oleh

Musik yang Menyandra Pencipta

-Kolom-850 views

SELEN RO. Lagu daerah etnis Lamaholot. Di sudut-sudut kampung baik Lembata, Flores Timur, dua kabupaten unik di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tengah viral bagai virus. Suara Ancis Matarau meroketkan Selen Ro. Di bawah tenda dalam acara pesta atau adat, kaki semua orang akan melangkah ke tengah, di bawah tenda. Mereka larut dalam goyang Selen Ro dengan tata musik dan suara Ancis Matarau yang apik.

Ancys adalah musisi lokal yang menetap di Maumere, kota Kabupaten Sikka, yang berada di balik meroketnya tembang Selen Ro. Di studio itu para pemusik studio Univilson sebuah kolaborasi berjalan sukses bersama sang pencipta Selen Ro. Siapa “tuan tanah” alias pencipta Selen Ro, lagu daerah asyik itu?

Mengajukan pertanyaan begitu, tentu dalam hati siapa sih pengarangnya. Boleh jadi di sebagian kalangan musisi atau penikmat musik lokal Flores Timur maupun Lembata nama Pastor Dr Markus Solo Kewuta SVD, Selen Ro adalah buah karya tuan Markus. Di kalangan penikmat musik di luar NTT maupun dunia barangkali banyak yang belum tahu kalau Selen Ro digubah Pastor Markus Solo SVD, misionaris asal kampung Lewouran, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur.

Ya, Selen Ro adalah buah karya tuan Markus, ahli Islam (Islamolog), misionaris Indonesia yang lama menetap di Wina, Austria sebelum didapuk Provinsial SVD Wina menjadi Penasehat Paus untuk Dialog Islam-Kristen untuk wilayah Asia dan Afrika, Semenanjung Sahara berkedudukan di Vatikan, jantung kota Roma.

“Lagu Selen Ro viral begini berkat kerjasama saya dengan ade Ancis Matarau dan para musisi di Univilson Maumere. Kalau saya sendiri, tentu tidak akan viral seperti saat ini. Semua berkat kerja sama kami bertiga yang baik, sekalipun hanya lewat WhatsApp,” kata tuan Markus Solo kepada saya beberapa waktu lalu.

Khasana budaya daerah Flores Timur dan Lembata, NTT, utamanya lagu-lagu melimpah rua. Ia memiliki ruang untuk jadi sarana pewartaan Kabar Baik dan dialog antarsesama umat manusia di bawah kolong langit. Selen Ro boleh jadi adalah mutiara inspirasi bagi tuan Markus kala hati menyisir pinggiran kampung halaman di Lewouran, di lorong kecil rumah-rumah warga dipagari kembang sepatu, bluntas, dll. Dari sana Tuhan menyediakan itu untuk modal pewartaan bagi dunia, ata ribu.

“Tuan sudah ambil sedikit lewat Seleng Lere yang saat ini tengah jadi ‘pandemi’ di sudut-sudut tanah leluhur Lamaholot bahkan dunia. Kalau hari ini suara Ancis Matarau mementur tembok-tembok di jantung kota Roma, itu sungguh karya Tuhan yang luar biasa,” kata saya ke tuan Markus, ahli Islam yang pernah mendalami Islam di Kairo, Mesir. Saya bilang begitu karena tuan Markus, sang pencipta Selen Ro, mengaku lagu karyanya itu jadi penyemangat selama membantu Sri Paus.

“CD-nya sudah di dalam mobil sejak lagu ini keluar. Tidak pernah ganti musik. Tiap kali hidupin mobil pasti muncul lagu ini. Jadi tiap pagi ke tempat kerja selalu lagu ini menemani. Tiap kali pulang kerja sampai rumah pasti lagu ini. Otomatis. Tak tahu kenapa tidak bosan-bosan,” kata tuan Markus.

Nah, di sini ketahuan. Suara dan jahitan musik Selen Ro “menyandra” sang tuan, penciptanya. Selamat pagi, ama tuan Markus. Salam Selen Ro ke Vatikan, di jantung Roma, Kota Abadi. Tuan Deo beri bensa. Selamat pagi (waktu Melayu).

 

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan