oleh

Demam Hamid vs Demam Corona

-Kolom-772 views

“Demam Hamid benar-benar mengalahkan demam ketakutan terhadap virus Corona”. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat kita, sampai-sampai protokol pemerintah tentang “social distancing” dan “physical distancing” pun tidak dihiraukan.

Ya, kita menghadapi realitas yang tiada tetapi ada (hidden reality), realitas mental, realitas rohani. Ia tidak kelihatan ada tetapi ada. Ia akan muncul begitu ada pelecutnya.

Saat kepulangan kembali Hamid ke kampung halaman, “hidden reality” tersebut muncul. Apalagi Hamid dipandang bukan lagi sekedar anak desa. Ia telah bertransformasi menjadi “sang Idol”, memiliki skill dan bakat artis.

Penampilannya di APB LIDA Indonesia memengaruhi, mengulik emosi banyak pihak, dan mempresentasekan logika identitas masyarakat pinggiran dan tertinggal. Pada tingkat tertentu mampu mereproduksi libidian euforia dan fanatisme baginya.

Bahaya masyarakat pseudoscience

Masyarakat semacam ini gampang termakan teori konspirasi, yang mudah digerakkan untuk menjemput keriuhan yang dibalut dalam logika identitas. Namun tanpa disadari sedang “menjemput bahaya”.

Apakah fenomena ini bisa dikontraskan dengan ancaman virus Corona. Wah, bukannya mereka tidak tahu. Mereka tahu. Namun Corona masih dipandang sebagai pemberitahuan saja. Belum memengaruhi cara berpikir, dan cara bertindak dalam mencegah penyebaran Corona dari sebagian masyarakat kita. Walaupun sangat berbahaya dan mematikan.

Lalu, bagaimana dengan kehadiran pejabat publik? Ia juga adalah produk masyarakat. Alih-alih sebagai wakil rakyat, kode etik dan protokol pemerintah pun dilanggar, toh ada insentif politik yang bisa didapat dari tindakan “berani mati” itu. Tindakan yang sudah semestinya dikritik.

Upaya Pencegahan

Sesungguhnya keriuhan ini bisa dicegah. Apakah melalui Manajemen LIDA Indosiar maupun pemerintah kita, dapat mengarantina Hamid di Jakarta hingga situasi benar-benar pulih. Ataukah karena terlanjur, pihak kepolisian dapat mengumumkan “cara penjemputan berbasis pencegahan Virus Corona”, tanpa massa, yang sejalan dengan Maklumat Kapolri.

Semoga kita dapat belajar dari pengalaman ini, sehingga dapat memilih tindakan “berani hidup” dan bukan “berani mati”. Salam.

 

Oleh: Fredrik Kande, Pegiat Pendidikan dan Sosial

Komentar

Jangan Lewatkan