oleh

Hidupi Budaya ‘Gemohing’ Keluarkan Lembata dari Daerah Tertinggal

-Kolom-491 views

Kabupaten Lembata telah ditetapkan sebagai daerah tertinggal oleh Presiden Joko Widodo dalam Peraturan Presiden nomor 63 tahun 2020.

Kita mengakui bahwa angka kemiskinan di negeri ini masih relatif besar, termasuk Lembata. Padahal Lembata sendiri akan berusia 21 tahun pada 12 Oktober mendatang. Kita sebagai generasi muda tentunya harus melanjutkan perjuangan para tokoh pejuang Lembata yang telah bersusah payah sampai Lembata bisa berdiri sebagai sebuah Kabupaten hingga detik ini.

Tidak sulit untuk membawa daerah kita keluar dari persoalan kemiskinan ini. Toh, para pejuang otonomi dulu sanggup berjalan kaki berhari-hari dari desa dan bertemu di Hadakewa demi Statement 7 Maret 1954 kala itu. Dengan segala keterbatasan saat itu, namun mereka sanggup menjadikan Lembata sebagai sebuah kabupaten hingga terkenal di mata dunia saat ini.

Lalu kita yang saat ini yang telah dipermudah dengan kemajuan teknologi dan segala macamnya, masihkah hanya mampu mengeluh dan berteriak di tempat melihat segala bentuk penderitaan termasuk persoalan kemiskinan?

Saya dan Komunitas Taman Daun sudah dan sedang berusaha membawa Lembata keluar dari daerah tertinggal termasuk salah satunya dengan membangun rumah layak huni bagi warga karena di Lembata sendiri masih sangat banyak rumah yang tidak layak termasuk tidak memiliki MCK, jadi sangat layak kenapa Lembata ditetapkan sebagai daerah tertinggal karena selain infrastruktur jalan yang parah pun masih sangat banyak tempat tinggal masyatakat yang sungguh menyedihkan.

Manusia memang terdiri atas dua aspek, yaitu aspek jasmani dan aspek rohani. Memahamai aspek jasmani salah satunya adalah perumahan. Ketika seorang telah memiliki kondisi rumah yang sehat dan segar maka akan berpengaruh pada aspek non fisik. Aspek yang dimaksudkan itu terdiri atas mental, jiwa, atau hati yang bersangkutan.

Ketika lingkungan tempat tinggalnya dalam hal ini rumah yang bersih dan layak maka yang bersangkutan akan sehat untuk berpikir dan bertindak lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan juga menjadi penting bahwa membantu mendirikan tempat tinggal berarti membantu mengeluarkan mereka dari satu persoalan hidup yang selama ini membuat mereka tertimbun di dalam penderitaan itu.

Karena rumah merupakan benteng berlindung dan berpikir untuk kehidupan.

Tidak sulit sebenarnya jika kita kembali menyadari arti pentingnya warisan leluhur yakni budaya Gemohing (Gotong royong). Gemohing harus kembali dilihat sebagai aset atau kekayaan kolektif yang bernilai tinggi, karena dapat menjadi alat yang sangat efektif bagi kita dengan sumber-sumber daya yang sudah ada.

Salah satu faktor utama yang membuat pola hidup kita saat ini semakin jauh dari rasa kekeluargaan dan budaya gotong royong luntur adalah karena kita semakin terbiasa memposisikan diri sebagai objek, juga menganggap persoalan di masyarakat merupakan tanggung jawab Pemerintah.

Oleh karena itu, saya mengajak kaum muda untuk kembali mengangkat warisan gemohing dengan memposisikan diri kita sebagai subjek lalu bersama-sama memberantas kemiskinan di Lembata. Orang miskin tidak sekedar bisa dimaknai sebagai kekurangan harta kekayaan, tidak memiliki lapangan pekerjaan, melainkan oleh karena yang bersangkutan juga miskin aksi bahkan juga miskin hati.

 

Oleh: John Batafor (Pegiat Literasi dan Pengelola Komunitas Taman Daun Lembata)

Komentar

Jangan Lewatkan