oleh

NTT Risiko Tinggi, belum Bencana

-Kolom-430 views

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini sedang dalam kondisi Risiko Bencana yang tinggi, dimungkinkan oleh sejumlah Ancaman: hujan-banjir dan angin kencang yang melanda pemukiman, serta tingginya gelombang laut yang melanda perairan NTT.

Di sisi lain, kekurangsiapan kita, baik secara instusional maupun individual, menunjukkan bahwa kita memang Rentan terhadap sejumlah Ancaman ini. Kerentanan adalah persoalan kita, yaitu kondisi di mana kita tidak mampu (tidak memiliki Kapasitas yang memadai) ketika berhadapan dengan Ancaman.

Kondisi Ancaman Besar diperhadapkan dengan Kerentanan Tinggi (biasanya berbanding terbalik dengan Kapasitas yang Rendah), maka Risiko Bencana, potensi terjadinya bencana sangat tinggi.

Karena itu, jalan satu-satunya adalah berusaha mengurangi Kerentanan, sekaligus meningkatkan Kapasitas kita. Kewaspadaan harus dimaknai dalam konteks ini.

Kapasitas instutional Lembaga Pemerintah dan stakeholders terkait (BPBD, BMKG, ASDP dll.) harus ditingkatkan, mulai dari SDM dan Fasilitas sampai pada manajemen dan sistem operasionalnya, sehingga sistem informasi dan komunikasi dalam bingkai kordinasi-integrasi-sinergitas dapat berjalan simplistis serta efektif bagi pengurangan risiko bencana: dapat memastikan bencana tidak terjadi, kalau terjadi pun dengan dampak yang kecil/sedikit.

Kapasitas institusional ini, bagus kalau terjadi di semua level sampai ke kecamatan dan desa. Di samping itu, kapasitas Warga pun diberdayakan untuk ditingkatkan, baik di tingkat Rukun Tetangga, Rumah Tangga, Kelompok Warga, maupun individu-individu. Dengan demikian, informasi dapat diterima, diserap dan digunakan untuk kewaspadaan dini dengan keterampilan pengelolaan yang sesuai, sehingga efektif bagi upaya pengurangan risiko terjadinya bencana, bahkan ‘zero-risk’!

Itulah yang dibutuh NTT saat ini dan ke depan: membangun sistem pengurangan risiko bencana secara benar: komprehensif dan terpadu; sehingga tingginya risiko hanya berupa ‘in potentia’, tidak menjadi ‘in actu’: menjadi Bencana!

Ukuran Bencana adalah adanya kerugian dan korban — material dan terutama jiwa! Sejauh kerugian material dapat dikurangi, dan manusia yang terdampak dengan kondisi sakit ringan, sedang, berat dan kematian dapat dihindari, maka manajemen penanggulangan bencana (DRM) dan Pengurangan Risiko Bencana (DRR) berjalan efektif!
———

Catatan Penting:

Bencana membuka aib kemiskinan. Dengan bencana, kemiskinan terpapar, menjadi tampak benderang! Lihat saja, yang lebih terdampak angin puting beliung adalah rumah-rumah warga miskin, karena kondisi rumahhnya lebih rentan! Itulah Fakta kemiskinan. BPS menetapkannya sebagai salah satu indikator penting kemiskinan, kiranya terpapar jelas di hadapan Ancaman Alam: entah angin, gempa, longsor dan banjir!

Program rumah layak huni seyogyanya mempertimbangkan faktor ini, dengan kata lain: integrasikan perspektif PRB.

PRB mengajarkan kepada kita bahwa Risiko Tinggi belum tentu terjadi Bencana!
——-

Ayo Waspada yang Benar
Ayo Melek PRB
——–

Ingat-ingat: kita cenderung lupa, apabila kondisi sudah normal. Padahal mitigasi yang benar dilakukan pada saat kondisi normal.

Supaya kondisi tidak berulang tahun terus, maka kita dilarang lupa, dan Melawan Lupa dengan sensitif terhadap PRB!

“Bencana Terjadi karena Bencana Sebelumnya terlupakan”

Moto ini hendaknya jadi pegangan kita!

Salam PRB

Oleh: Lexand Ofong / Pegiat PRB

 

(Sumber foto: antara)

Komentar