oleh

Biarawati Pelayan Lansia Panti Rukmi Pati

-Kolom-4.402 views

KAMI sama-sama lulusan SMA Kawula Karya Lewoleba, Kabupaten Lembata. Saat masih SMA kami menyapanya, Mace Krova. Ia memutuskan menjadi suster biarawati. Menjalani tugas sebagai misionaris di sejumlah wilayah di Indonesia. Teknologi memudahkan kami bertemu di jagad maya.

Suster Luisa SFD, begitu nama rekan suster adik kelas SMA ini. Biarawati asal desa nelayan Lamalera, selatan Lembata ini dipercaya sebagai Penanggungjawab Wisma Lansia Panti Rukmi Pati, Provinsi Jawa Tengah. Testimoni terkait tugas mulianya mengurus orang jompo di panti itu saya bagikan di HIDUP edisi 23 Juli 2017, tiga tahun lalu.

Hari ini, biarawati anak guru itu berulang tahun. Selamat Ulang Tahun, ina Suster Luisa SFD. Berkah Dalem. Saya share kembali kesaksiannya menunaikan tugas mulia sebagai penanggungjawab Wisma Lansia Panti Rukmi Pati. Tugas yang dipercayakan pimpinan Konggregasi SFD dan bagaimana ia menerima dan menunaikan sepenuh hati sebagai pelayan Sabda melalui para lansia. Selamat pagi.
———————————————————
Wisma Lansia Panti Rukmi : Setia Melayani Lansia

Sejak empat tahun silam, para suster SFD membuka pelayanan bagi para lansia di Pati, Jawa Tengah. Melalui Wisma lansia ini, mereka menebarkan kasih Allah.

SABAN pagi, aura kebahagiaan nampak terpancar dengan jelas dari para penghuni Wisma Lansia Panti Rukmi Pati, Jawa Tengah. Salah seorang penghuni panti ini, Mbah Sriah yang telah berusia 70 tahun, suatu pagi disambut gembira oleh sesama penghuni panti. Tiap pagi menjadi kesempatan untuk memulai berbagi cerita pengalaman hidup, baik suka maupun duka. Selain berbagi pengalaman, di wisma ini mereka hidup dengan saling mengasihi dan menganggap satu dengan yang lainnya sebagai keluarga besar.

Pengalaman serupa juga dialami Setyawati yang sudah berusia 83 tahun dan Masripah yang usianya telah berkepala sembilan. Mereka memilih tinggal di Panti Rukmi agar ada yang memperhatikan dan merawat mereka.

Keputusan untuk tinggal dan menghabiskan sisa hidup di panti menjadi pilihan yang tepat bagi Mbah Sriah. Pada masa produktif, ia seorang bidan. Hal demikian pun dirasakan Diana, janda tanpa anak ini mengidap diabetes. Ia juga berharap mendapatkan perawatan pada usia senja, sebab tak ada saudara yang merawatnya.

Melayani

Penanggung Jawab Panti Rukmi, Suster Luisa SFD menjelaskan, Panti Rukmi merupakan rumah bagi orang lanjut usia. Mereka akan dirawat, disapa, dilayani sepenuh kasih dan bertanggungjawab. Biarawati dari Kongregasi Suster Fransiskus Dina (Congregatio of Minor Francis Sister/SFD) ini menambahkan, di rumah ini, para lansia leluasa berbagi pengalaman cerita hidup, baik suka maupun duka pada sisa usia mereka sampai ajal menjemput.

Suster Luisa melihat, kebanyakan orang pada masa tuanya kurang mendapatkan kasih sayang maupun perhatian dari keluarga, saudara, ataupun kerabat. Berangkat dari keprihatinan ini, para suster memilih melakukan pelayanan melalui Panti Rukmi. “Melalui karya ini, kami mau menunjukkan kepedulian kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir, khususnya para lansia,” ungkap Suster Luisa.

Panti Rukmi terbentuk pada 2013. Pada awal perintisan, Panti Rukmi menggunakan bekas gedung rumah sakit. Ketika itu, Panti mulai mengurus tiga orang lansia. Seiring perjalanan karya, hingga 2017 pengelola sudah merawat 32 lansia. Dari jumlah itu, ada yang sudah meninggal akibat usia tua dan juga sakit. Saat ini terdapat 21 orang lansia yang masih menempati kamar-kamar. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, baik agama maupun suku.

Pilihan untuk tinggal dan dirawat di panti datang dengan berbagai alasan. Kebanyakan dari penghuni panti adalah mereka yang sudah tua dan tidak mampu mengurus diri sendiri. Ada juga dari mereka yang dirawat karena sakit. Sebagian datang dari latar belakang ekonomi mampu, namun karena kesibukan, anak-anak mereka tidak sempat untuk merawat orangtuanya. Namun, kebanyakan penghuni berasal dari keluarga dengan ekonomi yang kurang beruntung.

Tiap pagi, setelah dimandikan, para lansia yang masih kuat menghangatkan badan dengan berjemur di bawah terk sang surya. Sedangkan mereka yang tidak berjemur, akan bersenam ringan bersama dengan panduan seorang suster. Hal ini dilakukan agar kondisi jasmani tubuh mereka tetap kuat dan segar.

Untuk melengkapi kebutuhan rohani para lansia, setiap minggu kedua dalam bulan, selalu ada pendeta yang memimpin ibadat. Seusai ibadat dilanjutkan dengan mengunjungi penghuni panti satu per satu di kamarnya. Bagi lansia yang beragama Katolik, setiap Minggu ada Komuni Suci dan Misa di Kapel San Damiano setiap Sabtu. “Suasana yang kami ciptakan ini sungguh kiranya membuat mereka bahagia,” ujar Suster Luisa.

Selain kesehatan dan kebutuhan rohani, para Suster SFD juga memperhatikan kebutuhan sosial mereka dengan menyisipkan agenda rohani dan sharing antarpenghuni Panti Rukmi. Suster Luisa berkata, dengan menciptakan kondisi sosial yang menyenangkan akan sangat membantu para lansia agar tetap memiliki kepercayaan diri yang kuat. Terlepas dari itu, Suster Luisa berharap, para lansia mendapatkan kehidupan penuh kasih, kedamaian, kegembiraan, harmonis, serta teman pada masa senja.

Kelengkapan kebahagiaan melalui sapaan dan perhatian para lansia tak hanya datang dari keluarga yang berkunjung. Ada juga bentuk perhatian yang datang dari berbagai komunitas yang ada di Pati dan sekitarnya. Mereka datang menyapa dengan cara mengajak para lansia bercerita. “Dalam melayani para lansia secara personal dan menyeluruh diharapkan terjalin hubungan kekeluargaan, bukan lagi hubungan antara pasien dengan perawat. Kami semua dengan penuh dedikasi mendampingi dan melayani lansia dan menghadirkan Kerajaan Allah bagi mereka yang tinggal di tempat ini,” ujar Suster Luisa.

Menanti Ijin

Suster Luisa menuturkan, dalam pelayanan kepada para lansia, para suster berpegang pada spiritualitas dan visi kongregasi. Wisma lansia senantiasa menjadi tempat dan sarana menghadirkan Kasih Tuhan. Ia menyadari, hal ini dapat terwujud jika terus mendampingi dan melayani mereka dengan semangat kasih dan persaudaraan.

Para Suster SFD dalam melayani para lansia berusaha sebisa mungkin menerapkan nilai-nilai kongregasi, seperti semangat fraternitas dan nilai dina. Semangat berarti selalu bergembira dan bersukacita dalam melakukan karya yang diemban. Fraternitas berarti mengutamakan dan meninggikan kaum papa dan semua makhluk yang ada dengan cinta kasih, keramahan, persaudaraan dan pembawa damai di mana pun mereka ditugaskan. Sedangkan dina berarti dengan semangat pertobatan dan doa yang terus-menerus menumbuhkan sikap sederhana, rendah hati, tulus, rela berkorban, dan tanpa pamrih.

Saat ini, para Suster SFD, melalui dinas sosial setempat sedang berusaha mendapatkan aspek legalitas dari pemerintah daerah. Dengan legalitas ini, harapannya semakin banyak lansia yang tersapa dan mendapatkan pelayanan dan kasih. Segala kelengkapan persyaratan yang diperlukan sudah dilayangkan ke Dinas Sosial Pati.

Setelah izin ada, Suster Luisa melanjutkan, tentu akan semakin memotivasi mereka untuk membantu pemerintah dan masyarakat sekitar Pati untuk menyebarkan karya penyelamatan dan kasih Allah. “Mungkin tidak lama lagi impian kami untuk semakin berguna di masyarakat, terlebih bagi para lansia, akan terwujud melalui izin yang diberikan Dinas Sosial Pati,” harap Suster Luisa.

 

Oleh: Ansel Deri

Komentar