oleh

Ignas Bethan dan Kupang

-Kolom-976 views

IGNAS Bethan duduk di atas batu karang di salah satu sudut Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sekitar tahun 1993-an. Sejak Harian Pos Kupang terbit perdana tahun 1992 kemudian menyapa warga di seantero tanah Flobamora, saya selalu mencari artikel-artikel para penulis dari lewotana. Rambut Ignas nampak kribo. Saya berpikir, kalau sisir barangkali pake sisir yang dibuat dari bambu. Foto Ignas itu terpampang dalam Matra, majalah bulanan yang terbit di Jakarta. Saya terpaku pada tulisan yang hampir memborong enam hingga tujuh halaman. Penulisnya Ignas Bethan. “Keindahan lautnya sulit dilukiskan. Gadis-gadisnya yang polos, amat eksotis dan sensual. Ignas Bethan bernostalgia ke kota paling selatan itu dan membagi kenangannya kepada Matra,” kata Ignas Bethan dalam lead catatan nostalgia di Matra.

Judul tulisannya, pendek: “Kupang”. Ia menulis tentang Kupang dengan narasi yang hemat saya memukau. Seperti kata motto Majalah Berita Mingguan Tempo: enak dibaca dan perlu. Pilihan kata, diksi laporan dalam rubrik (kalau tak salah) “Perjalanan” MATRA Ignas, si penulis, asyik dengan data yang kuat. Membaca laporan panjang Ignas Bethan, saya sampe hopang (cape) tapi tetap menggoda untuk menuntaskan, termasuk caption setiap foto. Saya juga kerap tergoda dengan catatan Ben Oleona, wartawan dan penulis asal Lamalerap, desa nelayan di selatan Lembata itu di Surya.

Ben Oleona, saudara kandung Ambros Oleona, guru mata pelajaran Seni Lukis saya di SPGK Lewoleba tahun 1987, menulis di Surya, harian Kelompok Kompas Gramedia (KKG) yang terbit di Surabaya itu. Tulisan Ben Oleona itu dalam bahasa Melayu Larantuka, kota asal Ignas Bethan, di ujung timur Pulau Flores, NTT. Saya bertanya dalam hati: apa urgennya Surya yang terbit jauh di Surabaya kasi masuk tulisan ringan dalam dialek Melayu Larantuka? Mana ada pembaca orang Larantuka atau Floles Timur yang akan baca artikel dalam bahasa Larantuka itu? Ini pertanyaan saya, orang udik yang baru datang ‘melarat’ di Kupang untuk sekolah tambah setelah tamat SMA di Lewoleba, kota Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata kala itu.

Menjadi loper koran musiman sejak awal Pos Kupang terbit tahun 1992 memudahkan saya dalam banyak hal. Kemudahan antara lain baca koran, tabloit, majalah terlebih dahulu sebelum pindah tangan ke pembeli. Pun kalau tak sempat laku lalu kembali ke agen, selalu saja bisa bernegosiasi dengan agen agar dibeli kembali dengan ‘harga eceran terendah’. Sejak melihat wajah Ignas Bethan dengan artikel “Kupang” dalam Matra, jauh-jauh hari saya tak lepas majalah edisi laporan “Perjalanan” Ignas ke pembaca. Saya sungguh naksir edisi itu agar bisa memilikinya selepas berganti bulan. Saya kagun dengan feature Ignas. Dalam hati, saya bertekad sauatu saat saya mesti bisa menulis laporan perjalanan seperti Ignas.

“Ignas memiliki kemapuan menulis luar biasa. Saya mengenal beberapa penulis dari Flores Timur yang bisa jadi rujukan adik-adik penulis muda yang terjun di dunia jurnalistik. Kalian mesti belajar dari para senior seperti Stephie Kleden-Beetz, Suban Kleden, Hermien Y Kleden, Kons Kleden, Ignas Bethan, Anzis Kleden, dan banyak penulis senior lainnya dari kampung halaman,” kata Thomas Ataladjar, wartawan senior dan sejarahwan Jakarta suatu waktu di kediamannya, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.

Anzis Kleden dan Ignas Bethan adalah dua senior yang tak pernah saya kenal secara langsung. Thomas mengaku, baik Ignas maupun Anzis ia sangat dekat. Teman diskusi yang baik tentang dunia tulis-menulis. Thomas dan Anzis pernah sama-sama menulis biografi Prof Dr Subroto, mantan Sekretaris Jenderal Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) atau Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi dan Menteri Pertambangan Energi Republik Indonesia. Cerita Thomas soal Anzis bikin saya senyum-senyum.

Anzis di mata saya wartawan paling irit senyum. Tahun 2000, tatkala masuk dalam rombongan 10 wartawan dari Jakarta melakukan liputan investigasi tambang marmer di sekitar Fatumnasi, Timor Tengah Selatan, Anzis ada dalam perut pesawat. Dari 10 wartawan yang rata-rata orang luar NTT, hanya berdua Anzis agak “unik”: itam dan kriting. “Maaf dari media apa? Maaf wajahnya ini macam dari Ambon. Kita belum kenalan,” kata saya sambil membetulkan seat belt di sampingnya sesaat pesawat akan terbang di udara dari Bandara Internasional Cengkareng menuju Bandara Internasional El Tari, Penfui, Kupang. Pertanyaan itu sesungguhnya tak menarik. Saya cuma pingin agar bisa tahu siapa sosok wartawan yang ‘irit senyum’ ini. Apalagi ia asyik membaca “Indonesian Observer”, koran yang ada di tangannya. “Kau dari mana, adik? Maksudnya asal dari daerah mana,” tanya Anzis Kleden. Dada terasa plong karena bisa saling kenal dan berbagi pengalaman.

Dalam urusan ini (berbagi tips menulis yang baik) saya akui Ignas Bethan adalah satu dari sekian banyak wartawan dari NTT yang suka berbagi kepada para juniornya. Kata Ignas Bethan, jurnalistik adalah dunia pewartawan bagi banyak orang. Selain mengasah ketrampilan dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan, ada hal yang wajib dilakukan. “Jadikan membaca itu kebiasaan, hobi. Anak-anak kita dari kampung halaman punya kemampuan menulis yang baik. Dulu kita punya semangat menulis bermodal mesin ketik. Sekarang teknologi sudah memberikan kemudahan. Belajar menulis terus dan berdiskusi dengan teman agar kalian tambah bagus dalam menghasilkan karya jurnalistik,” kata Ignas Bethan setelah saya “melapor” membaca ‘Kupang”, artikel beliau di Matra tahun 1993-an.

Sore ini Thomas Ataladjar mengabarkan, Ignas Bethan memenuhi panggilan Tuan Deo. Ignas, kata Thomas, adalah jurnalis dan penulis produktif, anak tanah Lamaholot di Ibukota Jakarta. “Namamu telah diabadikan Kompas, Majalah Matra, Hidup, Sportif, Aku Tahu, dan lain-lain serta Ensiklopedi Nasional Indonesia. Beristirahatlah abadi dalam rumah Bapa Surgawi, ama Nas,” kata Thomas. Selamat jalan, om Ignas Bethan. Tuan Deo pangge pulang. Damailah di sisi-Nya. Terima kasih ilmu yang sudah dibagikan juga kepada saya.

 

Jakarta, 6 Agustus 2020
Mengenang Ignas Bethan, wartawan senior dari Larantuka

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan