oleh

Bukan Hanya Piter Keraf

-Kolom-754 views

KALAU engko datang wawancara, harus siapkan diri baik-baik. Kuasai topik dulu yang mau engko tanyakan ke narasumber. Biar apa yang engko gali bisa engko dapat. Beritakan seimbang agar pembaca punya pemahaman yang utuh. Jadi wartawan yang profesional, mengabdi kebenaran. Jangan minta uang dari narasumber. Apalagi peras dorang. Jauh-jauh dari kampung moe mesti jadi atadiken. Bapa mengaji soro moe.

Di depan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Daerah Pemilihan NTT II, Ir Umbu Mehang Kunda, nasehat Petrus Boliona Keraf itu muncul. Saya meluncur ke Gedung DPR / MPR RI Senayan, Jakarta. Tahun 1998, saya meluncur ke Senayan. Saya membuat janjian untuk wawancara dengan Ir Umbu Mehang Kunda. Kala itu Umbu, anggota DPR RI asal Pulau Sumba itu ditunjuk Fraksi Partai Golkar menjadi Ketua Komisi III DPR RI. Komisi Ini membidangi juga masalah kehutanan. “Angalai, engko sudah makan?” “Belum, bapa.” “Kalau begitu engko makan baru kita omong-omong,” kata Umbu, sembari beranjak dan mengambil nasi kotak di samping meja kerjanya. Di lantai II Gedung Nusantara II DPR, kami makan siang.

Sejak tiba di Jakarta akhir Agustus 2008, saya tak langsung masuk dunia jurnalistik. Masih gagap dengan Ibu Kota. Masih agak bego, kata orang Jakarta. Karena itu saya muter-muter dulu ketemu teman-teman sesama dari NTT yang sudah jadi kuli disket di Ibu Kota. Kerap nongkrong di YLBHI, Gedung DPR RI atau margasiswa PMKRI Jalan Sam Ratoelangi 01, Menteng, Jakarta Pusat. Selain mendiskusikan isu-isu aktual, juga agar lidah saya tak kaku lagi kalau omong. Maklum. Baru dari kampung. Kalau omong, lidah bahasa Indonesia saya terasa masih kaku dan baku seperti dalam buku Tata Bahasa Indonesia karya ahli bahasa Indonesia Prof Dr Gregorius Perawin Keraf, kerabat Piter Keraf dari lefo Lamalerap.

Karena itu, jika saya main-main ke kantor DPR /MPR RI, (alm) Pak Umbu Mehang Kunda selalu ingatkan saya. Di DPR RI sini bukan hanya Umbu tapi juga ada orangtua, anggota DPR RI lainnya dari NTT. “Bukan hanya Pak Piter Keraf. Tapi juga ada Pak Manafe. Angalai sudah ketemu Pa Piter?” “Ketemu langsung, belum. Tapi pasti saya akan ketemu,” jawab saya. Umbu orang rendah hati, cerdas, menguasai bidang yang dipercayakan. “Pak Piter Keraf tengah siapkan diri jadi Penjabat Bupati kalau Lembata sudah resmi pisah dari induknya, Flores Timur. Kami akan all out bantu Lembata agar segera maju seperti daerah otonom baru lainnya di Indonesia,” kata Umbu Mehang Kunda.

Dalam hati saya bersyukur. Saya bertemu seorang politisi yang tengah mengemban mandat sebagai wakil rakyat di Senayan. Beliau menyapa saya dengan “angalai”. Setahu saya istilah ini sudah saya dengar di Kupang. Umbu seorang yang sangat familiar. Posisinya yang strategis sebagai ketua komisi, sangat leluasa menjadi tempat para wartawan bertanya soal kebikakan politik pembangunan bidang kehutanan dan pertanian. Tak terkecuali NTT. Karena itu, dalam konteks NTT beliau juga mengingatkan agar jangan hanya ia yang dikejar tuk bicara tetapi juga perlu bertemu Pak Manafe dan Pak Piter Keraf. “Jangan lupa ketemu Pak Manafe dan Pak Piter Keraf. Kalau sudah bicara menyangkut NTT, beliau berdua sangat welcome,” kata Umbu Mehang Kunda.

Tahun 1991 saat mulai kuliah di Undana, saya sudah dengar nama Drs Petrus Boliona Keraf. Saat itu, Piter Keraf, begitu ia akrab disapa menjadi anggota DPRD NTT. Saya dan Pak Rikardus Daton Klobor pernah bertemu Pak Piter di rumahnya, Naikoten. Begitu juga keluarga mantan Ketua DPRD NTT Pak Jan Kia Poli dan mantan Bupati Flores Timur Pak Drs Anton Buga Langoday. Kami berdua Pak Rikard Klobor bertemu para sesepuh dan mantan pejabat asal Lembata untuk urusan pembangunan Gereja Katolik Santu Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka.

Saya dan Pak Rikar berinisiatif menemui Pak Piter Keraf, keluarga Pak Jan Kia Poli dan Pak Anton Buga Langoday. Ketiga sesepuh asal Lembata ini juga sangat senang. Mereka bertiga juga masing-masing membantu uang tunai untuk Panitia Pembangunan Gereja Santu Joseph Paroki Boto. “Kamu dua nanti telegram beritau panitia. Boto itu bayak kemiri. Kalau bisa satu kepala keluarga timbang seluluh kilo kemiri di Loang dan uangnya untuk ikut tambah kamu bikin gereja itu. Gereja Boto itu pusat SSpS, kampung potensial tumbuhnya benih panggilan imam, biarawan, biarawati, suster dan bruder,” kata magun Piter sambil kami tiga ngopi bareng.

Piter Keraf sangat familiar. Ia politisi yang cerdas. Ia orangtua yang luwes dalam keseharian. Hal yang juga saya temui dari sabg adik, Dr Alexander Sonny Keraf. Sonny Keraf, misalnya. Intensitas pertemuan saya dengan Sonny pun tatkala nama beliau digadang-gadang masuk jajaran Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Saya menyambangi rumah Sonny di kawasan Utan Kayu. Sekadar diskusi soal pro-kontra nama beliau masuk sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup, terutama para aktivis lingkungan hidup. “Kita biarkan saja ade. Itulah dinamika dalam politik. Tapi sebagai anak bangsa, kalau dipercaya menjadi menteri harus siap. Itulah tanggungjawab sebagai warga bangsa dan Gereja,” kata Sonny Keraf. Kata Sonny, di wilayah Rukun Tetangga (RT), warga tengah mengincarnya jadi Ketua RT. Tapi, ia gagal karena terpilih jadi Menteri Lingkungan Hidup era Gus Dur. Saat membantu SKM Dian sebagai reporter lepas dari Jakarta, saya juga menulis di Dian. Saya ingat judulnya, Sonny Keraf: Diincar Jadi RT, Keburu Jadi Menteri.

Baik Piter maupun Sonny Keraf adalah sosok lain asal Lembata di Jakarta yang punya andil besar bersama pemerintah daerah saat-saat proses final Lembata menjadi kabupaten penuh. Begitu pula tokoh asal Lembata lainnya. Saat bersama tim otonomi Lembata baik dari daerah dan Jakarta, saya sudah mulai familiar dengan sejumlah nama dalam proses final itu. Sebut saja H. Suleman L Hamsa, pengusaha kaya raya di Papua. Pak Haji Suleman malah mengontrak beberapa kamar di Hotel Marcololo, Menteng selama berbulan-bulan untuk delegasi dari Lembata. Begitu juga ada (sekadar menyebut beberapa nama) sosok Brigjen Pol (Purn) Drs Anton Enga Tifaona, Petrus Boli Warat, Petrus Ola Atawolo, Anton Tukan, Petrus Tedu Bataona, Herman Wutun, Pius Kia Tapoona, Siprianus Pletu Botoor, Jos Pattyona, Petrus Bala Pattyona, Joachim Rebong, Saidi Beda, Thomas Ataladjar, Viktus Murin, Polce Ruing, Jery Sabaleku, dan lain-lain.

Perjuangan panjang mendorong Lembata yang dimulai melalui sejumlah tokoh seperti guru Petrus Gute Betekeneng, orangtua H. Muhammad Raya Belen, Sio Amuntoda, dan kawan-kawan hingga proses akhir Lembata menjadi kabupaten penuh, mengantar Piter Keraf duduk sebagai Penjabat Bupati Lembata, sebelum akhirnya bupati definitif Drs Andreas Duli Manuk dan ketua DPRD dijabat Piter Keraf. Tatkala libur di kampung halaman tahun 2001, saya sempat ngobrol dengan Piter Keraf di ruang kerjanya. Mereka sungguh bekerja all out bersama masyarakat menata Lembata agar perlahan-lahan maju sebagai daerah otonom baru. Saat awal menjabat, ia meyakinkan Pemerintah Pusat agar membantu Lembata dalam urusan pembangunan jalan raya. “Kita beruntung karena Pemerintah Pusat melalui APBN membantu kita bangun jalan dari Lewoleba ke Lewopenutung. Saya patahkan mitos “sampai kucing bertanduk, jalan Lewoleba-Lewopenutung sulit dibangun karena medannya sangat sulit’. Dan itu sudah saya buktikan. Sekarang jalan ke Lewopwnutung oto sudah bisa lewat,” kata Piter Keraf.

Pagi ini, kabar duka itu sampai di Jakarta. Putera Piter Keraf, reu
Abdy Keraf mengabarkan ayahnya menutup mata selamanya. Keluarga besar Keraf kehilangan sosok orang yang dikasihi. Pun masyarakat NTT juga kehilangan seorang mantan anggota DPRD NTT. Pemerintah dan masyarakat juga kehilangan seorang sosok pemimpin, mantan Penjabat Bupati dan mantan Ketua DPRD Lembata. Reu Abdy, Hari ini magu na panaf nai heru Alepte Kbelek teti Surga ona.

Keluarga besar tentu sangat kehilangan sosok orang yang sangat dikasihi. Namun, cinta Tuhan melampaui cinta keluarga. “Terima kasih, magu Piter. Jasa moe juga lefo Lamalerap, levotana Lembata, no ata ribu kame glupak hala, magu. Kame mengaji soro moe. Mengaji juga me soro kame fahakae”. Doaku juga untuk rekanmu, alm Bapa Umbu Mehang Kunda. Terima kasih untuk nasi kotaknya selama saya menjadi kuli disket di Senayan. Bahagia di rumah Bapa di Surga.

Oleh: Ansel Deri, mengenang Piter Keraf, mantan Penjabat dan Ketua DPRD Lembata, yang berpulang hari ini.

 

(Ket foto: Alm. Drs Petrus Boliona Ketaf
Sumber foto: oranglembata.com)

Komentar