita bersolider dengan sesama tanpa batas-batas tertentu.

 

Oleh: Vian Tukan

Mahasiswa STFK Ledalero, sekarang tinggal di Wisma Gabriel

Komentar

Jangan Lewatkan