oleh

Kisah Heroik Tiga Srikandi dari Pulau Rote dalam Pertempuran 10 November di Surabaya

-Kolom-594 views

BUNG Tomo dalam pidatonya di Kupang tahun 1953, mengatakan: Dalam perjuangan 10 November 1945, banyak teman saya dari Timor yang ikut berjuang, banyak pula yang gugur. Berikut ini pelacakan Victory News: Surabaya, Oktober 1945. Tewasnya Brigjen Mallaby menyebabkan tentara Inggris berang. Perwira tingginya itu mati sia-sia di tangan prajurit dari sebuah negara yang baru lahir. Saat itu kehadiran tentara Sekutu mulai dicurigai membawa misi rahasia yaitu mengembalikan Indonesia ke tangan Belanda. Maka tanggal 23 September dokter Angka Nitisastro mengadakan rapat membentuk Pemuda Repoeblik Indonesia (PRI).

Tanggal 28 Oktober 1945 berdirilah Pemoeda Poeteri RI (PPRI) yang diketuai Loekitaningsih. Dibentuk juga PPRI Soerabaya Oetara yang diketuai Sophian Elizabeth Sjioen dan Francisca Fanggidae sebagai wakil serta Toni Sjioen sbg anggota (tiga poetri asal Rote),suhu begitu panas. Berbagai provokasi dan isu yang muncul, Surabaya akan menjadi lautan api. Rakyat marah. Maka tanggal 30 Oktober terjadi pembunuhan atas Brigjen Mallaby. Dalam suasana demikian para pemuda melakukan Kongres Pemoeda di Yogyakarta.
Francisca Fanggidae hadir mewakili pemuda Surabaya. Tulis Fransisca dalam memorinya: mama masih menjahit baju saya untuk menghadiri kongres, tapi itulah pertemuan saya dengan mama terakhir kalinya. Mamanya itu juga seorang wanita Rote bermarga Mae, istri dari Ir Fangidae yang pernah menjadi Wakil Adipati di Madiun.

Tewasnya Mallaby secara memalukan membuat Mayor Jenderal Mansergh mengancam dengan selebaran dari udara, menyerukan kepada pembunuh menyerahkan diri dan rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya. Apabila tanggal 9 November rakyat masih membangkang, maka sekutu akan membombardir kota Surabaya dari laut, udara, dan darat. Rakyat Surabaya tidak menggubris ancaman Mansergh. Maka pagi hari 10 November Surabaya dibombardir.

Francisca Fanggidae yang sedang mengikuti kongres melakukan interupsi. Saudara-saudara, kami peserta dari Surabaya detik ini juga meninggalkan kongres karena harus pulang mempertahankan kota kami yang sekarang dibombardir sekutu. Di Surabaya, nona Sophia, nama panggilannya Fietje, saat itu berusia 23 tahun, mengumpulkan anggotanya. Mereka bertahan di markas mereka di St Ursulla, Kepanjen. Wanita kelahiran Ba’a Rote 6 Oktober 1923 itu bersama-sama PRI Surabaya Utara maju bertempur.

Soerabaya Utara juga diperkuat H Toepoe yang dikenal sebagai Panglima Bajak Laut. Ada juga Aleksander Abineno yang merebut kapal perang Jepang Sugi Maru berbobot 1.000 ton mengubah namanya menjadi MERDEKA. Kemudian hari kapal perang itu memakai code RI-1, sebagai kapal perang RI yang pertama. Kisah-kisah orang NTT dalam pertempuran 10 November itu luar biasa. Satu hal, menurut opa Andrew Therik yang ikut memimpin pasukan dari anak-anak PAL (Penataran Angkatan Laut), orang NTT ketika itu tidak bisa mengungsi ke pedalaman. Mereka tidak punya pilihan selain berjuang dengan tekad: merdeka atau mati. Tetapi melacak jejak-jejak di mana mereka berada sekarang adalah sangat sulit.

Tahun 1946 Sophia baru bisa pulang ke Kupang. Di sini ia bertemu jodohnya dan kawin, lalu pindah ke Bandung. Tahun 1967 ia ikut suaminya ke Belanda dan meninggal di Utrech, Belanda 3 Juni 2008. (D-1).

PEKIK PERANG 10 NOVEMBER 1945 : SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA

 

Oleh: Peter Apollonius Rohi (Alm)

Komentar

Jangan Lewatkan