oleh

Natal, Kasih dan Kedamaian

-Kolom-713 views

Ini Hari Natal pertama tanpa Opa Oma. Natal pertamaku sebagai yatim piatu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), natal artinya kelahiran seseorang. Sesederhana itu. Seharusnya di sekolah kamu sudah diajarkan tentang natalitas dan mortalitas, kelahiran dan kematian. Istilah ini digunakan dalam statistik, geografi, juga ekonomi, untuk menghitung populasi, kemiskinan, wabah, dan sebagainya.

Sejak dulu, ada beberapa kelompok yang alergi terhadap kata ini. Kini, muncul trend untuk menyebut libur Natal dan Tahun Baru sebagai Nataru. Entah apakah ini faktor desakan dari kelompok yang alergi dengan kata natal, atau sekadar kebiasaan menyingkat.

Kebiasaan menyingkat ini bagiku bermasalah, karena dapat menyebabkan pergeseran makna. Soekarno – Hatta, yang kemudian disingkat menjadi Soetta, Soeta, bahkan Suta, akibatkan beberapa orang berpikir bahwa Soekarno Hatta itu nama dari satu orang, bukan dua. Kebiasaan menyingkat seperti ini biasa digunakan oleh kalangan militer, seperti pada Rumkit (Rumah Sakit), sementara sipil menyingkatnya RS. Bahasa Inggris lebih sering menggunakan model penyingkatan seperti EU, UN, UK, USA.

Semua kelahiran (natal) dirayakan. Datangnya kehidupan baru ke dunia, dulunya adalah bentuk dari kemenangan spesies manusia atas kerasnya alam; cuaca, wabah, binatang buas, tanaman beracun, kelaparan, dsb. Mengapa Natal 25 Desember dirayakan? Ini adalah kelahiran seorang tokoh kelas dunia.

Meskipun tak ada kepastian apakah ia lahir tepat pada tanggal 25 Desember, dunia sudah menetapkannya demikian. Oleh beberapa kalangan tokoh ini dianggap sebagai Tuhan atas manusia, sebagian lagi menganggapnya seorang nabi, beberapa lagi menganggapnya penjahat yang pantas dihukum mati.

Kelompok terakhir ini adalah Bangsa Yahudi. Saat itu, mereka dalam penantian datangnya Mesias, yang akan menyelamatkan mereka dari penindasan bangsa lain (Yahudi jajahan Romawi), dan membuat bangsa ini berjaya kembali. Mereka berpikir Mesias yang akan datang adalah seorang ksatria berkuda, ahli dalam strategi perang, sebagaimana tokoh-tokoh pembebas bangsa ini sebelum-sebelumnya.

Ketika Yesus mengatakan dirinya seorang Mesias, orang-orang Yahudi marah. Apalagi ketika Yesus mengajarkan Kasih sebagai Hukum Tertinggi, bukan mengajarkan pemberontakan atau perang terhadap Romawi. Yesus bilang kasihilah musuhmu. Mengampuni bukan menyakiti. Memaafkan bukan membalas.

Puncak kemarahan Bangsa Yahudi adalah meminta pada pemerintah kolonial Romawi, Pontius Pilatus untuk menyalibkan Yesus. Namun, karena pengadilan Romawi tak dapat menemukan satupun kesalahan Yesus, maka Pontius Pilatus mengambil air dan mencuci tangannya di depan orang banyak itu dan berkata, “Aku tidak bersalah atas darah orang ini. Itu urusanmu sendiri!”

Pengadilan harusnya tak tunduk pada desakan massa, seperti desakan orang Yahudi terhadap Pemerintah Romawi, atau desakan orang-orang yang bernafsu memenjarakan Ahok di DKI.

Bagi sebagian orang, Yesus mengajarkan kebaikan, bagi yang lainnya tidak. Itulah manusia dengan segala perbedaannya. Anjuran saling mengasihi bisa dianggap buruk, sementara seruan perang dan pertumpahan darah justru dinanti-nantikan. Padahal, jika kasih menjadi dasar pergaulan, maka Bumi menjadi rumah yang nyaman bagi semua.

Kasihilah sesamamu. Selamat Natal dan Tahun Baru.

Peluk ciumku untuk adik-adikmu.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, sekalipun aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan, dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” – Matius 22:37-40

 

Catatan untuk Kakak Ames

Moskow, 25 Desember 2020
Oleh: Joaquim Lede Valentino Rohi

Komentar

Jangan Lewatkan