oleh

Kado dari Rantau ke Rantau

-Kolom-267 views

BUKU ‘Membangun Tanpa Sekat (MTS)’ tiba di Nunukan, kota Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, daerah tapal batas Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia. Ibu Rosa Barek Wadan, warga Lembata kelahiran Puor bahagia menerima buku tersebut kemarin. Bersama sang putri, Medy Wuwur, ibu Rosa senang dan mengabadikan buku itu bersama putrinya. Dua dokumen foto segera ia teruskan ke si pengirim.

Sang puteri, Susan Wuwur, mahasiwi Universitas Pasundan Bandung, Jawa Barat mengoleksi satu eksemplar dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Ini sekadar kado dari rantau ke rantau, pengobat rindu kampung halaman. Susan perlu membawa buku itu agar jadi kado dari rantau warga asal Lembata lainnya di rantau.

“Saya sudah terima. Senang sekali. Segera saya nikmati sajian para penulisnya. Kami akan baca gantian dengan kakamu,” kata ibu Rosa, isteri Anton Kia Wuwur, salah seorang ketua komite sekolah dan aktivis Gereja di Nunukan. Baiklah kalau begitu, ibu Rosa. “Kakamu” merujuk suaminya, Anton Wuwur. Saya akrab menyapa Anton Wuwur dengan ‘kaka’. Anton dari Puor, Wulandoni, sekampung ibu Hermien, salah seorang penulis di buku MTS. Sedang Rosa, masih kerabat, ponakan almarhum ayah saya.

Buku tersebut karya sejumlah warga diaspora Lembata. Tujuannya, ikut ambil bagian dalam kemeriahaan Hari Ulang Tahun ke-21 Otonomi Lembata tahun 2020. Para penulis ini hadir dengan cara berbeda. Menuangkan pikiran sesuai dengan minatnya masing-masing lewat buku. Kontennya pun soal perjalanan Lembata 20 tahun terakhir selepas dari induknya, Flores Timur, sebagai sebuah daerah otonom. Pemerintah Kabupaten Lembata bersama masyarakat merayakan HUT dengan penuh sukacita. Karena itu, para penulis baik yang di lewotana, leu awuq juga memandan perlu “antar dulang” kepada tanah leluhur dan ribu ratu dengan cara unik: menulis buku.

H. Sulaeman L Hamzah, sesepuh Lembata Jakarta dan Ketua Masyarakat Flobamora Papua turun gunung menulis dalam buku ini. Pak Haji Sulaeman adalah anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua yang tengah bertugas di DPR RI Senayan periode kedua. Tak sampai di situ. Menteri Kominfo RI Johnny G Plate juga berkenan menulis Kata Pengantar. Sekadar tambahan: Johnny pernah jadi anggota DPR RI Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 yang meliputi juga Lembata, selain Flores, Adonara, Solor, dan Alor.

Penulis lainnya, ada Dr Justin Wejak, dosen Kajian Asia di The University of Melbourne, Victoria, Australia. Magun Justin dari Baolangu. Berikut ama Akhmad Bumi, SH, praktisi hukum di Kupang; bekas anggota DPRD Lembata. Ada pula Dr Bernard Atawolo OFM, imam Fransiskan yang juga doktor Teologi Dogmatik lulusan Universitas Kepausan Antonianum, Roma. Kini beliau jadi guru di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Berikut Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, dosen Liturgi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero Maumere, Flores. Selain itu ada Dr Marsel Ruben Payong, dosen Unika Santo Paulus Ruteng, Dr Thomas Tokan Pureklololon, doktor Teori Pemikiran Politik lulusan Universitas Indonesia dan kini mengajar di Universitas Pelita Harapan. Ada juga Fr Albertus Pontianus Geroda Atawolo CMM, lulusan Faculdade Ciencias e Educacao, Departemen da Lingua Portuguese da Universidae Nacional Timor Lorosae. Kini Fr Alberto adalah misionaris di Brazil. Fr Albert dari kampung Udak, Kecamatan Nubatukan. Udak berada di kaki bukit tak jauh dari Lewuka, Kecamatan Wulandoni. Dan juga masih ada penulis lainnya.

 

Jakarta, 20 November 2020
Oleh: Ansel Deri

Editor dan Penulis Buku MTS

Komentar

Jangan Lewatkan