oleh

Bupati Omaleng, Amungme, dan Perut Nemangkawi

-Kolom-271 views

DALAM sebuah ruang pertemuan saya mengajukan pertanyaan berikut. Mengapa masyarakat Papua, terutama suku Amungme dan Komoro, minta saham kepada PT Freeport Indonesia, sementara perusahaan raksasa tambang dunia itu beroperasi di tanah ulayat dua suku besar itu di Mimika? Bukankah dana satu persen dari laba bersih Freeport di perut Nemangkawi, gunung keramat itu sudah tersalurkan lewat Lembaga Masyarakat Adat Amungme dan Komoro atau Lemasko, dua pemilik tanah ulayat masyarakat lokal? Pertanyaan itu saya ajukan kepada Bupati Mimika Eltinus Omaleng saat berlangsung peluncuran buku “Papua Minta Saham: Posisi Papua di Tengah Renegosiasi Kontrak dan Divestasi Saham PT Freeport Indonesia” karya Omaleng di Hotel Borobudur, kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat tahun 2016.

Pertanyaan saya kala itu membuat suara Omaleng yang didampingi sejumlah pejabat eksekutif, legislatif, dan tokoh masyarakat Mimika, meninggi. Ia menjawab pertanyaan saya setelah moderator memberi saya kesempatan pertama bertanya sebelum acara peluncuran dan diskusi buku karyanya dimulai. Dana 1 persen bagi dua komunitas masyakarat adat dan Pemerinthan serta warga lokal belum seberapa. Pilihannya adalah Pemerintah Kabupaten Mimika dan Papua berhak memiliki saham Freeport Indonesia. Mengapa demikian, kata Omaleng, ada dua alasan.

Pertama, daerah operasi tambang Freeport Indonesia di grasberg adalah tanah ulayat suku Amungme dan Komoro. Kedua, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Pertambangan jelas memberi mandat besar kepada pemerintah, terutama pemerintah daerah untuk mengolah tambang daerah secara transparan dan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat sesuai amanat UUD 1945 (hal. 78).

Sosok Omaleng

Tatkala tiba di Bandara Udara Mozez Kilangin, Timika dalam penerbangan dari Bandara Sentani, suasana sejuk Timika, menyapa. Pesawat seolah meliuk di antara awan dan angin kencang. Badan pesawat seolah begitu ringan dimainkan angin yang bertiup kencang. Namun, panorama alam hutan seolah jadi obat penenang. Agak trauma setelah darah mengucur dari kedua kuping saat menikmati langit tanah Papua menuju Timika. “Eltinus Omaleng itu salah seorang anak suku Amungme dan pengusaha asli. Beliau adalah pengusaha sukses dan calon pemimpin masa depan tanah Papua. Saya membaca beliau bakal didorong menjadi pemimpin Mimika kalau saja beliau bersedia menerima mandat. Beliau punya jiwa kepemimpinan bagi rakyat terutama tanah leluhurnya, Amungme dan Komoro serta suku-suku lainnya di wilayah ini,” kata Yohanes Napan Labaona, kolega saya di SMP Lamaholot Boto dan kini Kepala SMAN SP-5 Timika saat kami ngobrol di rumahnya.

Omaleng lahir di Waa Banti, Mimika pada 15 Oktober 1972. Ia anak asli suku Amungme yang tergolong pekerja keras sejak masih remaja. Topografi Nemangkawi yang bertabur hutan, ngarai, dan lembah menjadikan Omaleng pribadi yang suka tantangan, pekerja keras sekaligus sosok anak kampung yang cerdas. Dialah salah satu anak muda yang merintis jejak bisnis kecil-kecilan melalui PT Salju Abadi Sejahtera, perusahaan lokal yang memasok tenaga kerja terbesar ke PT Freeport Indonesia. “Paitua Eltinus sangat peduli dengan warga masyatakat dan dunia pendidikan di tanah leluhurnya. Beliau juga pejuang kemanusiaan sebelum terjun di dunia politik hingga akhirnya dipercaya masyarakat Mimika mengemban tugas sebagai Bupati Mimika dua periode,” ujar Petrus Tubun Blikololong, mantan Kepala SMP Kokonao dan perintis TK St Avila Timika, kota Kabupaten Mimika.

Pada periode pertama 2014-2019, Omaleng menggandeng wakilnya, Yohanis Bassang. Palu Ketua KPUD Mimika Yohanes Kemong mengesahkan Omaleng-Bassang resmi memimpin Mimika, kabupaten yang kaya raya dengan topangan keuntungan Freeport Indonesia. Pada Sabtu, 7 Juni 2014, dari Graha Eme Neme Yauware Timika, Omaleng, anak asli suku Amungme resmi jadi Bupati Mimika. Pada 6 September 2014, Omaleng dan Bassang resmi dilantik. “Museum Rekor Indonesia atau MURI mencatanya sebagai pesta pelantikan bupati paling akbar dengan peserta mencapai 7.500 orang dan sebanyak 800 ekor babi dalam pesta bakar batu,” ujar Yohanes Napan.

Pada periode 2019-2024, ujar Yohanes Napan, Omaleng menggandeng Johanes Rettob sebagai calon wakil bupati. Dewi fortuna memihak Omaleng dan terpilih sebagai Bupati Mimika. Keluarga Omaleng tergolong orang biasa. Ia menikah dengan Nela Beanal Omaleng (Mama Nela). Dari perkawinan lahir lima orang anak yang terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Alex Omaleng, Siska Omaleng, Apria Omaleng, Albert Omaleng, dan Diof Omaleng. Onak dan duri juga menyertai perjalanan pengabdian pasutri Omaleng-Mama Nela. Sang isteri, Mama Nela, misalnya, pernah dipukul di dahi orang tak dikenal saat unjuk rasa di halaman Kantor DPRD Mimika pada 15 Januari 2018. Si pelaku tak menyangkah kalau korbannya adalah isteri orang nomor satu Mimika. Laporan pun meluncur ke Polres Mimika. Ahad, 19 April 2019 tepat pukul 09.00 WIT Mama Nela tutup usia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika akibat sakit.

Buku Karya Eltinus Omaleng

Perut Nemangkawi

PT Freeport Indonesia mungkin tidak akan pernah melakukan kegiatan penambangan di Papua. Informasi tiga peneliti asal Belanda sepulang dari Ertsberg menandai jejak awal perusahaan tambang raksasa itu melebarkan usahanya di Bumi Cenderawasih.

Paling kurang hal itu yang tergambar dari sejarah perjalanan PT Freeport Indonesia –perusahaan yang berafiliasi dengan Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.– di tanah Papua kurun waktu tahun 1936-1988, termasuk momentum penandatanganan Kontrak Karya Pertama (KK-I) pada 5 April 1957. KK-I yang diteken Menteri Pertambangan Republik Indonesia Slamet Bratamana ini berlaku untuk masa 30 tahun.

Sekadar tahu, saham mayoritas: 81,28 persen dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc., raksasa tambang Amerika Serikat yang berbasis di Phoenix, Arizona. Kemudian selebihnya, 9,36 persen saham dimiliki bersama Pemerintah Indonesia dan Indocopper Investama. Di tingkat global Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. mengoperasikan aset-aset besar, berumur panjang, dan secara geografis berada di empat benua dengan cadangan tembaga, emas, perak, dan molybdenum (sejenis logam transisi berwarna putih keperakan) yang jelas ada dan berpotensi.

Mulai dari pegunungan katulistiwa Papua (Indonesia), gurun Barat Daya Amerika Serikat, pegunungan berapi yang agung Peru, wilayah-wilayah penghasil tembaga tradisional Chile, sampai berbagai kesempatan menggembirakan yang muncul di Republik Demokratik Kongo. “Kami berada di garis depan dalam penyediaan berbagai logam yang esensial bagi dunia,” begitu yang tercatat dalam laporan ‘Memangun Dunia’ PT Freeport Indonesia, edisi 2011.

Namun, kembali soal kisah Ertsberg yang menjadi pembuka pintu jejak Freeport di tanah Amungsa, Papua. Tahun 1936, tiga peneliti asal Belanda masing-masing Jean-Jacques Dozy, Anton Hendrik Volijn, dan Frits Julius Wissel dalam upaya mencapai Gunung Gletser Jayawijaya menemukan Ertsberg atau Gunung Bijih. Ertsberg tak lain sebuah batuan hitam kokoh dengan kandungan tembaga menonjol 1.800 meter di atas permukaan tanah di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut (dpl) terbesar di dunia.

Menurut penulis dan aktivis hak-hak asasi manusia (HAM) Papua Markus Haluk, jauh sebelumnya pada 1623, Kapten Jan Carstensz berlayar di sepanjang pesisir tenggara kepulauan Papua. Carstensz menjadi orang pertama di dunia yang melihat puncak gunung tertinggi yang ditutupi salju. Nama Carstensz akhirnya diabadikan pada gunung tersebut yang dalam bahasa Amungkal disebut Nemangkawi.

Sekadar tahu lebih jauh, Dozy bukan orang biasa. Ia ahli geologi berkebangsaan Belanda, penemu Ertsberg, salah satu gunung yang akhirnya dieksplorasi perusahaan tambang raksasa dunia: Freeport Sulphur Company, yang belakangan berubah nama Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Dozy pula yang melakukan ekspedisi (Carstensz Expedition) ke Papua pada 1936. Ia lahir di Rotterdam Belanda, 18 Juni 1908 dan meninggal di Belanda pada 1 November 2004.

Ia juga yang menamai Ertsberg Mountain, yang diketahui melalui laporannya dan laporan tersebut baru dibaca Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. tahun 1960. Dalam laporan itu, ia menulis potensi emas yang dilihatnya di pegunungan Papua tatkala masih bekerja di Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij, salah satu anak perusahaan Shell Company. Dozy melaporkan penemuan tersebut dalam jurnal Geologi Leiden tahun 1939. Namun, karena pecah Perang Dunia II laporan tersebut tidak menarik perhatian dan tersimpan rapi.

Tahun 1960, setelah lima belas tahun Indonesia merdeka, peneliti lain, Forbes Wilson dan Del Flint menemukan kemudian membaca laporan Dozy. Berbekal laporan tersebut Wilson meluncurkan Ekspedisi Freeport dengan tujuan tak lain untuk mencapai Ertsberg. Ekspedisi ini menggunakan 14 perahu kuno dan 44 pendayung asli Komoro untuk mengangkut manusia dan barang melalui Sungai Mawati ke arah hulu di kaki pegunungan.

Berdasarkan catatan Wilson dalam The Conquest of Copper Mountain, April 1960 ia mulai mempersiapkan petualangan. Pada Mei 1960, ia bertolak ke Papua untuk membuktikan catatan Dozy. Anggota timnya sebanyak enam puluh orang. Mereka mengangkut kembali sampel bijih tembaga.

Sayangnya, alam Papua terlalu ganas untuk ditaklukkan. Angin puncak gunung sepertinya tak bisa diajak kompromi. Tak ayal, ia dan timnya mesti memaku tenda dan kantong tidurnya sehingga tak mampu diterbangkan angin yang berhembus kencang. Perjalanan itu membuahkan hasil setelah ratusan sampel batu Ertsberg bisa dibawa kembali.

“Dalam perjalanan pulang ke New York bulan Juli 1960, saya begitu gembira dengan penemuan saya di Erstberg,” ujar Forbes Willam seperti dirilis dalam The Conquest of Copper Mountain. Ia mengaku, hingga dua tahun kemudian pihaknya tak bisa melakukan apa-apa. “Setiap hari saya cuma makan siang sambil melakukan penelitian tentang ekspedisi awal di Irian Barat di Perpustakaan Umum New York dan sore harinya menuliskan catatan tentang ekspedisi 1960,” ujar Wilson.

Mozez Kilangin

Merujuk Nota Kronika dari Tembagapura, ekspedisi berhasil. Hal ini berkat bantuan Mozez Kilangin, seorang warga asli Suku Amungme dari Lembah Tsing, Mimika. Mozez yang membantu menunjukkan jalan, mengatur logistik, dan mengatasi perselisihan di pegunungan. Ekspedisi Freeport berhasil menemukan Ertsberg. Gunung Bijih ini diklaim memiliki deposit tembaga terkaya di atas permukaan tanah dan terdapat di atas tanah ulayat masyarakat Papua.

Namun, untuk memulai mengembangkannya agar mendatangkan nilai ekonomi tinggi bukan perkara mudah. Upaya mengembangkannya sulit dilakukan. Selain lokasi terpencil, transportasi pengolahan bijihnya juga tidak mudah. Tatkala Freeport melakukan pemboran untuk evaluasi cadangan bijih, tantangannya adalah mengangkut alat pemboran yang berton-ton beratnya menggunakan helikopter dengan kapasitas angkut 210 kg ke ketinggian 3.600 meter dpl.

Pada tahun 1963 berlangsung serah terima Nederlands Nieuw Guinea dari pihak Belanda ke Perserikatan Bangsa Bangsa, yang pada akhirnya mengalihkan Freeport ke Indonesia. Rencana proyek ditangguhkan akibat kebijakan Soekarno. Tahun 1966, peralihan kekuasaan penuh dari Presiden Soekarno kepada Jenderal Soeharto. Pembentukan pemerintahan baru yang mendorong investasi sektor swasta serta langkah-langkah reformasi ekonomi lainnya.

Menurut penulis Amerika Serikat Bradley R Simpson, hanya beberapa bulan setelah pecah peristiwa Gerakan 30 September dan melemahnya posisi Presiden Soekarno pada April 1966, Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. sudah memberitahu Departemen Luar Negeri AS bahwa Freeport membutuhkan satu kelompok pengusaha pro Undang Undang Penanaman Modal Asing (PMA) sebagai syarat perjanjian, yaitu perlindungan investasi dan iklim investasi yang layak.

Masuknya Freeport Sulphur Company ke Papua didukung dengan lahirnya Undang Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang disahkan pada 10 Januari 1967. Sementara itu Indonesia secara de facto masih dipimpin Soekarno. UU PMA telah didesain sejak awal melibatkan pihak asing dalam merumuskan, menyusun, dan memperbaiki bab demi bab hingga proses pengesahan Undang Undang tersebut.

“Perusahaan konsultan Amerika Van Sickle Associates yang berkantor pusat di Denver, membantu pejabat Orde Baru menyusun materi UU PMA sejak September 1966,” ujar Haluk mengutip Bradley Simpson. Freeport dan investor asing –jelas Haluk– memandang Soekarno yang antikapitalis dan antikolonialis sebagai batu sandungan besar mengeruk kekayaan alam di Irian Barat. Karena itu, jatuhnya Soekarno merupakan momentum yang ditunggu.

Setelah Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto pada 12 April 1967, sebulan sesudah UU PMA disahkan, pada 5 April 1967 Freeport dan Pemerintah Indonesia menandatangani Kontrak Karya Pertama (KK-I). Penandatanganan KK-I ini lebih awal dua tahun dari Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Tahun 1969. Hal ini terkait dengan lobi-lobi Elsworkth Bunker yang mengusulkan New York Agreement 1962 dan Rome Agreement 1969.

Bos Freeport kala itu, Langbourne Williams, jeli melihat peluang meneruskan proyek Erstsberg. Ia menyambangi Julius Tahija, bos Texaco dan kolega satu leting dengan Presiden Soeharto. Julius adalah serdadu Hindia Belanda atau Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL). Lelaki kelahiran Surabaya, 1916 itu adalah ajudan Panglima KNIL Jenderal Simon Spoor, musuh besar Jenderal Soedirman.

Langbourne dan Julius kemudian bertemu Menteri Pertambangan dan Perminyakan Indonesia Jenderal Ibnu Sutowo. Pertemuan bertujuan meminta agar Freeport dapat meneruskan Ertsberg. Pertemuan demi pertemuan yang alot akhirnya membuahkan hasil dan Freeport meneruskan proyek tersebut. Itulah awal mula Keberhasilan KK-I. Keberhasilan KK-I ini menjadi materi utama Julius Tahija memperkenalkan Indonesia ke luar negeri dan mempromosikan kebijakan Penanaman Modal Asing (PMA).

Kalau saja tak ada informasi dari Dozy, Volijn, dan Wissel sepulang dari Ertsberg, ceritanya tentu akan lain. Tak berlebihan menyebut mereka sebagai juruselamat Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. mengayun langkah ke timur, di tanah Melanesia, guna mengeksplorasi kandungan perut bumi Nemangkawi seperti tembaga, emas, perak, molibdenum, dan lain-lain.

 

Jakarta, 18 Oktober 2020
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan