oleh

Covid-19 dan Kemanusiaan kita

-Kolom-493 views

Covid-19 ini memang melumpuhkan nalar sehat sebagian manusia. Batuk dicurigai, bersin dicurigai, demam dicurigai, teman dijaga jarak, mau kunjung tetangga takut, dikunjungi sahabat tidak mau salaman, duduk berjauhan, belum lagi masker dimulut membuat pembicaraan serba tidak jelas.

Tepaksa angguk kepala saja, petanda merespon pembicaraan yang serba tidak jelas itu. Kita memang berada pada kondisi yang menuntut kita untuk serba jarak, serba hati-hati dan serba serbi lainnya. Lama-lama menjadi serba paranoid. Salah? Tidak juga.

Kemarin (Rabu, 15/4/2020) pukul. 18.00 saya didatangi seorang wanita muda, ketika berbicara dengan saya dengan jarak dua meter dia masih memakai masker, saya berusaha mendekat supaya jelas terdengar apa yang dia sampaikan.

“Tolong Pak, ibu saya meninggal dan saya mau mencari Pastor untuk misa requiem, Tapi saya tidak tau di mana mau diadakan,” katanya.

Hatiku sebagai seorang imam meleleh tak karuan. Saya jawab, ” Baik, saya mau misa untuk beliau”.

Tapi maaf Pastor, “Saya bingung mau misa dimana, sekarang ibu saya masih di ruang jenasah,” lanjutnya. {kebetulan yang meninggal ini dari luar kota Palangka Raya, sang ibu meninggal karena kangker dan ginjal}. “Kalau Anda tidak keberatan, bisa disemayamkan di Aula Gereja,” usul saya.

Mendengar jawaban saya gantian dia yang meleleh tak karuan. “Pastor, entah dengan cara apa saya harus berterima kasih,” dalam suara yang serak hampir tak terdengar. Tidak lama kemudian dia kembali ke RS untuk mengambil ibunya dan saya segera mempersiapkan tempat.

Tepat pukul 19.30, saya tanya apakah ada keluarga yang lain? Tidak ada jawabnya. Akhirnya saya mulai misa. Saya, suami si almarhumah dan anaknya. Iya kami bertiga saja. Sejak mulai misa saya begitu rapuh sekali, suara saya hampir tak terdengar karena air mata saya meleleh tak karuan. Membayangkan jika itu ibu saya, dan saat meninggal seperti ini tak ada satupun pelayat. Atau jika saya meninggal pada situasi seperti ini, saya benar2 seorang diri, mati dalam kesunyian, pergi dalam kesendirian. Dan, asli saya jadi lumpuh membayangkannya.

Dari Altar saya melihat anaknya sepanjang misa sesenggukan tak henti, membuat saya ikut meleleh. Ya Tuhan, inikah yang Engkau maksud, ” ketika lahir, kita datang sendirian, dan meninggalpun tetap seorang diri”?. Dan kenyataan itu saya alami saat ini. Pagi ini (Kamis, 16/4/2020) pukul 09.00 ibu itu akan dimakamkan.

Selamat jalan ibu, walau saya tidak mengenalmu tapi hati ini perih sekali rasanya menghantarmu ke surga abadi dalam situasi seperti ini. Dari kedalaman jiwaku berdoa, beristrahatlah dengan tenang dan damai, surga menantimu.
R. I. P. Ibu Krisela Arnasi

 

Oleh: Romanus Romas, Pastor di Palangka Raya

Komentar

Jangan Lewatkan