oleh

Jumlah Penduduk Miskin NTT Menurun?

-Kolom-1.631 views

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2019 sebanyak 1.129,46 ribu orang atau 20,62%. Angka ini menurun dari Maret 2019 sebanyak 16,86 ribu orang dengan presentase penurunannya mencapai 0,46%. Penurunan angka ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun di daerah perdesaan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur.

Dalam mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kebutuhan dasar. Metode ini telah digunakan oleh BPS sejak 1998. Hal ini agar dapat membandingkan data dari waktu ke waktu. Penduduk miskin berdasarkan konsep BPS adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan (GK), baik dari segi makanan dan bukan makanan. Garis kemiskinan di NTT sebesar Rp 383.762 per kapita. GK dengan nilai tersebut berarti, penduduk NTT yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Rp 383.762 digolongkan sebagai penduduk miskin. Namun, sekali lagi dijelaskan bahwa Rp 383.762 adalah pendapatan untuk per orang. Jika dikali dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin di NTT yaitu 5,81 maka garis kemiskinan per rumah tangga per bulan menjadi Rp 2.229.657.

Berikut disajikan trend data persentase penduduk miskin di NTT sejak tahun 2015:

Berdasarkan grafik tersebut di atas, persentase penduduk miskin di NTT selama periode Maret 2015-September 2019 cenderung mengalami penurunan. Penurunan jumlah penduduk miskin maupun persentasenya semata-mata bukan hanya dilihat dari segi besarnya penghasilan yang diterima penduduk tiap bulan melainkan ada faktor-faktor lain yang turut berpengaruh. Salah satunya yaitu terjadi penurunan harga barang-barang bahan makanan (deflasi bahan makanan) selama periode Maret-September sebesar 1,98%. Hal ini bisa disebabkan oleh banyaknya panen raya yang terjadi selama periode Maret-September yang mengakibatkan harga bahan makanan menjadi menurun. Selain dari faktor deflasi, berdasarkan data BPS, pada September 2019, Nilai Tukar Petani (NTP) di NTT mengalami kenaikan sebesar 0,6% dengan presentase NTP yaitu 106,26%. NTP sebesar 106,26% berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari harga kenaikan harga konsumsinya. Artinya pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.

Penurunan jumlah penduduk miskin maupun angka persentasenya tentu memberikan dampak positif bagi pemerintah serta masyarakat. Masyarakat diharapkan agar selalu produktif agar taraf kehidupan semakin membaik dan terus mengupayakan memperbaiki kualitas hidup. Pemerintah baik di tingkat nasional dan provinsi juga turut serta dalam menjaga dan terus menurunkan angka penduduk miskin Indonesia pada umumnya dan di wilayah NTT khususnya. Dengan merancang kebijakan-kebijakan yang tepat dan pengambilan keputusan yang sesuai dengan kondisi di lapangan diharapkan jumlah penduduk miskin yang ada semakin berkurang.

 

Oleh : Onny Fatimah, Mahasiswi Politeknik Statistika STIS, Jakarta asal Nagekeo

Komentar