oleh

Mari berterima kasih dan meminta maaf pada Bumi

-Kolom-710 views

Saat ini kehidupan manusia di bumi sedang mengalami kepayahan yang luar biasa berhadapan dengan wabah Covid-19. Semua kemajuan pembangunan manusia dan teknologi yang selama ini dibanggakan seperti raib ditelan deru Covid-19. Para ilmuwan dan pemuka agama kebanyakan bersepakat bahwa virus ini hadir adalah harga yang harus dibayarkan akibat ulah manusia yang merusak tata kehidupan alam. Manusia menghancurkan hutan, mencemari air, memproduksi sampah dan polusi secara berlebihan. Dosa ekologis, itulah istilah yang disampaikan oleh pemuka agama.

Covid-19 memberikan pelajaran maha penting bagi kita betapa perlunya kita merawat kelestarian dan keseimbangan alam. Kita terlalu banyak mengambil atau menguasai alam seolah-olah kehidupan di bumi hanya milik manusia semata. Berbagai wabah yang muncul dalam berbagai kehidupan kita akhir-akhir ini adalah akibat dari cara hidup kita yang tidak menghargai alam. Ambil contoh Wabah belalang masih terus merajalela akibat salahsatu predatornya bernama burung burung banyak ditangkap diperjualbelikan. Demam berdarah, wabah ini juga salahsatunya akibat banyak ikan pemakan jentik nyamuk telah mati sebagai dampak negatif dari pencemaran air. Kita menggunakan pupuk kimia berlebihan di sawah dan penangkapan ikan menggunakan zat kimia di sungai sungai.

Bumi telah memberikan banyak kehidupan bagi kita. Saatnya juga kita berterima kasih kepada bumi atas segala sumber daya yang dimilikinya untuk kehidupan kita. Saatnya juga kita meminta maaf kepada bumi atas perlakuan kita yang curang dan tidak beradab kepada bumi. Kita harus melestarikan bumi kita sebagai tempat kehidupan bersama yang bermartabat.

Oleh karena itu, WALHI NTT mengajak publik untuk melakukan aktifitas yang ramah lingkungan untuk kedepannya. Khusus untuk menyambut hari Bumi yang jatuh pada 22 April, WALHI NTT mengajak publik untuk kegiatan peduli kelestarian dan cinta bumi. Ajakan ini untuk semua kalangan dan semua ragam profesi. Berikut ini jenis aktifitas yang dimita oleh WALHI NTT agar dapat dilakukan oleh publik. Jenis aktifitas:

  1. Mematikan meteran listrik dua jam per hari secara total di rumah kita masing-masing selama seminggu hingga tanggal 22 April
  2. Membuat Karya Seni tentang pujian untuk Bumi (Lagu, Puisi, Lukisan, dan hasil karya seni lainnya)
  3. Menanam di pekarangan rumah minimal dua jenis tanaman untuk dapur dan apotik hidup.
  4. Melakukan pengurangan dan pengelolaan sampah plastik & sampah anorganik serta organik di rumah masing masing
  5. Membuat tulisan satu paragraph untuk pemerintahmu tentang: hentikan pembangunan yang merusak hutan, perlindungan habitat satwa liar, perlindungan wilayah pesisir, stop pengalihfungsian kawasan pertanian, perlindungan pangan rakyat dan air di akun media sosial masing-masing.
  6. Menyuarakan stop pembahasan RUU Omnibus Law di media sosial masing-masing selama sepekan;
  7. Pada tanggal 22 April, REFLEKSI BERSAMA hari bumi di rumah sebagai bentuk terimakasih dan permintaan maaf kepada Bumi dengan cara masing masing dan berpatokan pada anjuran untuk menghindari covid 19.
  8. Membuat Hastag #hanyaadasatubumi #KitaBergerakJagaBumi #Covid19adalahperingatankeras #TerimakasihBumiku #MaafkanKamiBumiku

WALHI NTT mengharapkan publik dapat berpartisipasi dalam sepekan menuju Hari Bumi. Sebagai wujud konkrit cinta bumi sebagai satu satunya tempat tingal manusia secara kolektif. WALHI NTT juga meminta pemerintah untuk menghentikan berbagai model pembangunan yang merusak alam dan mengeddepankan penguatan pangan dan air untuk rakyat di masa masa sulit ini. Kiranya Tuhan memberkati segala daya upaya kita untuk selamat dari kepayahan luar biasa berhadapan dengan wabah Covid-19. Salam Adil dan Lestari

 

Oleh: Umbu Wulang, Eksekutif Wilayah WALHI NTT

Komentar

Jangan Lewatkan