oleh

Menteri Putra Mantri Malaria dan Cacar

-Kolom-439 views

TENGAH malam, suatu waktu, sebuah mobil masuk Dusun Boto, Desa Labalimut, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Mobil itu bergerak dari Desa Atawai, tak jauh dari Boto, kampung tetangga Atawai. Mobil itu membawa Johnny Plate, anggota Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia sekaligus Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR RI. Dalam mobil itu ada Dedy, Wabet, dan Lexi Plate, staf Johnny di DPR RI.

“Kami sekarang di kampungmu, bro. Bos baru saja melakukan kunjungan kerja di beberapa desa, termasuk Atawai,” kata Dedy dari balik telepon genggam.

Bos yang dimaksud adalah Johnny Plate, Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR sekaligus Anggota Badan Anggaran DPR. “Boleh bicara dengan om Johnny? Sekadar mau sampaikan terima kasih kepada beliau. Karena permohonan saya agar om Johnny mampir di kampung saya terjawab,” kata saya. Dedy ketawa dari balik telepon di tengah malam, di bawah udara lereng Labalekan nan sejuk.

“Beliau cape jadi besok saja kalau sudah di Lewoleba,” lanjut Dedy. “Sayangnya, ruas jalan Boto-Lewoleba parah sekali. Macam zaman purba saja. Semoga Pak Bupati segera ajukan persoalan ini ke Jakarta. Apalagi jalur jalan itu menuju Lamalera, destinasi wisata kelas dunia di selatan Pulau Lembata,” kata Dedy melanjutkan.

Di lain waktu 2016, menjelang perayaan HUT RI, Johnny Plate dan Dedy, stafnya, menyambangi Loang, kota Kecamatan Nagawutun. Johnny bertemu para perangkat desa dan BPD se-Nagawutun di Loang, kota kecamatan di bibir pantai arah selatan Lembata, beranda Laut Sawu. Segera saya hubungi Fredy Mudaj, Kepala Desa Belabaja, Nagawutun, agar bicara langsung dengan om Johnny terkait berbagai persoalan pokok yang dihadapi warga masyarakat Nagawutun, terutama ketersediaan infrastrukur jalan, jembatan, masalah air minum, listrik, akses jaringan telekomunikasi, pendidikan anak-anak, masalah pertanian, kelautan, dan lain-lain. “Pak Kades bisa bicara dengan Dedy, staf Pak Johnny agar beliau catat dan sampaikan ke beliau untuk ditindaklanjuti saat rapat dengan mitranya di DPR atau melalui fraksi dan komisi terkait,” kata saya. “Terima kasih. Saya sudah ketemu dengan Pak Dedy, staf Pak Johnny. Usai pertemuan Pak Johnny langsung bergerak ke Lewoleba dan lanjut ke Flores daratan,” kata Fredy.

Kala itu saya tengah mendampingi Pak Viktor Bungtilu Laiskodat, Ketua Fraksi NasDem sekaligus anggota DPR RI Daerah Pemilihan NTT 2 di Betun dan Besikama, Kabupaten Malaka. Setiba di SoE, kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, saya dan rekan Dion masih mendamping Pak Viktor menghadiri acara resepsi rekan Yoyarib Mau, sesama staf di DPR. “Bereskan tugasnya segera lalu ke Lembata sebentar lihat orangtuamu dulu,” kata Viktor Laiskodat, bos saya. Saya terdiam sejenak. Hal sepeleh bermakna diingat bos kepada saya. “Siyap, Pak. Segera kami bereskan tugas. Mohon ijin, saya juga rindu ke Lembata liat orangtua di kampung,” kata saya kepada Pak Viktor. “Beritahu Naya kalau mau ke Lembata,” kata Pak Viktor kepada saya. Naya tak lain sesama staf yang membantu Pak Viktor di DPR sebelum beliau terpilih jadi Gubernur NTT.

Sikap peduli pada daerah dan masyarakat sangat kental saya temukan baik dalam sosok Johnny Plate dan Viktor Laiskodat. Keduanya juga tipikal orang dari kampung pekerja keras dan sukses membangun bisnisnya di belantara Ibu Kota Negara. Kejujuran dan komitmen selalu mereka jaga dalam hidup dan karya mereka. Keduanya, baik Johnny dan Viktor sukses merenda karier di tengah kerasnya Jakarta kemudian menempatkan mereka sebagai pengusaha sukses. Boleh jadi Surya Paloh, koleganya sesama pengusaha dan politisi nasional mendapuk keduanya sebagai Ketua dan Wakil Ketua Fraksi NadDem DPR. Posisi yang hemat saya berat karena mengawal setiap kebijakan pemerintah dan sikap partai politik melalui kadernya di Senayan.

Johnny belakangan dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Partai NasDem mendampingi Ketua Umum H. Surya Paloh. “Reu bisa minta bantuan Pak Johnny membantu kegiatan 17-an kah? Saya percaya reu bisa komunikasi dengan Pak Johnny melalui stafnya,” kata Stanis Kebesa Langoday, Camat Nagawutun. “Kontribusi om Johnny untuk acara 17-an saya kirim melalui Pak Camat Stanis Kebesa. Nanti kaka sampaikan lagi kalau om sudah bantu,” kata Wabet kepada saya. “Saya sudah sampaikan terima kasih di hadapan peserta Apel 17-an. Pak Johnny, anggota DPR RI sudah bantu menyukseskan acara 17-an tingkat kecamatan,” kata Stanis Kebesa.

Kembalikan uang

Tahun 2000-an kantor menugaskan saya meliput acara diskusi pertambangan di Hotel Sahid Jaya, Jalan Sudirman Jakarta Pusat. Pemimpin Redaksi Karel Danorikoe menugaskan saya selaku Redaktur Pelaksana karena dianggap tebal muka menghadapi narasumber. Beliau ingin topik itu jadi laporan majalah bulan depan.

“Ada Pak Amien Rais dan Johnny Plate. Anda bisa menggali banyak dari dua narasumber itu,” kata Pak Karel. Ia yakin saya bisa tembus narasumber itu bertolak dari pengalaman saya memaksa Manuel Kaisiepo, Menteri Muda Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia wawancara untuk media ini. Juga Drs I Gde Ardhika, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Syamsul Muarif, Menteri Komunikasi dan Informatika RI. “Anda kan pernah ‘paksa’ Pak Menteri Manuel wawancara khusus untuk majalah kita. Itulah saya tugaskan Anda,” tambah Pak Karel.

Usai acara di Hotel Sahid Jaya, Johnny dikerubuti para wartawan. Saya muka tebal susuli Johnny dan beberapa staf ke salah satu sudut. Mohon ijin, saya menanyakan beberapa poin terkait persoalan lingkungan hidup dan kehutanan. Dalam sesi tanya-jawan, Johnny begitu fasih bicara dua topik itu. Sejak bertemu pertama kali, saya tak kenal siapa sosok Johnny Plate. “Kayanya sama-sama dari Ambon ya, mas?” kata seorang teman wartawan usai saya wawancara Johnny.

“Saya juga ngga tahu dari mana beliau berasal,” kata saya. Johnny sempat menawarkan saya pesan juice kepada saya tapi saya menolak. “Saya takut tida bisa bayar, om. Hotel besar begini tentu harga minuman di mahal sekali,” kata saya kepada Johnny. Saya pamit dan hendak keluar lobi hotel untuk naik bus ke arah Kalimalang agar segera menyelesaikan naskah.

Johnny menanyakan ke mana arah pulang. Saya sampaikan ke arah Kalimalang. Kantor saya di Kavling DKI kawasan Lampiri, Jakarta Timur. Segera ia menyodorkan dua tiga lembar uang. Katanya, untuk makan di warteg di piggir jalan. Saya menolak. Wartawan tak boleh terima apapun pemberian dari narasumber. Saat taksi tiba di lobi hotel, saya lihat uang pemberian Johnny. Salah beri, pikir saya. Saya minta supir taksi menunggu sejenak dan saya balik menemui Johnny. “Maaf, mungkin om salah kasi uang. Mungkin salah tarik dari saku tapi malah uang ini yang dikasi ke saya,” kata saya. Johnny tertawa. “Pake untuk malan pecel lele atau ikan kering di pinggir jalan,” katanya. Siapa Johnny Plate, saya bingung sepanjang di dalam taksi. “Kamu tidak minta waktu beliau untuk wawancara khusus di kantornya? Beliau bisa bantu media kita. Beliau salah seorang pengusaha sukses asal NTT di Jakarta,” kata Pak Karel. “Mana saya tahu, Pak,” kata saya.

Mantri Cacar

Johnny G Plate adalah putera pertama dari tujuh bersaudara. Pengusaha dan politisi ini lahir dari Mantri Paulus Plate dan ibu Thresia Pora, seorang guru Sekolah Dasar di Reo, Manggarai, Flores. Mantri Polus Plate berkarya di Puskesmas Reo. Sedangkan ibu guru Thresi mengabdi di Reo hingga pensiun di SDN 2 Reo. Mantri Polus berasal dari kampung Bokang, Lewomada, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka. “Kakek dari ayah kami Mantri Polus namanya Wilhelmus Wetan Tapun dari kampung Ojang. Bapa pindah ke Manggarai dan jadi mantri di sana. Setelah ditugaskan sekolah di Bandung dan kembali ke Reo, beliau jadi mantri khusus tangani malaria dan cacar,” kata Lexi, adik Johnny Plate saat kami ngobrol di Hotel Capa, Maumere dalam rangkaian kampanye Viktor Laiskodat-Josef A Nae Soi pada Pilgub 2018.

“Karya Tuhan tak pernah kita tahu. Om Johnny, anak mantri malaria dan cacar di kampung jadi Menteri Komunikasi dan Informatika Relublik Indonesia Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata Dedy, staf Johnny G Plate saat kami mengikuti pembekalan staf Anggota DPR di Bandung Barat, Jawa Barat. “Beliau selalu nasehati kami adik-adiknya. Harus belajar rajin, tak boleh menunda pekerjaan, dan saling menyayangi satu sama lain sebagai saudara. Nasehat itu adalah warisan ayah yang kaka sampaikan kepada kami semua,” kata Lexi, adik nomor 5 Johnny Plate.

Kabinet Jokowi

Presiden Jokowi mendapuk Johnny, anak mantri Polus sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika di Kabinet Kerja Jilid 2. Pada Selasa, 22 Oktober 2019, Johnny dipanggil Jokowi ke Istana Kepresidenan, Medan Merdeka. Pada hari itu (Selasa 22 Oktober) saya tengah ingat kembali bagaimana ibu saya pecah ketuba di hutan dan saya harus lahir di tengah hutan belantara tak jauh dari Boto. Saya berdoa dan bersyukur atas karya Tuhan yang ibu, ayah, dan saya alami di hutan sembari memantau siapa figur anak bangsa dari NTT yang masuk kabinet Jokowi-Ma’ruf.

Johnny mengaku berdiskusi dengan Jokowi menyangkut regulasi start-up, digitalisasi data hingga perlindungan data pribadi. Kemampuan dan pengalamanya membuat Johnny salah satu anggota DPR terpilih 2019-berdasarkan hasil Pemilu 2014-2019 dari Dapil NTT 1, akhirnya melenggang jadi Menteri Jokowi. Johnny Plate lahir di Ruteng, Nusa Tenggara Timur, 10 September 1956. Johnny menikah dengan Maria Ana dan dikaruniai tiga orang anak. Johnny adalah pengusaha sukses yang terjun di jagad politik nasional. Ia merintis bisnisnya sekitar awal tahun 1980 di bidang alat perkebunan.

Alumni Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini terbilang sukses di bidang perkebunan. Bersama rekannya, ia pun merambah bisnis transportasi udara. Kariernya encer. Pernah memegang beberapa jabatan di berbagai perusahaan, seperti Komisaris PT Indonesia Air Asia, Komisaris PT Mandosawu Putratama Sakti, Komisaris Utama PT Aryan Indonesia, Direktur Utama Bina Palma Group dan Direktur Utama PT Air Asia Investama. Hari ini, Johnny G Plate, anak sulung mantri Polus dan ibu guru Thresi merayakan Ulang Tahun ke-64. Selamat Ulang Tahun, Pak Menteri. Semoga sehat selalu mengabdi bangsa dan negara. Terima kasih sudah sampe di Boto, kampung halaman saya. Tuhan berkati. Mori sembeng. Selamat siang.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan