oleh

Budak Timor dan Gubernur DKI Jakarta

-Kolom-2.466 views

THOMAS Ataladjar mengajak saya mencari jodoh. Thomas sudah punya isteri. Namanya Dewi. Katolik mensyaratkan satu saja. Tak boleh lebih. Gereja tak membolehkan lebih dari satu. Itu sejak doeloe. Isteri Thomas, perempuan dari Jawa saya biasa sapa singkat. Kaka ibu atau kaka perempuan. Tiga anaknya: nona Stela, Balaile dan Windi. Windi Atalajar mengikuti jejak ayahnya sebagai wartawan. Ngepos di Radio SmartFM Jakarta. Thomas juga sudah punya cucu. Begitu juga saya. Punya satu isteri.

Selepas Pramuka, Vincent II, speed boat kecil itu melesat cepat sekali meninggalkan Pramuka. Macam lemuk, sejenis burung hutan yang kalau terbang secepat kilat di hutan di Boto, Nagawutun, kampung saya di selatan Lembata, Nusa Tenggara Timur. Pramuka, pulau yang pernah menggemparkan nyaris menggemparkan Indonesia dan jagad maya setelah ayat al-Maidah meluncur dari mulut Basuki Thajaja Purnama (Ahok), Gubernur DKI Jakarta kala itu. Sejarah mencatat, akibat dianggap keseleo akhirnya dibui.

Dari Pramuka lalu tak lama Vincent II mencium Bidadari, Sakit. Kaki saya melangkah ke bibir Bidadari. Mengikuti langkah arkeolog Chandian Achyat, sejarahwan DKI Jakarta, mas JJ Rizal, redaktur Harian Warta Kota mba Pradaningrum, Thomas Ataladjar, dan Irfal Guci dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DKI Jakarta. Sakit atau Lepra adalah nama tempo doeloe Bidadari, tempat pembuangan orang-orang yang menderita sakit lepra atau kusta. Karena itu, orang Belanda tempo doeloe di Batavia (kini: Jakarta) segera membaptisnya dengan nama Pulau Sakit atau Pulau Lepra.

Tapi nama itu seolah membawa citra atau stigma negatif bagi para penderita kusta. Jadilah Kusta atau Lepra segera berubah nama jadi Pulau Bidadari. Bidadari adalah salah satu dari kurang lebih 300-an pulau di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. “Bidadari sangat indah. Ada benteng Martello. Salah satu benteng peninggalan Belanda selain di Pulau Korsika, Italia. Nanti kita dua pigi cari jodoh lalu foto berpelukan sebentar,” kata Thomas Ataladjar. “Kita dua ini sudah tua. Sudah punya satu isteri. Jangan cari gara-gara,” kata saya kepada Thomas Ataladjar. Kami ketawa ngakak. Saya baru sadar di Pulau Bidadari ada pohon jodoh.

Sejarahwan Jakarta

Sejarah Jakarta tak akan pernah abai dengan nama Thomas, orang kampung Waiwejak, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Jakarta punya sejarahwan Ridwan Saidi atau anak muda JJ Rizal, Pastor Adolf Heuken SJ, dan sederet nama lain. Namun kalau omong sejarah DKI Jakarta Thomas adalah salah orang kampung dari pedalaman Lembata yang cukup paham dan kerap jadi rujukan, tempat bertanya. Ia tak sekadar menulis sejarah Jakarta untuk menambah sumber informasi bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama Dinas Kebudayaan dan Permuseuman. Karena itu, tatkala mencoba sandar di jodoh saya berkesimpulan, ternyata diam-diam Thomas, bekas frater Seminari San Dominggo, Hokeng, Flores Timur, itu sangat paham kisah dan seluk beluk Jakarta yang tempo doeloe bernama Batavia.

Pengetahuan dan pencarian yang tak kenal lelah membuahkan buku sejarah karyanya yang sangat fenomenal. Ia menulis sepotong sejarah Jakarta dalam buku “Toko Merah, Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung”. Buku itu diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. “Buku itu sudah lama terbit namun sangat menarik sehingga kerap menjadi rujukan bagi wartawan nasional maupun internasional dalam menyelami dan menulis sisi lain sejarah Jakarta tempo dulu. Buku saya itu juga dipajang di gedung-gedung bersejarah di kota Jakarta,” ujar Thomas saat kami dua kongkow-kongkow di rumahnya, Perumahan Bojong Gede, Depok, Jawa Barat suatu waktu.

Kata Thomas judul buku tersebut terinspirasi oleh Toko Merah. Tokoh Merah ini merupakan salah satu bangunan tua bersejarah. Usianya 300 tahun lebih. Toko Merah, kata gubernur DKI (1996-1997) Ali Sadikin (almahrum) juga merupakan salah satu dari 216 monumen cagar budaya yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta. “Toko Merah merupakan satu-satunya bekas rumah tinggal elit dari zaman VOC, yang paling utuh dan paling terawat serta terus mempertahankan keasliannya hingga kini. Sebagai salah satu bangunan cagar budaya, bangunan Toko Merah perlu terus dijaga kelestariannya,” ujar Bang Ali, sapaan akrab Ali Sadikin. Bang Ali turun gunung menulis Kata Pengantar buku itu.

Sukses menulis buku tersebut bertolak dari pengalamannya menjadi wartawan di sejumlah surat kabar dan majalah terbitan Jakarta. Juga pengalamannya sebagai karyawan di sejumlah kantor swasta di Jakarta. Thomas pun melirik bangunan Toko Merah untuk menelusuri sisi lain sejarah Jakarta. Bangunan Toko Merah berada di kawasan Kota Batavia Lama, Jalan Kali Besar Barat Nomor 11 Jakarta.

Baik Thomas maupun Ali Sadikin berpendapat, Toko Merah merupakan salah satu bangunan tua bersejarah dan cagar budaya yang perlu terus dilindungi, dilestarikan, dan dipromosikan. Hal ini penting karena merupakan aset sejarah budaya dan aset wisata sejarah Jakarta yang bisa mendatangkan nilai ekonomis yang tinggi bila dikelola secara profesional. Tak ayal, masyarakat penghuni kota diingatkan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Menurut Thomas, ada dua hal mendasar ia menulis sejarah Jakarta dengan starting point bangunan Toko Merah. Pertama, sebagai karyawan PT Dharma Niaga yang bertahun-tahun berkantor di bangunan ini teramat sering ia melihat wisatawan asing, mahasiswa, dan wartawan yang mengunjungi gedung ini. Namun, tak satupun karyawan kantor perusahaan itu yang dapat memberikan keterangan sedikitpun tentang bangunan itu kepada mereka.

Kebanyakan karyawan bahkan tidak tahu kalau kantor tempatnya bekerja merupakan sebuah bangunan bersejarah. Katanya bangunan bersejarah, tapi tak ada yang tahu di mana letak kesejarahannya. Apalagi kisah dan riwayat para penghuninya serta aspek arsitekturnya. Inilah yang merupakan awal pemacu inner-drive Thomas untuk mencoba mencari tahu perihal riwayat kesejarahan gedung ini. Kedua, setelah membaca buku Historical Sites for Jakarta karya Adolf Heuken, Thomas mulai menemukan sebuah titik terang paling tidak sebagai pijakan awal untuk memulai pelacakan. Keterangan yang diberikan mengenai Toko Merah dalam buku karya seorang imam Katolik dari Serikat Jesuit yang banyak menulis tentang sejarah Kota Jakarta itu pun sangat sedikit.

Dalam bukunya, Thomas mengemukakan bahwa warga Jakarta, khususnya orang Betawi, mungkin tak banyak yang belum tahu sejarah gedung Museum Pusat di Jl Merdeka Barat Nomor 12 Jakarta atau lebih beken dengan sebutan Gedung Jodoh. Setelah dirampungkan pembangunan fisiknya pada 1868, gedung ini menjadi tempat mangkal muda mudi Betawi.

Kehadiran mereka bukan untuk menontong arca gajah perunggu hadiah raja Thailand yang dipajang di halaman depan gedung. Bukan pula menyaksikan ratusan arca bisu di gedung itu. Kehadiran noni-noni Betawi juga bukan sekadar mejeng tetapi mereka berharap bisa dilirik para lelaki yang ngetem di sana. Bowo, seorang tenaga satpam Toko Merah punya sebuah kisah unik saat berjaga malam di gedung itu.

Kisahnya, menjelang maghrib semua pintu dan jendela di kantor ini (Toko Merah) telah mereka tutup dan kunci rapat-rapat. Semua ruangan di dalam bangunan ini telah mereka tutup rapat-rapat. “Gagang pintu itu kutarik. Sialan, terkunci dari dalam. Siapa di dalam?’ Ada suara perempuan merintih,” lanjut Bowo. Satpam itu menyiapkan pentungan. Apa yang ia lakukan? Benarkan para soldadu Kompeni melakukan perkosaan?

Thomas juga menyuguhkan kisah unik yang menyertai perjalanan waktu Toko Merah. Menurutnya, pada masa Kolonial Belanda, ada budak Timor yang pernah menjadi pekerja kantoran. Setelah meninggal, hantu-hantu budak Timor pun bergentayangan di bangunan Toko Merah. “Kulitnya hitam manis dan rambutnya ikal. Profil wajah pria asal daerah Timor, yang banyak saya kenal di Jakarta. Saya berusaha senyum dan hendak menyapanya, tapi lidah saya kelu,” cerita Isaac Ririmasse, seorang karyawan PT Dharma Niaga yang diwawancarai Thomas Ataladjar.

Dalam pengantar buku itu Prof Dr Adrian B Lapian, buku karya Thomas membawa pembaca kepada suatu jaman yang masih mengenal perbudakan. Di samping gambaran tentang pemilik gedung yang banyak berperan dalam panggung sejarah kolonial, di samping tokoh-tokoh sejarah yang termasuk high society di Batavia, kita dapat membayangkan penghuni-penghuni lainnya yang berstatus budak yang berasal berbagai penjuru nusantara, India, Sri Langka, Taiwan bahkan Afrika. “Pendeskripsian dengan gaya jurnalistik yang ringan namun mendalam membuat buku karya Thomas sangat penting digunakan bagi siapa saja yang mau mengetahui lebih banyak atau berniat mendalami tentang Jakarta tempo doeloe. Dengan demikian dapat memperkaya khasanah penghetahuan tentang Jakarta,” katanya.

Kepiawaian dalam menulis buku-buku sejarah Jakarta memudahkan Thomas Ataladjar leluasa berdiskusi dengan gubernur mulai dari Ali Sadikin, Suryadi Sudirdja, Soetiyoso (Bang Yos), Fawzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Thahaja Purnama hingga Anies Rasyid Baswedan. Beberapa buku sejarah Jakarta diberi Kata Pengantar Gubernur DKI Jakarta. Mulai dari Bang Ali, Pak Joko Widodo. Pak Jokowi menulis kata pengantar buku Thomas, “Si Jaguar dan Kisah Sejarahnya” sebelum Pak Jokowi terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia.

“Saya juga berterima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta Pak Fawzi Bowo. Beliau murid Pak Piet Boli Warat di SD Ignasius Loyola Menteng Jakarta. Pak Piet juga salah satu orangtua di Jakarta yang ikut dalam proses final perjuangan pemerintah dan masyarakat menjadikan Lembata daerah otonom baru tahun 1999. Airlangga Hartarto, salah seorang murid Pak Piet Boli Warat di SD Loyola. Saat ini Pak Airlangga adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Kabinet Presiden Joko Widodo,” kata Thomas.

Buku karya Thomas, “Meriam Si Jagur: Riwayat dan Kisah Sejarahnya” mendapat apresiasi Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta kala itu. Jokowi, mantan Walikota Surakarta itu menyampaikan, pihaknya menyambut baik dan menyapaikan selamat atas prakarsa Museum Sejarah Jakarta menerbitkan buku yang ditulis oleh saudara Thomas Ataladjar. Kata Jokowi, sebagai peninggalan sejarah, meriam kuno Si Jaguar perlu dirawat dan dilestarikan.

“Selain benang merah masa lalu, masa sekarang dan masa akan datang tentang kota Jakarta tidak hilang ditelan jaman juga generasi mendatang dapat terus menyaksikan keberadaan Si Jaguar sebagai salah satu ikon Museum Sejarah Jakarta dan salah satu maskot kebanggaan pariwisata Jakarta. Semoga buku ini semakin menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai sejarah peninggalan budaya, menjaga kelestarian dan mencintai kota Jakarta meningkatkan ketahanan budaya bangsa,” kata Joko Widodo.

Apresiasi kepada Thomas, sang penulis, tentu beralasan. Thomas bukan hanya menulis satu atau dua buku sejarah Jakarta. Belasan buku sejarah Jakarta juga lahir dari olah pikir, rasa anak kampung asal Waiwejak ini. Tak sampai di situ. Thomas juga menelusuri sejarah Banten, Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sumatera Barat. Limo Urang Gadang Badunsanak Dari Koto Gadang adalah buku sejarah lainnya tentang sepotong sejarah dari ranah Minang, Sumatera Barat. Juga Kisah Perang Lengkong Wetan di sekitaran Sungai Cisadane, Provinsi Banten.

Hari ini, penulis yang pernah memeluk jodoh, pohon di Bidadari berulang tahun. Selamat Ulang Tahun, kaka Thomas. Tuhan berkatimu sekeluarga. Semoga wabah Covid-19 segera angus dan kita kongkow-kongkow bareng Pak Irfal, Pak Candian, bang JJ Rizal sambil nikmati soto Betawi sekadar memanjakan lidah kita orang gunung Hobal dan Labalekan. Lidah yang sudah akrab dengan ubi kayu, ubi jalar, keladi, pisang, ubi hutan, kacang, katak, udang, daging rusa, celeng, bunga pepaya, daun ubi kayu, tuak kelapa, dan lain-lain.

 

Jakarta, 12 November 2020
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan