oleh

Kupang Memang Panas

-Kolom-1.129 views

SETELAH menggunakan gedung bekas pabrik es Minerva untuk pameran arsip baru beta sadar Kupang memang panas. Bukan karena di dalam gedung ini panas. Bukan! Konstruksi gedung ini cukup tinggi dan malah dingin. Itulah kehebatan para arsitek jaman 1920an-1930an. Justru yang membuat saya sadar Kupang panas dari dulu adalah sejarah gedung ini.

Singkat kata: gedung ini memproduksi es sejak tahun 1930an dan karena jasanya pernah diusulkan oleh koran-koran lokal untuk mendapat penghargaan Ratu Belanda. Ya, memang Kupang panas jadi semua orang butuh es! Tak peduli golongan kiri, golongan kanan, feodal atau modernis, pegawai atau petani, partisan atau non partisan, beragama atau atheis dst. Semua orang butuh es karena Kupang panas!

Nah setelah hampir seratus tahun, Kupang pasti tambah panas. Bukankah begitu? Orang susah air. Panas. Bawaannya mau marah saja di bulan-bulan seperti sekarang. Media sosial jadi saluran pelampiasan. Situasi membentuk watak kita. Sedikit saja pemicu, kita gampang meledak.

Tangki air di Batuplat mulai beroperasi subuh sampai tengah malam. Bisa dibayangkan betapa lelahnya para sopir. Akibat mulai muncul banyak kecelakaan.

Isu-isu yang muncul ke publik bikin kita gampang marah. Belum habis Omnibus, muncul Besipae. Belum habis Besipae muncul pro kontra LGBT. Belum lagi masalah mutasi pejabat religius, mantan walikota jadi tersangka, pokoknya Kupang panas!

Kalau menengok kembali sejarah, maka pola-pola dan aktor-aktor serta kepentingan mirip dengan yang sudah terjadi di tahun 30an setelah munculnya kaum urban intelektual sampai dengan dekade 40an, 50an dan berpuncak pada kekerasan massal tahun 1960an. Kota ini kecil, pemetaan aktor, afiliasi formal maupun ideologis sangat mudah dilakukan. Apalagi cuma lihat status facebook kita sudah bisa tahu ke mana arah pikiran dan kehendak.

Yang saya kuatirkan sebagai sejahrawan adalah perbedaan-perbedaan dan konflik-konflik yang berbasis material (perbedaan kelas, pendidikan, aliran politik, dsb) kemudian berpuncak dalam kebencian-kebencian dan jika ada pemicu seperti di tahun 1965, maka kita semua satu baku bunuh satu. Semoga kekhawatiran saya berlebihan. Kita doakan tidak seperti itu.

Yang mungkin kita butuhkan sekarang adalah es batu! Yang bisa dibuat es parut, es teler, es pisang hijau, es buah, mungkin juga es cream dan es plastik sehingga kita bisa duduk di bawah pohon kamboja dan pohon katapang, pohon kersen dan pohon kusambi, pohon kule dan pohon beringin sambil nyanyi “bae sonde bae Kota Kupang lebe bae….sio sayang talalu sayang…”

 

Oleh: Matheos Viktor Messakh

Komentar

Jangan Lewatkan