oleh

Kejutan Akhir Pekan Guru SPG

-Kolom-284 views

MAS Dhimas menelpon saya. Tukang ojek online ini sekadar memastikan alamat yang ia cari. “Tunggu aja di depan, mas. Saya sudah keker engko dari dalam. Saya sudah meloi. Antar kiriman ya?,” kata saya. Dari balik jendela saya lihat dia tersenyum. “Bilangnya ‘keker’. Apa itu, Pak?” Si mas ini rada bingung. Dua kata: “keker” dan “engko” bikin dia bingung. “Bahasa apa, Pak?” Ia nanya lagi. Saya urung ganggu beliau agar tersenyum. Wabah covid saat ini kayanya senyum perlu digandakan agar tubuh tetap stabil, tetap imun dan aman dari wadah pandemik itu. Karena itu saya lepas “keker” dengan “engko”. Saya berpikir tukang ojek perlu dipasok senyum dan tawa di tengah kerja keras mencari rejeki untuk menafkahi keluarga. Lagi pula berbagi senyum di tengah deraan wabah covid-19 bisa jadi cara efektif menangkal serangan virus “kpala batu” itu.

Dua kata yang familiar saat saya lanjut sekolah di SPG Kemasyarakatan Lewoleba tahun 1987. Diajar juga kaka Thomas Tokan Pureklolon, guru Bahasa Inggris saya. Satu semester bertahan di SPG, saya pindah ke SMA Kawula Karya Lewoleba. Alasan saya, tiga seragam di sekolah calon guru itu kalau beli untuk ganti di tahun kedua, bapa saya tentu sulit siapkan uang lagi. “Saya memilih pindah SMA. Di sana seragam cuma satu untuk tiga tahun. Lagi pula sekolah di sana agak longgar dari urusan seragam. Saya senang karena iklim belajar lebih bebas,” kata saya kepada guru Thomas saat ngobrol di kompleks DPR RI beberapa tahun lalu.

Kisah saat masih sekolah di Bukit Kawula Muda di sebelah atas Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat dan diajar juga guru Thomas, masih membekas. Setiap pagi, misalnya. Kami murid-murid SPGK Lewoleba diwajibkan bawa air di drijen berukuran tiga liter. Celakanya, saya ga punya drijen seukuran tiga liter. Jadilah drijen yang saya bawa suatu pagi berukuran 40 liter tapi isinya cuma tiga liter. “Saya juga heran kenapa engko bawa air di drijen ukuran 40 liter,” kata Thomas. “Daripada guru piket Karel Masan Teka marah saya. Ya, saya bawa air meski drijen besar,” ujar saya. Kami ketawa. “Tapi dulu engko isi dalam rapi sekali. Engko punya baju juga wangi macam parfum banyak sekali,” kata Thomas. “Saat itu okana masih naik daun jadi saya tabur saja di tangan dan baju biar wanginya ke mana-mana,” lanjut saya.

Waktu akhirnya memisahkan saya dan guru saya. Agak lama memang. Setelah meninggalkan Lewoleba tak pernah bertemu atau saling kontak via telegram. Thomas balik STFK Ledalero Maumere, Flores, menyelesaikan studi filsafat dan teologi. Nyaris dua puluhan tahun tak bertemu. Justru di Senayan kami bersua tak sengaja. Namun, sebelumnya nama Thomas sempat disebut Maria Elisabeth Kaize, rekan sesama staf anggota di DPR RI. Maria adalah perempuan suku Marind dari Merauke, ujung Timur tanah Papua. “Sa pu dosen Teori Pemikiran Politik macam kaka pu masyarakat dorang. Namanya Pak Thomas Tokan Pureklolon. Pace dosen itu macam kaka pu masyarakat Kupang atau Flores,” kata Maria, mahasiwa S-2 Universitas Indonesia. Maria belakangan menjadi anggota DPR Papua untuk jatah 14 kursi tambahan. “Itu pace guru saya saat sekolah di SPGK Lewoleba. Baru sekarang itu pace ngajar ko? Bah sunggu mati. Beliau tara kosong mo,” kata saya ke Maria dengan dialek Papua. Nomor guru Thomas segera saya ambil dari Maria.

Saya bertemu dengan Thomas tak sengaja saat beliau menyambangi gedung DPR RI. Beliau janjian dengan Dr Benny Harman, anggota DPR RI asal NTT. Di lantai 2 Gedung Nusantara 2 Senayan, saya bergerak dari Lt 22 Gedung Nusantara 1. Naik lift dari dalam Nusantara 2, saya belok kanan ke ruang Komisi Intelijen DPR, tempat anggota DPR asal NTT Pak Viktor Laiskodat mengikuti sidang. Viktor saya bantu sebagai salah satu staf sebelum beliau terpilih jadi Gubernur NTT. Tak sengaja kala berpapasan dengan Pak Thomas, mantan guru di SPGK Lewoleba beliau juga mengenakan batik coklat. “Dari jauh saya sudah keker. Engko ini murid saya di SPG dulu,” kata guru Thomas. “Saya juga sudah keker dari jauh. Ini guru saya yang dulu puji saya selalu isi dalam rapi meski ikat pinggangnya sudah kelupas berat,” ujar saya. Kami ngakak. Lalu omong bahasa Indonesia logat Lewoleba.

Pagi ini saya keker mas Dhimas dari jendela. Ia mengantar tiga buku karya Thomas, guru saya di SPG tempo doeloe. Berat-berat judul bukunya. Saya belum baca tapi saya pastikan buku itu bernas, bermutu. Saya segera buka bungkusannya. Tiga judul segera terlihat jelas. “Perilaku Politik: Menelisik Perpolitikan Indonesia sebagai Medium Menuju Negara Kesejahteraan.” Satu lagi “Demokrasi dan Politik: Menelisik Dinamika Kekuasaan, Sosial, Budaya dan Pancasila.” Judul lainnya “Negara Hukum Dalam Pemikiran Politik.” Tiga judul di atas sebagian dari belasan buku rujukan bagi mahasiswa S-2 dan S-3 yang mendalami ilmu politik. Buku karya Thomas, “Komunikasi Politik: Mempertahankan Integritas Akademisi, Politikus, dan Negarawan” menjadi bacaan di Istana Negara.

Ada kabar membanggakan. Buku Thomas, Komunikasi Politik adalah salah satu dari 21 buku favorit Presiden Joko Widodo yang tercantum dalam e-pustaka. Buku favorit Presiden Jokowi itu sebagian besar merupakan buku soal cara melayani dan berubah menjadi pribadi lebih baik. Buku Thomas, Komunikasi Politik adalah bacaan favorit Jokowi. Urutan pertama adalah “The Power of Sinergi” karya Ridwan Abadi. Kedua adalah “Funtastic Service: Melayani Itu Menyenangkan” karya Tatay Sutari dan “Komunikasi Politik: Mempertahankan Integritas Akademisi, Politikus, dan Negarawan” karya Thomas Tokan Pureklolon, guru SPG saya yang kini jadi dosen di Universitas Pelita Harapan Jakarta.

 

Jakarta, 14 November 2020
Oleh: Ansel Deri
Pernah sekolah di SPGK Lewoleba

Komentar

Jangan Lewatkan