oleh

Ketika Anak Tentara Dikejar Tentara

-Kolom-449 views

26 Juli 1996, selesai ujian saya bergegas menuju Stasiun Gubeng, dengan kereta senja menuju Jakarta. Depan LP Cipinang, kereta nyaris berhenti sama sekali, cukup lama. Hari itu, Sabtu, 27 Juli. Begitu tiba di Stasiun Jatinegara, saya langsung ke Jalan F Gang Z, Tebet, Sekretariat Partai Rakyat Demokratik.

Hanya ada Anom mencuci pakaian di sana. Semua orang turun ke lapangan. Lapangan yang dimaksud Anom adalah Megaria, Diponegoro, Cikini, Salemba, dan sekitarnya. Jakarta membara hari itu, sejak pagi katanya.

Tak lama, datang beberapa kawan membawa perintah untuk evakuasi. Beberapa dokumen menjadi tanggung jawab saya. Tujuan saya saat itu adalah kost Christine, sepupu saya di Bogor. Saya diperintahkan mampir Lenteng Agung untuk mengambil beberapa dokumen lagi.

Setiba di Bogor, saya numpang mandi di kost itu. Sudah lebih dari 24 jam saya tidak mandi. Selepas mandi, saya menuju IISIP, Lenteng Agung. Di sana saya berkumpul dengan Budiman Sudjatmiko, Petrus Haryanto, dkk. Syarwan Hamid dan Feisal Tanjung bilang, PRD adalah dalang kerusuhan, mereka keluarkan perintah penangkapan dan tembak di tempat.

Rapat memutuskan untuk bergerak terpisah, terkoordinasi dalam group kecil. Usai rapat, semua orang membagi diri, saya dengan group kecil bertahan di tempat itu, kost Dedy Bear.

Saya diterima baik juga oleh tetangga Dedy, tiga perempuan yang bekerja di acara televisi Komeng di SCTV; Sony, Widhi, dan Rinca, serta anak Pak RT di sana. Bertahun kemudian, setelah Soeharto jatuh, Sony sempat berkabar ke saya, mereka bertiga baru lakukan perjalan ke Gunung Bromo. Sementara anak Pak RT yang saya lupa namanya, pernah menginap di rumah ketika jalani test di Surabaya.

Setelah beberapa hari tanpa kabar dari Ken Budha Kusumandaru, di berbagai media muncul berita penangkapan teman-teman saya itu. Kami panic dan bingung apa yang harus dilakukan. Kami yang bertahan di kost Dedy bersepakat untuk memisahkan diri.

Saya ke rumah Om Christian SIlalahi di Cawang (kapan hari saya bercerita tentang keluarga di Cawang ini. Om Christ berayah seorang Batak dengan ibu orang Timor, saudara Papa). Dari sana saya berusaha mengontak Surabaya, setelah sekian hari tanpa berkabar. Beberapa hari di sana, akhirnya Kak Pino bilang akan menjemput saya malam nanti. Siangnya, saya sempatkan pamitan ke rumah mantan di Jalan Siaga II, Pejaten, Pasar Minggu.

Saya diungsikan ke Kota Tigaraksa, Tangerang. Sesampainya di rumah, Kak Pino menunjukkan langit-langit rumah yang bisa saya pakai bersembunyi, jika sewaktu-waktu tentara datang ke rumah itu. Kabar penangkapan semakin kencang. Semakin banyak kawan tertangkap.

Setelah sekian lama bersama Kak Pino, saya putuskan untuk kembali berpindah. Diantar Kak Ceci ke Terminal Bis keesokan harinya. Saya hendak menuju Bandung. Sialnya, di terminal itu, saya bertemu Haris, intel Polwiltabes Surabaya yang selalu mengikuti kegiatan PRD Surabaya. Saya tercekat, panik. Saya hanya minta Kak Ceci untuk pergi secepatnya meninggalkan saya.

Haris mendekati saya, bertanya pelan, “Mau ke mana Mas?”

“Mulih Suroboyo Mas, sik yo,” jawab saya sambil menjauh dari dia.

Saya menuju bis terdepan menuju Bandung. Untuk membuktikan apakah saya diikuti atau tidak, saya memutuskan turun ketika terjadi kemacetan parah di Puncak. Saya turun dari pintu depan, ada beberapa orang berambut cepak turun dari pintu belakang. Saya berjalan sangat cepat menuju bis terdepan, terjauh yang bisa saya jangkau. Akhirnya saya naik bis yang jaraknya beberapa ratus meter dari bis yang saya tumpangi tadi.

Hati saya belum tenang, meski bis sudah bisa berjalan pelan. Sampai di Bandung, saya masih merasa diikuti, saya jalan tak tentu arah, hanya berpindah dari bis ke bis. Tujuannya cuma untuk menghilangkan jejak. Di satu terminal, saya berganti baju, saya buang topi dan flannel yang saya kenakan. Setelah merasa aman, saya menuju Dayeuh Kolot. Saya melihat ada satu mobil jeep militer yang terus mengikuti di belakang angkot yang saya tumpangi.

Sampai Dayeuh Kolot, saya turun, masuk ke sebuah took di tengah pasar. Ternyata benar, jeep itu juga berhenti, turun dari sana beberapa orang menggunakan HT (handy talky). Saya menyelinap keluar, melompat masuk ke angkot yang sepi, saya pecahkan lampu angkot itu, menodongkan pisau ke sopir (pisau lipat kecil dengan gagang salib dengan tubuh Kristus) saya perintahkan jalan saat itu juga.

Saya melihat para orang ber-HT itu nampak seperti sedang mencari-cari. Setelah agak jauh, saya meminta maaf ke supirnya. Saya janji ganti lampu dalam yang saya pecahkan tadi. Rupanya dia memahami. Saya turun di tengah jalan, memutuskan untuk berganti kendaraan, begitu seterusnya hingga tiba di tujuan.

Saya dipeluk cium oleh kakak kandung Papa. Daalam dingin tempat itu, saya merasakan kehangatan yang luar biasa. Meski, saya tetap tidak bisa tidur dengan normal. Sejak di Cawang, musuh utama saya adalah tidur. Di tengah tidur, saya hampir pasti terbangun dengan baju basah oleh keringat, saya bermimpi digerebek-ditangkap tentara, atau saya bermimpi terlibat dalam kekerasan fisik melawan tentara bersama banyak orang lainnya.

Awal Oktober 1996, dari Surabaya Papa datang menjemput saya di Bandung. Berdua kami naik kereta ke Surabaya.

Surabaya, 10 Oktober pagi, setelah memastikan aman, kami berdua menuju rumah dengan cepat, berusaha tanpa ketahuan siapapun. Mama menangis, mendekap saya sangat erat. Papa juga baru menumpahkan air matanya di sana. 10 Oktober adalah hari ulang tahun saya, Papa bilang, Mama ingin saya pulang hari itu.

Mama yang sedih mengungkapkan kemarahannya kepada Feisal Tanjung dan Syarwan Hamid. Papa bilang dokumen-dokumen saya aman, dalam bungkus plastik di bawah tanah. Sejak ditetapkan sebagai buronan negara, tiap hari tentara datang ke rumah. Sebagian duduk persis di depan rumah, sebagian lagi di rumah Pak RT.

Siangnya, saya jatuh tertidur, kali ini pulas. Tiba-tiba Mama membangunkan saya,”ada tentara!” saya lari dengan celana pendek-kaus singlet yang saya gunakan ketika tidur, tak lupa menyambar tas saya. Papa dan orang kampung lainnya sudah berjaga di depan. Sejak hari itu, saya berpindah-pindah lagi.

Note:

  1. Memenuhi janji ke Om Zed Abidin. Versi singkat dari peristiwa 27 Juli dan keberadaan saya.
  2. Saya ke Jakarta dalam rangka pelatihan media yang diselenggarakan oleh Suara Massa, yang sekiranya akan diisi oleh Mas Goenawan Mohamad dkk. Papa bangga sekali, sejak pertama tahu saya terlibat dalam kerja media milik PRD itu.
  3. Sampai menjelang menikah, saya bilang (calon) istri, terkadang saya masih trauma, dengan terbangun tiba-tiba, baju basah keringat, mimpi perang atau ditangkap tentara, meski frekuensinya sudah jauh berkurang, dari yang awalnya mimpi itu muncul setiap kali saya jatuh tertidur.
  4. Ketika dalam pelarian inilah saya mendengar Budhe di Cawang, yang baru saja saya tinggalkan itu meninggal. Om Christ meninggal tidak lama setelah Budhe meninggal. Om Christ sangat terpukul oleh kematian istrinya itu; Umi Cahyati.

 

Moskow, 8 Juli 2020
28 hari setelah kematian Peter Apollonius Rohi

Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan