oleh

Ekonomi Kreatif dan Bruce Lee

-Kolom-238 views

KITA perlu bangga, inisiatif Indonesia menjadikan tahun 2021 sebagai “International Year of Creative Economy for Sustainable Development” di PBB berhasil. Indonesia juga akan menampilkan performance, dalam rangka kegiatan internasional tersebut. Ini adalah kesempatan emas memanfaatkan podium internasional sebagai ajang menampilkan keunikan dan kreatifitas Indonesia, agar makin dikenal dunia. Tentu disamping membangun soft power (kekuatan pengaruh), ini juga sekaligus untuk mendorong ekonomi kreatif menjadi sarana pemulihan ekonomi.

Pemanasan di Indonesia dimulai, meskipun dalam bayangan Covid-19. Seminar kreatif ekonomi secara hybrid (offline dan online), cukup berhasil menginspirasi peserta. Lebih dari seratus pertanyaan atau tanggapan di chat saya lihat, selama acara. Senang melihat antusiasme ini. Peserta dari seluruh Indonesia, dan tampaknya mayoritas mahasiswa.

Peserta yang mendaftar juga hampir seribu orang. Luar biasa. Banyak juga yang terpaksa tak bisa join karena penuh. Sangat senang bisa sharing disini, banyak juga pertanyaan dari apa yg saya sampaikan. Saking semangatnya, ada beberapa yang kurang terkait dengan tema.

Tentang semangat Indonesia akan tampil dalam International Year of Creative Economy, saya jadi ingat film “The Legend of Bruce Lee”. Film serial itu, sekitar 30 episode tentang hidup Bruce Lee. Luar biasa sekali tekat Bruce ingin mempopulerkan beladiri Kungfu ke Amerika dan dunia, lalu melalui film tekatnya itu berhasil direalisasikan. Beladiri Kungfu yang sebelumnya tak dikenal, tiba-tiba terkenal di dunia. Capaian luar biasa itu, diraih Bruce Lee pada umur 32 tahun. Setelah itu, Bruce Lee meninggal.

Film serial biografi Bruce Lee itu, sangat bagus. Mungkin tak banyak yang tahu, Bruce Lee kuliah di Universitas Washington jurusan Filsafat. Dia juga sempat mengajar filsafat di universitas itu. Kungfu yang dikembangkan, berdasarkan pendalaman filosofi China. Disamping bekerja sangat keras dan disiplin, Bruce Lee mempunyai pikiran yang sangat terbuka. Dia belajar tinju, karate, taekwondo, jet kun do, dan bahkan cha cha dance. Dia tidak fanatik dengan apa yang dia miliki dan tidak merasa paling hebat, dia bertarung dengan mereka yang terbaik di arena beladiri itu untuk belajar. Bahkan, dia menantang siapapun yang merasa dirinya paling hebat. Dari situ, dia justru bisa mengembangkan berbagai teknik yang sulit untuk dikalahkan.

Disamping berbagai pertarungan yang mendebarkan, dialog dalam film Bruce Lee juga sangat dalam dan menginspirasi. Tak heran, film itu sangat laris. Film itu bahkan juga di-dubbing dengan bahasa Arab.

Lalu, apa yang bisa dipelajari dari Bruce Lee? Menurut saya, yang pertama tentu semangat kerja keras dan menjadi yang terbaik. Kedua, justru yang paling penting, adalah semangat keterbukaan untuk belajar dan mencoba memahami. Bruce Lee sangat percaya diri, namun bukan orang yang fanatik, dia tetap terbuka. Merasa diri paling hebat dan menutup diri, apalagi memaksa orang lain mengikuti kita, adalah jalan manjur menuju kemerosotan.

Ketiga, Bruce Lee sangat bangga dengan budaya China serta berusaha kebudayaan China (Kungfu) menjadi terkenal di dunia. Meski demikian, sekali lagi, dia sangat terbuka belajar dari aliran beladiri lain untuk memperbaiki, namun tidak kehilangan identitas Kungfu-nya. Itulah yang membuat dia sulit dikalahkan.

Indonesia bila ingin mendorong ekonomi kreatif terkenal di dunia (entah apa saja yang mau diunggulkan), perlu belajar dari spirit Bruce Lee tersebut. Keunggulan dan semangat menjadi terbaik, perlu menjadi spirit. Dan yang tak kalah penting, terbuka dan terus belajar serta memanfaatkan berbagai peluang. Jangan fanatik, menutup diri dan merasa sudah (paling) hebat, karena inilah justru sumber kemunduran. Semangat!!!

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar

Jangan Lewatkan