oleh

Kegelisahan yang Nikmat dari Dogiyai

-Kolom-330 views

DUNIA tahu Papua ibarat surga kecil (yang) bergelimang harta kekayaan alam. Papua seperti gadis hitam manis yang punya daya tarik bagi para perjaka. Mereka -para perjaka- rela antri menaklukkan hati si gadis itu. Bisa saja lewat pintu belakang meyakinkan orangtua si gadis agar dia boleh bersedia diajak masuk altar Gereja kemudian sah di tangan pejabat Gereja selaku wakil Tuhan. Namun di balik itu, Papua juga negeri dengan aneka “luka batin”. Kekerasan saban tahun terjadi di benua besar paling timur Indonesia itu. Banyak warga kerap meregang nyawa di atas tanah sendiri. Namun, seketika Papua seperti gula yang dikerubuti semut.

Kalau ia gadis cantik sekelas pesohor dunia Madonna atau Maria Ozawa di negeri Sakura, Jepang, ia (Papua) seperti terus gelisah. Gelisah karena setelah dipacari lalu langkah ke altar Tuhan kandas di tengah jalan. Si pria pujaan lari menjauh tak ada kabar berita. Lalu si gadis bertahan dan setia bermuram durja dengan kecantikan tubuh dan kecantikan alam perawan bertabur emas, perak, tembaga bahkan uranium. Ia (Papua) setia dengan kekayaan alam melimpah, tempat seluruh kekayaan alam dinikmati manusia via korporasi jumbo. Ia tetap menampakkan wajah ganda: kegelisahan sekaligus kenikmatan bagi manusia.

Tengoklah ke lekuk Nemangkawi di atas tanah leluhur suku Amungme dan Komoro. Atau arahkan mata ke hutan, gunung, lembah di Dogiyai, maka mata hati Anda akan dibasuh dengan kekayaan alam melimpah di tengah jepitan alam pegunungan yang sulit diajak kompromi. Coba bayangkan jarak Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai ke dua distrik (kecamatan) di sana berjarak tempuh 300-400 kilometer. Dogiyai terpenjara dalam dekapan alam perawan di tengah kelimpahan ubi kayu, ubi jalar, kopi, dan aneka tanaman langka. Paling kurang, kisah sahabat saya, ada enam jenis pohon lebih hanya tumbuh di Dogiyai. Itu untungnya. Tapi buntung karena akses jalan ke beberapa wilayah distrik belum bisa dicover APBD kabupaten maupun APBD provinsi.

“Ada dua distrik jaraknya sangat jauh dari Moanemani. Kurang lebih 300 hingga 400 kilo meter. Dari kota distrik atau kecamatan menuju beberapa kampung atau desa jarak tempuh warga selama dua hingga tiga hari. Ini adalah kegelisahan kami anak-anak kampung dan seluruh warga Dogiyai,” ujar Yakobus Dumupa, tatkala menjadi anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), wadah kultural penyambung lidah rakyat. Sekadar tahu. Papua selain memiliki Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) juga punya lembaga resmi lainnya bernama MRP.

Wadah MRP hadir untuk mengakomodir berbagai elemen seperti tokoh agama, tokoh adat, perempuan, pemuda, dan lain-lain untuk bersama DPRP memperjuangkan hak-hak lokal orang asli Papua (OAP) sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. MRP adalah wadah resmi selevel DPRP sesuai perintah Undang-Undang Otonomi Khusus Papua, yang segera akan berakhir tahun 2021 mendatang. Tentang akses jalan yang sulit, misalnya, adalah kegelisahan (putera-puteri, elite bahkan) warga asli Papua dari Dogiyai seperti Yakobus Odiyaipai Dumupa, bekas anggota MRP yang kini memimpin Dogiyai bersama wakilnya, Oscar Makai.

Buku “Ungkapan Kegelisahan: Catatan Harian Tahun 2012” adalah buah karya intelektual Yakobus Odiyaipai Dumupa, seorang anak asli dari suku Mee yang menghabiskan waktu sekolah dari kampung. Kemudian di bawah bimbingan para pastor Ordo Fratum Minorum (OFM) tatkala ia melanjutkan studi SMA, ia tumbuh menjadi pribadi dengan etos kerja menggunung laiknya anak kampung kebanyakan di lembah, sungai, gunung, dan ngarai demi meraih masa depan bagi keluarga dan tanah leluhur, tempat ari-arinya dibenamkan.

Kemudian melangkahkan kaki yang kekar menuju Yogjakarta untuk melanjutkan studi di kota yang kini dipimpin Sri Sultan Hamengkubuwono X dan kembali berbekal ilmu pengetahuan untuk didharmabaktikan di tanah leluhurnya Papua, khususnya Dogiyai. Pulang kampung, tinggal di honai bersama orangtua dan saudara serta saudari adalah kerinduan yang amat sangat. Masuk jadi anggota MRP dan mengabdi di sana, kegelisahan terus menghantui. Bahkan ia pernah merasa orang asli Papua kurang mendapat perhatian elite lokal. Sebuah kritik atas dirinya dan rekan-rekannya.

“Saya sangat kecewa dengan para pemimpin Papua yang kerdil. Tidak ada satupun yang punya kemampuan memadai dan punya keberanian untuk memihak orang asli Papua yang semakin menderita,” kata Yakobus Odiyaipai Dumupa kepada Philipus Bipai Degey (lihat hal. 74). Kritik itu salah satu yang masuk dalam buku setebal 400 lebih halaman selama tahun 2012.

Tuhan, Agama, dan Budaya

Buku Ungkapan Kegelisahan: Catatan Harian 2012 besutan Yakobus Odiyaipai Dumupa rupanya memantik Dr Sutoro Eko, ahli Desa dan pembelajar ilmu pemerintahan turun gunung menulis Pengantar menarik dalam judul: Emansipasi, Pengetahuan, dan Kekuasaan. Sutoro Eko, mengutip kata-kata Presiden Soekarno, “Kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”. Sutoro dalam pengantar buku itu juga bicara soal Tuhan, agama, dan budaya. Tuhan menciptakan alam semesta dan manusia, termasuk menurunkan agama untuk manusia, untuk kebaikan alam semesta. Agama bukan untuk Tuhan. Agama mengajarkan kepada umat manusia dengan trinitas: hubungan manusia dengan Tuhan Sang Pencipta; hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta.

Dalam teori sosial, yang pertama disebut spiritual order, yang kedua disebut social order, dan yang ketiga disebut ecological order. Ketiganya menegaskan prinsip keseimbangan, termasuk keseimbangan antara dunia dan akhirat. Manusia tentu lebih sempurna ketimbang binatang sebagai simbol kejahatan, dan malaikat simbol kebajikan. Manusia tentu memiliki kepentingan, nalar akal sehat dan nilai. Manusia dituntun dengan agama, filsafat dan pengetahuan agar menggunakan kepentingan, nalar akal sehat dan nilai agar menjadi manusia sempurna dan semesta, yang berbeda dengan binatang, setan, dan malaikat.

“Namun, praktik manusia ber-Tuhan dan beragama sungguh berbeda dengan ajaran agama yang sejati. Yakobus Odiyaipai Dumupa dengan nalar yang jernih melontarkan sejumlah ‘lembaran hitam’ dalam praktik bertuhan dan beragama. Agama sebagai politik, maraknya perbuatan dosa yang menyimpang dari ajaran agama, praktik pengajaran agama mengejar kehidupan di akhirat tanpa menghiraukan kehidupan di bumi; agama yang tidak peduli penindasan dan diskriminasi maupun perampokan kekayaan alam,” kata Sutoro, yang juga Ketua Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa ‘AMPD’ Yogyakarta.

Apa yang melatari lahirnya Ungkapan Kegelisahan, buku berkelas (hemat saya) Yakobus Dumupa, anak seorang guru tua di Dogiyai? Bila pertanyaan ini diarahkan ke Kobus (begitu saya kerap menulis komentar di jejaring Facebook, miliknya), ia berkilah jelas dalam buku ini. Katanya, ia baru menyadari kalau dirinya pernah menulis naskah buku ini tahun 2012. Buku ini lahir tanpa rencana sebelumnya. Semua tulisan dalam buku ini hanyalah “catatan harian” sepanjang 2012.

“Materi dalam buku ini tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Semuanya merupakan ‘perasaan dan pikiran kebetulan’ yang muncul secara spontan. Ada perasaan dan pikiran tertentu yang muncul ketika sedang membaca buku tertentu. Ada perasaan dan pikiran tertentu yang muncul ketika sedang menonton acara televisi. Semua perasaan dalam buku ini saya ungkapkan apa adanya. Polos, kocak, jujur, kritis, jernih, berani, dan radikal,” kata Kobus, yang menurutnya buku ini adalah buah karyanya yang ke-11.

“Buku ini merupakan bagian dari upaya ‘memuliakan Tuhan’, menghormati sesama manusia dan menghargai alam semesta. Dan saya berdoa seraya berharap semoga maksud itu dapat tercapai,” ujarnya.

Di sinilah hemat saya bele Kobus menyodorkan semacam “kegelisahan” yang nikmat. Kepada Tuhan, tanah Papua, dan Indonesia ia (Kobus) ia setia mengabdi melalui tanah leluhur untuk Indonesia. “Yakobus Dumupa dalam kapasitas sebagai anggota MRP tahun 2012 telah berkontribusi mewartakan damai melalui catatan harian sebagai orang asli Papua, WNI, dan warga dunia dan warga alam semesta. Ia telah menyampaikan pesan cinta, kasih, dan damai untuk kehidupan semesta. Marilah kita ambil hikmah dari pesan itu untuk menciptakan Papua tanah damai,” kata Pastor Alberto John Bunay Pr, Koordinator Jaringan Papua Damai.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan