oleh

Mitos “Pohon dan Batu Sinyal” menantang Sensus Online

-Kolom-654 views

Indonesia terdiri dari komposisi yang beraneka ragam. Berdasarkan keanekaragaman tersebut, terkadang kita sering bertanya-tanya mengenai jumlah penduduk, persebaran penduduknya di mana saja bahkan sampai jumlah penduduk yang dikategorikan berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lainnya.

Bagaimana kita bisa mengetahuinya?

Secara resmi, pencatatan jumlah penduduk bersumber dari hasil Sensus Penduduk yang dilaksanakan tiap 10 tahun sekali oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Selain menggambarkan distribusi penduduk, hasil dari Sensus Penduduk digunakan oleh pemilik kebijakan untuk mematok target pembangunan nasional. Sehingga pembangunan dapat merata demi kesejahteraan rakyat.

Tahun 2020 merupakan tahun diadakannya Sensus Penduduk yang ketujuh. BPS menghadirkan sebuah inovasi agar sensus bisa dilaksanakan dengan cara baru, yaitu secara online. Pengadaan sensus secara online terkesan lebih mudah dan praktis. Selain bersifat ekonomis, pengisian dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja pada periode waktu Februari-Maret 2020.

Tetapi masih muncul pertanyaan-pertanyaan terkait dengan sensus online tersebut; bagaimana dengan daerah-daerah yang mayoritas penduduknya belum mempunyai telepon genggam? Bagaimana dengan daerah-daerah yang belum terpatahkan mitos Pohon dan Batu Sinyal, yang diartikan sebagai kesulitan masyarakat untuk menjangkau sinyal/jaringan internet?

Salah satu daerah yang mengalami kesulitan tersebut adalah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Walaupun penduduk di NTT yang mempunyai telepon genggam hampir 50%, tetapi masih sedikit yang dapat mengakses internet.

Sumber: Provinsi NTT dalam angka, 2019

Dari diagram di atas, jumlah penduduk NTT yang mempunyai telepon genggam sekitar 2.358.634 orang. Namun, yang dapat mengakses internet hanya sebesar 21,10%. Dengan kata lain sekitar 4.238.129 orang di NTT yang belum mengakses internet. Kemungkinan besar karena mitos Pohon dan Batu Sinyal masih belum terpatahkan.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut, BPS menetapkan metode kombinasi dalam pelaksanaan Sensus Penduduk 2020. Metode kombinasi merupakan kombinasi cara baru (online) dan cara lama (door to door). Cara lama dilaksanakan oleh petugas yang langsung turun ke lapangan untuk mendata penduduk yang belum sempat mendata diri secara online. Dengan metode kombinasi tersebut, pasti akan mendapat data yang akurat.

Namun, untuk mendapat data yang akurat sangat diperlukan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan sensus ini. Partisipasi tersebut dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu mengajak orang-orang disekitarnya, bisa melalui status media sosial atau dari mulut ke mulut, dan juga memberikan data yang jujur. Semakin banyak orang yang mengerti betapa pentingnya Sensus Penduduk, semakin bagus juga kemajuan di Indonesia tercinta, dan bisa mematahkan mitos Pohon dan Batu Sinyal di beberapa daerah di Indonesia.

Akhirnya Indonesia di masa depan bisa menentukan kemudinya dengan mantap dan yakin berdasarkan satu data kependudukan yang tersedia.

 

Oleh : Indra Kumanireng, Mahasiswa Politeknik Statistika STIS Jakarta

Komentar