oleh

Islam, Kristen, dan Bunda Maria

-Kolom-17.733 views

SEJAK tinggal di Jakarta akhir 1998, saya kerap berjumpa dengan banyak orang dari berbagai latar belakang suku, agama, golongan, pendidikan, dan lain-lain. Bertemu langsung atau sekadar say hello, via jejaring maya. Berdiskusi sekaligus bersahabat sebagai sesama umat Tuhan yang punya tugas yang sama: merawat kemanusian universal agar dunia semakin indah diliputi damai dan sukacita. Selain itu, saling mengisi dan menambah ilmu pengetahuan melalui dialog informal sebagai sahabat sesama peziarah kepada Tuhan, Sang Sabda dan Raja Semesta Alam.

Saya mencatat ada sahabat Zuhairi Misrawi (Gus Mis), intelektual muda Islam lulusan Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. “Kita ngobrol santai di kantor Jaringan Islam Liberal,” kata Gus Mis setelah kami bergerak dari kampus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Rawasari, Jakarta. Dua sahabat lain, Ali Usman dan Hasibullah Sastrawi, tak pernah bersua. Namun, kerap ngobrol via jagad maya. Selain tentu masih banyak lagi intelektual Muslim yang tak sempat saya sebut di sini.

Ali kerap menyapa saya, “Romo” (pastor) meski status saya bukan itu. Awam tulen. Kisah seminari pun saya bilang cuma “hanya mendengar cerita emperan” gedungnya saja; tak sampai duduk dalam ruang kelas seminari (sekolah calon pastor). Kalau saya menyapa mas Ali “ustad”, ia terasa berat karena dosen Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta itu menganggap dirinya belum “layak” disebut ustad.

Sedang Hasibullah Sastrawi adalah intelektual muda Muslim jebolan Universitas al-Azhar Kairo. Analisa soal toleransi dan pluralisme mengisi sejumlah media nasional. Nama ini pun belum pernah saya jumpai langsung sekadar ngopi atau ngeteh bareng. Intelektual Muslim ini pernah menyampaikan pandangannya soal relasi Islam-Kristen dan posisi Bunda Maria yang sangat dihormati umat Katolik. Enam tahun lalu, saya mewawancarai Hasibullah. Buah pikirannya saya share di blog pribadi dalam judul Islam Menghormati Bunda Maria. Berikut saya turunkan pandangan Hasibullah tentang Maria, ibunda Yesus. Mulai tanggal 1 Oktober, umat Katolik seluruh dunia berdoa dan berdevosi kepada Maria, Ratu Rosari.

Kepada seluruh umat Katolik, para kerabat seiman, “Selamat Memasuki Bulan Rosario. Semoga melalui Bunda Maria, doa-doa kita didengar Tuhan. Semoga pula wabah Covid-19 segera musnah dari muka bumi dan seluruh umat manusia kembali berkarya untuk memuliakan nama Tuhan”. Selamat pagi. Semoga Bunda Maria mendengar doa dan harapan kita semua.
——————————————————–
Pengalaman perjumpaan lintas sosial dan agama ia gunakan menguji kandungan ayat Al-Quran. “Umat Kristiani adalah komunitas yang paling dekat dengan umat Islam,” ujar Hasibullah Sastrawi.

ADA BANYAK pengalaman peneliti Moderate Muslim Society (MMS) ini mengenal lebih jauh agama Kristen dan para penganutnya. Secara normatif, sejak awal ia menyadari kedekatan Islam dengan Kristen. Tatkala masih di kampung ayat-ayat suci Al-Quran dibacanya. Ia pun menemukan ayat yang menegaskan kedekatan Kristen dengan Islam (Qs.Al-Maidah: 82).

“Islam menghormati Kristen sebagai “kakak kedua”, agama samawi yang diturunkan sebelum Islam. Al-Quran memposisikan Yesus setara Nabi Adam,” ujar Hasibullah di Jakarta.

Pengetahuan dan pergaulan yang luas membuatnya kerap diundang pihak gereja dan kampus-kampus filsafat dan teologi Kristen. Ia ikut membahas pandangan Islam mengenai agama Kristen dan Yesus.

“Ada yang menarik. Islam menghormati Bunda Maria sebagai perempuan suci yang dijauhkan dari pelbagai kekurangan dan perbuatan tercela. Al-Quran juga membahas keistimewaan Bunda Maria,” jelas Hasibullah.

Dalam salah satu surat dalam Al-Quran, diberi nama surat Maria atau Mariam. Padahal di internal umat Kristiani, mungkin ada sebagian komunitas yang tidak mensucikan Bunda Maria sampai pada tahap seperti yang dilakukan Islam.

Menurut Hasibullah, relasi perjumpaan seperti itu terbawa dalam kesehariannya. Sebuah keluarga Katolik, ia anggap sebagai bagian keluarganya. Saat bulan puasa, semua anggota keluarga buka bersama. “Saat Natal, saya dan kawan-kawan silaturahmi ke rumahnya,” kenang Hasibullah.

Pada simpul ini, ia membenarkan kandungan Al-Quran terkait kedekatan Islam dengan Kristen. “Dua agama ini sama-sama agama samawi dan menekankan pentingnya kasih sayang kepada sesama,” katanya.

Pluralisme

Di tengah upaya menjaga pluralisme dan toleransi, umat selalu diuji. Kasus yang pernah terjadi, bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Minggu, (25/9 2011). Menurut Hasibullah, pemerintah harus menemukan pelaku teror. Baginya, terorisme melukai kemanusiaan dan mengabaikan pluralisme.

Padahal, sebagai fitrah kehidupan, pluralisme harus dikelola positif dan konstruktif. Tak ada seorang pun mengelak dari fitrah pluralisme. “Manusia adalah ‘pluralisme mini’ yang dapat dijadikan cermin memahami ‘pluralisme semesta’,” ujar Hasibullah, intelektual muda lulusan Fakultas Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar, Cairo, tahun 2004.

Seseorang yang melawan pluralisme hakikatnya melawan fitrah kehidupan. Ia senantiasa terjebak dalam hubungan konfliktual dengan semua hal di sekitarnya, termasuk dirinya. Melawan pluralisme sama dengan melawan Tuhan.

Itu sebabnya, pluralisme menjadi semangat utama hampir di balik semua disiplin keilmuan Islam. Ilmu fiqih (tata hukum Islam), contohnya, identik dengan pluralisme pandangan. Bahkan Imam Syafi’i, ahli fikih yang sekarang jadi panutan mayoritas umat Islam Indonesia, dikenal sebagai tokoh yang mempunyai dua pandangan. Yaitu pandangan lama: waktu beliau tinggal di Irak dan pandangan baru: waktu tinggal di Mesir.

Semangat pluralisme yang hampir sama juga ditemukan di dalam konsep teologi Islam. Bahwa hanya Tuhan yang tunggal. Sedangkan makhluk ciptaan Tuhan tidak ada yang tunggal. Oleh karenanya, semua makhluk Tuhan harus mempunyai semangat untuk menunggal.

“Karena itu, umat beragama yang antipluralisme melawan semangat kehidupan. Umat Islam yang antipluralisme tidak paham dan keluar dari tradisi dan ajaran keislaman,” lanjut kolumnis dan pengamat masalah Timur Tengah, ini.

Kegagalan pemerintah

Upaya negara dan masyarakat merawat pluralisme senantiasa dituntut. Namun, negara acap tak berperan melestarikan pluralisme. “Pada tahap tertentu negara gagal melestarikan kemajemukan,” katanya.

Laporan akhir tahun 2010 MMS memperlihatkan kegagalan pemerintah melestarikan kemajemukan. Dari 81 kasus intoleransi sepanjang 2010, 33 di antaranya dilakukan kelompok massa. Kemudian 24 dilakukan negara dan 23 kasus dilakukan ormas.

Tiga besar pelaku intoleransi tidak mengalami perubahan pada 2009 yang menempatkan pemerintah paling sering melakukan tindakan intoleransi (22 kali), ormas (18 kali) dan massa (12 kali). Hanya urutannya yang mengalami pergeseran.

Pemerintah daerah/pemerintah kota, polisi, dan Satpol PP merupakan tiga aparatus negara yang paling sering melakukan intoleransi. Dari 24 kasus yang dilakukan negara, 22 di antaranya dilakukan tiga aparatus negara yakni pemerintah daerah/pemerintah kota (11 kali), polisi (6 kali) dan Satpol PP (5 kali).

Dalam kondisi seperti ini, negara menambah beban hidup masyarakat. Padahal negara lahir untuk membantu meringankan beban mereka.

“Saya katakan demikian karena kesadaran akan pluralisme cukup kuat dalam kehidupan umat beragama. Buktinya masyarakat Indonesia dikenal dengan nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan toleran,” lanjut Hasibullah.

Secara kelembagaan, ia melihat ada persoalan. Adanya perilaku diskriminatif negara terhadap agama-agama seperti pembangunan tempat ibadah. Kalangan mayoritas mudah membangun tempat ibadah. Berbeda dengan kelompok minoritas.

“Sejatinya negara bersikap adil dan tidak memiliki kapasitas membeda-bedakan satu dengan yang lain. Apalagi berlaku diskriminatif,” tandas intelektual muda Nahdlatul Ulama ini.

Menurutnya, dialog inter maupun antar penganut agama belum efektif merawat pluralisme. Benar bahwa dalam kehidupan masyarakat dialog antarmasyarakat sering berlangsung. Namun, harus digaris bawahi. Semua itu belum dilandasi “kesadaran keagamaan”.

Masyarakat melakukan kegiatan lintas agama lebih karena kebutuhan pragmatis dan politis. Dialog antaragama atas dasar “kesadaran keagamaan” terbatas. “Dialog harus berkelanjutan dan berangkat dari landasan keimanan yang kuat. Dengan demikian, masyarakat tidak mudah diprovokasi,” ujarnya.

Tokoh pluralis

Ia mengapresiasi sejumlah tokoh yang membumikan pluralisme dan toleransi. Misalnya, Gus Dur, Cak Nur, Syafie Maarif, Gus Mus, Romo Mangun, Romo Magnis, Pdt Martin Sinaga, dan lain-lain. “Kalau terorisme masih terjadi, jelas itu bukan kesalahan mereka,” katanya.

Tatkala menimba ilmu di Kairo, ia dekat dengan sejumlah tokoh lintas agama. “Saya sering mengundang mereka menjadi pembicara. Hasilnya kita muat dalam buletin,” kenangnya.

Sikap menghargai pluralisme lahir sejak jaman Nabi Muhammad. Pada masa tertentu Islam tampil sebagai sosok fâ’ilu at-tasâmuh (mentoleransi). Pada masa lain tampil sebagai maf’ûlu at-tasâmuh (yang ditoleransi).

Hubungan antara Islam dengan toleransi atau pluralisme bagaikan antara as-sabâb wal musabbab (sebab-akibat), atau antara asy-syarthu wal masyrûth (syarat dengan yang disyaratkan). Secara normatif, keduanya selalu bersama. Di mana ada Islam di situ ada toleransi dan pluralisme. Islam diturunkan (salah satunya) untuk toleransi dan pluralisme.

Hasibullah adalah intelektual yang mulai dikenal. Pengetahuannya tentang filsafat dan sosial-kemasyarakat luas. Saat baru berusia 16 tahun, ia hijrah ke Mesir. Kehadirannya di sana diyakini sebagai hidayah. “Mesir mengandung ilmu-ilmu yang dibutuhkan peradaban, khususnya terkait pluralisme,” katanya.

Hasibullah Satrawi, lahir di Madura, 14 Oktober 1983, pekerjaan sebagai Peneliti Moderate Muslim Society, Jakarta. Tokoh idolanya adalah Gus Dur, Gus Mus, Romo Mangun, Romo Magnis.

Pendidikan:

  • Sekolah Dasar Negeri Telaga I, Ganding, Sumenep, tahun 1994.
  • Madrasah Ibtidaiyah Nurul Jadid, Telaga, Ganding, Sumenep, tahun 1994
  • Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Madura, 1995-1999.
  • S-1 jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, 1999-2004).

Buku:

  • Bunga Rampai tentang Ahmadiyah (Wahid Institut, 2006)
  • Bunga Rampai tentang Pluralisme (diterbitkan oleh LSAF, 2008),
  • Syarah Undang-Undang Dasar 1945 (MK, 2009).

Menulis di harian Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Koran Tempo, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, dan lain-lain. Nara soal keislaman dan demokrasi di Metro TV, TV One, dan TVRI.

 

Jakarta, 1 Oktober 2020
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan