oleh

Lagawurin, Puor, dan Seroja

-Kolom-949 views

MARTINUS Lagawurin Botoor. Di Desa Puor, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tengtara Timur, ia akrab dipanggil Laga Tinu atau Tinu. Ia lahir di Puor, 25 Oktober 1938. Ayah Laga Tinu, Theodorus Tana Botoor, adalah kepala kampung di masanya. Sedang isteri Helena Besan Wadan adalah seorang gadis desa biasa. Laga Tinu tumbuh dan menghabiskan masa kecil di lereng Labalekan, gunung paling tinggi di Pulau Lembata. Keluarga besar

Laga Tinu berbadan tinggi, atletis, dan kekar. Rata-rata para remaja kala itu adalah penggila olahraga terutama bola. Selain terkenal di bidang olahraga, sebagian di antara mereka juga meniatkan diri menjadi imam, suster, bruder atau biarawan serta biarawati.

Tahun 1950-an remaja Laga Tinu berniat menjadi Pelayan Sabda. Dari Puor, Laga Tinu berjalan kaki ke Lewoleba, kota paling besar di Lembata, kala itu sejauh 30-an kilo meter. Dari dermaga Lewoleba, Laga Tinu kemudian naik perahu motor ke Larantuka, kota Kabupaten Flores Timur dan melanjutkan perjalanan ke Seminari San Dominggo Hokeng.

“Bapa tua beritahu kami beliau ke Hokeng. Tapi beliau tak cerita apa ke Hokeng berniat masuk seminari untuk kelak jadi pastor atau tidak. Apakah beliau sekadar ke sana sekadar jadi tukang masak para pastor dan frater juga tak jelas informasinya. Saat itu ada informasi penerimaan prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Kata bapa, beliau ikut teken tentara dan lulus,” kata Ir Johni Tana Lagawurin Botoor, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Utara.

Johni Tana tak lain adalah putera sulung Laga Tinu. Johni Tana lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Hassanudin Ujung Pandang (kini Makassar), Sulawesi Selatan.

Operasi Seroja

Bermodal kemampuan personal ditopang badan yang atletis, Laga Tinu diterima sebagai prajurit TNI-AD. Tahun 1959, remaja Laga Tinu mengikuti pendidikan dan pelatihan di Markas Komando Daerah Militer (Kodam) Udayana di Denpasar Bali hingga selesai dengan gemilang. Bersama rekan-rekannya, Laga Tinu mengikuti pendidikan Infantri Gaya Baru di Mataram, Nusa Tenggara Barat di wilayah Kodam Udayana.

Selepas dari pendidikan Infantri di Mataram, Laga Tinu kemudian mengikuti pendidikan Sekolah Calon Bintara (Secaba) di Tabanan, Kodam Udayana. Dari Kodam Udayana, tahun 1975 ia melanjutkan Pendidikan Bintara Pengamat Lapangan Militer se-Indonesia di Malang, wilayah Kodam Brawijaya, Malang, Jawa Timur.

Setelah selesai menempuh berbagai jenjang pendidikan dan pelatihan militer, Laga Tinu mendapat tugas di Komando Resor Militer (Korem) Kupang. Ia ditempatkan di Batalyon Infantri 743 Psy/Kompi Markas Benteng Kupang. Ketika bertugas di Timor Leste, Laga Tinu menjabat Bati S1-1 Yonif 743 PSY dengan pangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu).

“Seingat saya, tanggal 31 Desember tahun 1975, bapa tua bertolak dari Pelabuhan Tenau Kupang ke Atapupu, Belu. Beliau dan rekan-rekannya gabungan dari Kompi 743 Kupang, 742 NTB, dan 741 Bali menuju sektor selatan dan menetap di Kota Both. Namun, hanya bertugas selama 27 hari di Tilomar. Ia gugur dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Oleh pihak TNI AD, bapa tua diberi penghargaan Gelar Anumerta. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dharmaloka Kupang,” kata Johni Tana.

Bupati Andreas Duli Manuk dan Pemerintah Kabupaten Lembata kala itu memandang Laga Tinu adalah seorang putera Lembata yang mempersembahkan jiwa dan raganya untuk ikut berjuang mempertahankan Timor Timur dari bangsa Portugis hingga titik darah terakhir. Oleh karena itu, Laga Tinu ditetapkan sebagai pahlawan daerah.

Laga Tinu dipandang sebagai sosok yang mendharmabaktikan jiwa dan raganya hingga maut menjemputnya di medan perang di Tilomar, tanah Timor. Meski belakangan keputusan Pemerintahan Presiden BJ Habibie melepaskan Timor Timur, provinsi paling bungsu Indonesia itu, melalui referendum atau jajak pendapat, di mana mayoritas masyarakat Timor Timur lebih memilih keluar dari Indonesia menjadi sebuah negara baru bernama Republik Demokratik Timor Leste di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Mayoritas masyarakat Timor Timur lebih meninggalkan “saudara tuanya” meski berada di tanah atau daratan yang sama: Timor. Kemudian segera membentuk pemerintahan transisi bersama sejumlah tokoh seperti Jose Alexandre Xanana Gusmao alias Kai Rala Xanana Gusmao dan Dr Jose Ramos Horta, dua tokoh penting di balik kampanye kemerdekaan Timor Timur di tingkat internasional.

Langkah Bupati Manuk memberikan gelar pahlawan kepada prajurit Laga Tinu tentu bukan tanpa alasan. Pihak TNI AD juga merekam jejak panjang pengabdian tentra Laga Tinu selama aktif sebagai prajurit negara dan bangsa sebelum tubuh prajurit dari Puor itu rubuh berkalang tanah di Tilomar, tanah Timor.

Laga Tinu mengoleksi jejak pengabdian panjang. Ia terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan periode tahun 1959-1960. Ia pernah bertugas di Kompi II/712 DAM XVI/Wayana Ende, Flores tahun 1960-1961. Kemudian pernah pula bertugas di Pulau Adonara, Flores Timur kurun waktu tahun 1962-1964 dan Larantuka, Flores Timur tahuh 1964-1965.

Laga Tinu juga pernah bertugas di Kompi Markas Batalyon 743 PSY Benteng Kupang tahun 1965-1975. Sejumlah penghargaan pemerintah atas jasa-jasa Laga Tinu juga tercatat baik. Ia mendapat penghargaan Satyalancana Gerakan Operasi Militer IV, tanggal 17 Agustus 1961, terlibat operasi militer penumpansan G 30 S PKI dalam wilayah Hukum Korem 161 NTT tanggal 1 Maret 1965 dan Satyalancana Penegak pada 24 Maret 1969 serta kenaikan pangkat Anumerta.

Gadis Palopo

Remaja prajurit Laga Tinu mengakhiri masa lajangnya di Ende, kota pembuangan Bung Karno, setelah ia menambah koleksi Sakramen Pernikahan dengan mempersunting Siti Amina, gadis pilihan asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang menaklukkan ruang hatinya. Laga Tinu-Amina, dua remaja ini seia sekata mengikrar janji suci pernikahan Kudus secara Katolik di Ende pada 5 Maret 1963.

Dari pernikahan ini mereka dikarunia enam orang anak. Mereka adalah Johni Tana Lagawurin, Josefina Sura Lagawurin Botoor, Frederikus Zainul Pati Lagawurin Botoor SH, Joseph Sabara Lagawurin Botoor, Aprianto Arkian Lagawurin Botoor (alm), dan Hery Palandung Lagawurin Botoor (alm).

Kalau Laga Tinu akrab di telinga sebagian masyakarat di lereng Labalekan, di Kupang ia lebih dikenal dengan Lagawurin. Ia seorang prajurit sejati. Pihak Korem Wirasakti Kupang mengabadikan sebuah aula di Kota Kupang dengan nama “Aula Lagawurin” dan sebuah tempat latihan tembak Kompi 743 di Naibonat dengan nama “Lapangan Lagawurin” untuk menghormati Laga Tinu atas jasanya selama menjadi prajurit TNI.

“Saat pengresmian Aula Lagawurin di Kupang, ada peristiwa kecil. Isteri seorang prajurit asal Bali yang baru bertugas di Kupang menangis. Dalam bahasa Kupang, di hadapan keluarga besar Laga Tinu ia sesenggukan. Isteri prajurit ini menyampaikan rasa terima kasih karena mereka bisa hadir mengikuti acara peresmian aula itu. Tangis itu diyakini sebagai arwah Laga Tinu,” kata seorang warga Puor, yang hadir saat itu.

Di bidang olahraga di Nusa Tenggara Timur, kerabat Laga Tinu Botoor juga ikut mengharumkan nama daerah. Gabriel Kia Botoor, misalnya. Selama merantau di Kota Kupang, Gabriel dikenal sebagai tukang gali sumur warga. Bermodal sebatang kayu Gabriel mampu mendeteksi sumber air kemudian ia gali hingga menemukan air. Tukang galir sumur ini juga memiliki talenta di bidang olahraga bola kaki sejak masih remaja di Puor, kampung halaman.

Tiga putera Gabriel, si tukang pantek air: Pieter Kia Botoor, Anton Kia Botoor, dan Polce Kia Botoor adalah pemain bola berbakat. “Kaka Pieter Kia Botoor punya kemampuan individu luar biasa. Namun, ia tidak mengembangkan bakat alamnya,” kata Zainul.

Dua saudara Pieter yakni Anton Kia Botoor dan Polce Kia Botoor mengasah bakatnya dan menjadi pemain bola profesional. “Kaka Anton Kia Botoor lama memperkuat tim bola PSK. Sedangkan kaka Polce Kia Botoor bermain di tim Barito Putera hingga menjadi pelatih. Mereka dua ini punya pengalaman main di sejumlah kompetisi tingkat nasional dan melakukan uji coba dengan beberapa tim di luar negeri,” kata Zainul, lulusan Fakultas Hukum Unika Widya Mandira Kupang.

“Luar biasa kisah tentang Om Lagawurin. Nama pejuang ini sudah sering saya dengar. Beliau adalah sahabat karib seorang tentara asal Atambua yang dulu sama-sama ikut perang di Timor Timur. Putra kandung dari tentara asal Belu adalah teman dekat saya di Melbourne. Dia ingat baik wajah Om Lagawurin,” kata Dr Justin L Wejak, dosen Kajian Asia Universitas Melbourne, Australia, asal Desa Baolangu, Kecamatan Nubatukan, Lembata.

HUT ke-75 RI tahun 2020 menjadi momen tepat mengingat jasa para pahlawan yang bertaruh nyawa demi Ibu Pertiwi. Pas juga mengingat jasa seorang Laga Tinu, pahlawan dari Puor yang gugur dalam perang Seroja, Timor Timur. Catatan ini sekadar melawan lupa. Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Mari sejenak ke Puor, kampung halaman Laga Tinu di lereng Labalekan, gunung penghasil akar Nagawutun, ‘akar sakti’ para perantau lereng Labalekan tempo doeloe.

 

Jakarta, 17 Agustus 2020
Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan