oleh

Misionaris asal Flores dan Kondom

-Kolom-607 views

BANYAK pengalaman hidup para misionaris asal Indonesia di luar negeri. Sr. Marita Benggok, SSpS, biarawati asal Manggarai punya kisah tersendiri selama menjadi Misionaris di Jerman. Sr Marita pernah dimintai uang oleh seorang pasien hanya untuk membeli kondom. Padahal, usia si pasien baru merapat angka 9 tahun.

Tiga belas tahun lalu, kisah itu disampaikan biarawati asal Manggarai, Flores, NTT itu. Pergaulan bebas di kalangan remaja di negeri itu membawa pengalaman tersendiri bagi Sr Marita. Saya menulis kisah itu dan terbit di Majalah HIDUP kemudian saya simpan dalam blog pribadi 14 Mei 2007. Saya memuat kembali sekadar tahu betapa para misionaris memiliki aneka pengalaman hidup di tanah Misi yang tak banyak diketahui orang. Bahkan banyak pula meninggalkan panggilan suci sebagai pelayan Sabda atau meninggal di tanah Misi atas nama umat yang mereka kasihi.
————————————————————
Di Jerman ia pernah diusir atau diajak menikah. Seorang pasien usia 9 tahun memintanya membelikan kondom karena tak punya uang.

Tapi menurut Suster Sr Marita -begitu ia disapa- pengalaman itu merupakan tantangan baginya. Tak sampai di situ. Memasuki bulan ketujuh, ia mengalami pergumulan berat. Kesepian menemani hidupnya. Saat itu keinginan untuk pulang ke Indonesia makin kuat.

“Saya tak punya semangat untuk berdoa, selalu mencari-cari alasan guna menghindari diri dari kerutinan doa. Suatu hari saya pergi pesiar di taman binatang di kota Ulm dan duduk sendiri di tepi Sungai Donau. Di sana saya menangis tersedu-sedu,” cerita Sr Marita.

Nah, untuk menghindari diri dari kesepian ia menulis sebuah karangan tentang kesepian kemudian dibuang ke dalam sungai. Setelah membuang kertas itu kembali menemukan kekuatan baru.

Ia sadar bahwa pergumulan iman yang dialami akhirnya menjadi sebuah sekolah perjumpaan akan kasih Allah yang setia. Di tepi sungai ia menemukan kembali cinta Allah yang setia dan kuat menyapa dan menghiburnya.

Pada Desember 2001-April 2002 ia menjalani praktek di TK St Mikael Ulm. TK ini adalah TK internasional. Murid-muridnya terdiri dari 10 negara. Pengalaman di TK ini ia rasa sangat membantunya untuk belajar mengenal lagi lebih dalam budaya dan mentalitas anak-anak Jerman. Sejak Mei 2002 hingga Agustus 2002 ia menjalani praktek di salah satu rumah sakit jompo. Di sana ia menghadapi masalah baru karena umumnya pasien berbicara bahasa daerah setempat.

Hal positif yang ia pelajari adalah konsep berpikir dan tata pergaulan orang Jerman. Banyak orang sakit yang tak punya keluarga lagi. Atau ada keluarga tapi tak peduli dengan keadaan mereka.

Situasi ini yang mendorongnya untuk terus bekerja di rumah sakit bagian Pastoral Care. Kehadirannya di tengah pasien saat itu disambut baik. Umumnya mereka gembira melalui pelayanan dan kehadiran Sr Marita.

Setelah itu, sejak Januari 2003 hingga Mei 2005 ia belajar di salah satu Akademi Katolik di Keuskupan Koeln. Ia Ditugaskan di bagian pastoral psikologi untuk orang sakit.

Diusir Pasien

Selama praktek di beberapa rumah sakit, ia melewati cobaan. Di sebuah rumah sakit Katolik, misalnya, ia pernah diusir oleh pasien.

Pasien ini adalah bekas penganut Katolik yang sudah 20 tahun minggat dari gereja. Sr Marita dikatakan sebagai perempuan gila. Pasien itu tak tanggung-tanngung mengatakan kepada Sr Marita bahwa Allah yang disembahnya adalah Allah yang jahat, Allah birokrat, dan lain-lain. Meski demikian ia tetap berdiri membisu di samping pasien itu.

Sesudah menerima umpatan itu, Sr Marita pamit dan berpesan kepada pasien itu bahwa ia akan kembali bila dibutuhkan. Dua hari kemudian pasien itu meninggal dan Sr Marita setia mendampinginya.

“Sebelum menghembuskan napas, dia meminta maaf dan mohon pengampunan Tuhan karena ia sudah lama meninggalkan Tuhan. Sebenarnya suara hati mereka dikejar dan mempunyai kerinduan untuk kembali kepada Tuhan,” kata Sr Marita.

Sekalipun Sr Marita ditugaskan merawat pasien namun ia sering ditolak dengan alasan mereka tak punya uang untuk membayarnya. Ia juga kerap menjadi tempat pasien mencurahkan isi hati atau kekecewaan terhadap gereja.

Sejak Juli 2005 ia bertugas di sebuah rumah sakit pemerintah di Dortmund, Jerman Barat. Wilayah ini banyak dihuni mayoritas Protestan dan sekte gereja baru. Kehadirannya di rumah sakit ini awalnya sulit. Sebab sebelumnya pihak rumah sakit punya masalah dengan gereja lokal.

Dalam perjalanan waktu ia sering bergulat dengan tantangan para pasien yang mengejeknya telah memilih sebuah hidup yang bodoh dan tolol sebagai biarawati.

Banyak umpatan ia terima. Misalnya, ia datang sebagai pekerja asing yang hanya bermaksud mengumpulkan uang bagi kongregasi dan orang sebangsanya. Ia juga kadang dicerca dengan pertanyaan apakah tidak ada laki-laki yang tak mau menikahinya.

Kondom

Ia menuturkan di Jerman anak-anak usia 10-12 tahun sudah akrab dengan seks bebas. Dunia ini bukan hal yang tabu. Jika memasuki masa usia seperti itu maka orang tua harus siap menjelaskan bagaimana cara menggunakan kondom dan alat-alat lain untuk mencegah kehamilan.

Suatu ketika seorang pasiennya meminta dibelikan kondom. Pasien itu ingin berhubungan intim dengan teman kencannya. Ia mengaku ia tak punya uang untuk bisa membeli kondom.

“Saat itu saya sangat terkejut karena setelah saya mencari tahu berapa usia pasien itu, ternyata ia masih sembilan tahun. Saya tak habis pikir dengan pasien itu,” katanya.

Tak hanya pengalaman nyata seperti itu. Selama lima tahun terakhir ia pernah dapat 25 lamaran dari sejumlah pemuda Jerman. Hal ini membuat ia masuk dalam pergumulan panjang panggilannya sebagai biarawati.

Di tengah cobaan itu ia mengaku teks-teks Kitab Suci telah menyapa hidupnya. Teks-teks itu menjadi sumber kekuatan dan memberi pengertian khusus bagi hidup pribadinya sebagai orang religius.

“Saya sering meditasi tentang perjumpaan Jesus dengan seorang wanita asing di sumur Yakob sebagaimana ditulis dalam Injil Yoh.4:1-42. Juga perjumpaan Yesus dengan Maria Magdalena sebelum kematian Yesus dalam Mrk, 14: 3-9) dan sesudah kematian-Nya dalam Yoh, 20: 11-18,” lanjutnya.

Sr Marita juga tak ingin membuat para pelamar kecewa. Ia menyampaikan kepada mereka bahwa jika mereka mencintai dirinya maka biarkan ia hidup sesuai dengan keputusan dan pilihannya.

“Di ruang kerja, saya diwawancarai beberapa pasien muda. Mereka bertanya dari mana kekuatan saya sehingga mampu hidup tanpa seks. Saya katakan kekuatan saya dari Tuhan,” cerita Sr Marita.

Ada juga yang bertanya apakah salib yang dikenakan menolongnya. Ia dengan enteng menjawab bahwa salib adalah Allah kehidupan dan benteng kekuatan dalam suka dan duka hidup manusia sehari-hari.

“Ada seorang pasien narkoba secara radikal menantang saya. Ia mengatakan bahwa Allah yang saya sembah dan percaya sebenarnya Allah kejam dan bengis. Dalam doa saya meminta, Tuhan ampunilah dia karena dia tidak tahu apa yang dia katakan,” ujar Sr Marita.

Keluarga sederhana

Sr Marita lahir dari keluarga sederhana di Kampung Joeang, Manggarai, Keuskupan Ruteng, Flores, NTT. Ia anak bungsu dari lima bersaudara pasangan Thomas Benggok dan Ny Ana Benggok. Ia juga mempunyai tiga saudara angkat yang masih punya hubungan keluarga. Kedua orangtuanya sudah lanjut usia dan tinggal di kampung. Benih panggilan membiara sudah tumbuh tiga puluh tahun lalu.

Saat itu, Sr. Rosalia Tima SSpS (kini almahrumah) yang juga adik kandung Ny Ana berkesempatan merayakan misa syukur kaul kekalnya di Stasi Langke Majok, Paroki Todo. Sr Rosalia adalah gadis desa pertama dari Todo yang mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan. “Pengalaman tiga puluh tahun lalu menyapa hati saya. Tapi seiring perjalanan waktu, cita-cita saya untuk hidup membiara kadang timbul tenggelam,” kenang Sr Marita.

Tapi sebuah peristiwa lain menyadarkannya. Saat masih di SD setiap bulan Mei dan Oktober ia bersama teman-teman ikut doa Rosario dari rumah ke rumah. Posisi adik ibunya sebagai guru agama saat itu semakin membuka jalan hidupnya. Saat doa rosario, pamannya selalu memohon panggilan hidup membiara untuk imam, suster dan bruder. Tapi, setelah duduk di bangku SMP cita-cita hidup membiara tak pernah muncul. Yang ada dalam hati yaitu menjadi katekis atau guru.

Seusai tamat SMP ia masuk PGAK St Fransiskus Xaverius Ruteng dan tinggal di asrama St Maria Fatima milik SVD. Saat itu ia mulai aktif mengikuti perayaan Misa di asrama atau di Gereja Katedral Ruteng. Di sini pula ia kerap bertemu dengan para suster KSSY/SLB Ruteng. “Penampilan dan gaya hidup mereka menggugah hati saya. Selama dua tahun ikut pembinaan di biara itu. Tahun ketiga di PGAK saya tinggal di asrama susteran SSpS Ruteng. Peraturan asrama yang ketat menjadi tantangan bagi saya,” ujarnya.

Anak-anak asrama saat itu ia saksikan seperti suster-suster kecil yang sudah dilatih untuk menjaga silensium dan disiplin. Mereka juga dilatih untuk berdoa tiga kali sehari seperti yang dilakukan oleh para suster. Menjelang pesta 100 tahun tarekat SSpS 8 Desember 1989, mereka mementaskan drama tentang panggilan hidup membiara tiga kali berturut-turut untuk umat Katolik se-Kota Ruteng. Drama ini disutradarai Sr Gabrielinda, SSpS. Ada juga acara lain yang dibawakan seperti rekoleksi dengan para calon suster, guru-guru, para pegawai dan lain-lain.

Nah, terdorong rasa ingin tahu ia pun ikut rekoleksi. Suster pembimbing saat itu menantang mereka dengan berbagai pertanyaan. “Saya masih ingat satu pertanyaan yang ditujukan pada saya. ‘Marita, mengapa kamu memilih masuk SSpS?’ Dengan spontan saya jawab, ‘Maaf, saya belum memilih dan memutuskan tapi saya tertarik dengan tarekat ini khususnya spiritualitasnya.’ Itu jawaban saya,” lanjut Sr Marita.

Selesai rekoleksi mereka semua dites kepribadian khususnya dan motivasi umumnya. Saat itu, ia tertantang dengan sebuah pertanyaan pengujinya. Bahwa apakah Marita siap diutus ke luar negeri dan siap belajar bahasa dan adat istiadat orang lain.

Tantangan ini berat sehingga ia memutuskan untuk tak ikut lagi kegiatan dengan calon-calon lain. Setelah tamat PGAK ia belajar satu tahun kursus PKK bersama Sr Rosalia SSpS.

“Beliaulah menjadi tokoh pendoa dan pendamping masa pencarian dan panggilan saya selanjutnya. Padahal, keinginan untuk masuk biara sebenarnya ditolak oleh kedua orang tua dan keluarga besar saya,” jelasnya.

Misi ke Jerman

Untuk kongregasi SSpS, Jerman dan Eropa umumnya telah menjadi daerah misi bahkan daerah misi terberat atau daerah misi frontier. Jika 80 tahun lalu Indonesia menerima misionaris dari Eropa, kini malah sebaliknya. Sr Marita adalah misionaris SSpS Flores yang pertama di Jerman yang ditugaskan di negara itu lima tahun lalu. Kehadirannya itu ia rasa seperti pelayaran tanpa tujuan.

Hal ini beralasan karena ia sendiri tak tahu apa yang terjadi dalam perjalanan hidup selanjutnya. Masa depan pengabdian dan pelayanan rasanya masih tersembunyi di balik tembok ketidakpastian. Tapi, rencana Tuhan itu indah adanya. Sr Marita mulai resmi masuk sekolah bahasa Jerman pada April-Oktober 2001 di Ulm, sebuah sekolah bahasa Asing. Ia merasa bersyukur karena ia adalah satu-satunya orang Indonesia di kelasnya.

“Saya punya kesempatan emas untuk tekun belajar bahasa Jerman. Apalagi, di sekolah itu kami dilarang ketat untuk bicara bahasa ibu dan bahasa Inggris. Rekan-rekan suster selalu membantu saya dalam menyelesaikan atau memperbaiki PR,” katanya. Bahkan setiap hari ia gunakan waktu 30 menit untuk membaca satu artikel di depan salah seorang suster. Tak ayal, dalam waktu singkat ia bisa berbicara dan berkomunikasi dengan sesama suster dan orang lain.

Tapi baru seminggu di sekolah ia mencoba pulang sendiri ke rumah. Dalam perjalanan ia tersesat. Ia mengalami frustasi berat karena salah naik bus yang rutenya ke luar kota. Sejam kemudian ia turun dari bus pergi ke sebuah sudut dan menangis sendirian. Tak lama seorang pria tua lewat. Bermodal bahasa Jerman yang jatuh bangun ia minta pertolongannya pria itu untuk menelpon para suster sehingga ia bisa diselamatkan.

“Sebulan kemudian saya baru tahu bahwa bapa itu adalah bekas anak didik para suster SSpS di wilayah itu. Pengalaman ini menjadi guru saya selanjutnya untuk lebih teliti dan tekun belajar alat-alat perhubungan dan rute perjalanan kereta api dan bus,” kenangnya.

Meski melewati pengalaman suka-duka, ia selalu memegang teguh spiritualitas tarekat yakni Allah Tritunggal. Spiritual ini menjadi model hidup komunitas dalam relasi satu sama lain. Juga dengan sesama lain.

“Makanya saya sangat bahagia Tuhan selalu menyertai saya dalam tugas dan pengabdian. Tuhan telah membuka mata orang-orang untuk memahami apa sesungguhnya tugas dan karya kami,” katanya bangga.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan