oleh

Pastor di Bagansiapiapi, Semenanjung Malaka

-Kolom-11.686 views

PERJALANAN Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu menuju Bagansiapi-api, kota kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau, sangat melelahkan. Jarak tempuh sangat jauh, kalau tak salah 7 jam lebih. Sejauh jarak Pekanbaru-Ujung Batu. Tas ransel saya hanya berisi tape recorder, beberapa caset rekaman, note book, dan bolpoint. “Tak usah bawa baju ganti. Dari Ujung Batu kita balik lagi Pekanbaru,” kata Drs. H. Thamsir Rahman, Bupati Indragiri Hulu dan Raja muda Indragiri, Riau saat saya bersiap bersama rombongan menuju Ujung Batu, tiga belas tahun silam dalam sebuah tugas ke Riau di tapal batas Semenanjung Malaka.

Usai acara di Ujung Batu, agenda berubah. Ternyata lanjut ke Bagansiapiapi. Wah, gimana nanti kalau dua hari tugas di duo kabupaten berpautan jauh jarak itu tanpa ganti baju atau color? Saya sempat panik. “Ga apa-apa. Nanti di Bagansiapi-api beli celana color di sana,” kata H. Pely, rekan saya saat menempuh rute Ujung Batu-Bagansiapiapi. “Kalau mau ke Gereja, bisa pakai tahan kaos oblong. Kan ga apa-apa. Di sana ada Gereja Katolik juga,” ia melanjutkan. Sahabat haji ini baik sekali. “Saya sudah tanya di sekitar ini ada Gereja Katolik. Kalau mau ikut kebaktian, tinggal jalan kaki saja. Nanti saya antar,” lanjutnya.

Sebelum masuk pintu Gereja, saya ke ruang tamu pastoran yang berjarak tak sampe 5 depa. Bertemu seorang imam di sana, saya kaget bercampur gembira. Pastor Yohanes Don Bosco Jata Pr rupanya bertugas di sini. Naluri jurnalistik muncul. Diam-diam saya rekam pengalaman pengabdiannya sebagai pelayan Sabda di kota ikan paling jumbo se-Asia Tenggara tempo doeloe. Hasil obrolan dengan Romo John yang ditemani seorang koster dari Manggarai, saya kirim ke Flores Pos edisi Jakarta. Inilah oleh-oleh dari Bagansiapiapi; bukan ikan kering yang bisa mama saya beli dari nelayan Wulandoni, Lebala, Luki di Wulandoni atau Lamahala, Lamakera yang penduduknya juga ada penganut Islam. Selamat menikmati catatan berikut ini.
————————————————————
YOHANES Don Bosko Jata, Pr adalah imam di Paroki St Petrus dan Paulus Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau yang melayani umat mulai dari tingkat akar rumput atau basis.

Akan tetapi, Romo John –begitu sapaan akrabnya– sesungguhnya mendapat tugas sebagai pastor di Paroki St Fransiskus Xaverius Dumai, Kota Dumai, provinsi Riau. Kedua paroki tersebut termasuk wilayah Keuskupan Padang, Sumatera Barat.

Sebelum ke Dumai, Romo John lama bertugas di Paroki St Joseph Freinademetz Mautapaga, Keuskupan Agung Ende (KAE), Flores.

Meski berdomisili di Dumai, Romo John dan dua rekan imam lain juga mendapat tugas tambahan melayani umat Katolik di Paroki Bagansiapiapi, kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Usia paroki di jantung kota yang pernah terkenal sebagai kota ikan terbesar di Asia Tenggara ini tergolong tua.

Tahun ini Paroki Bagansiapiapi sudah genap berusia 78 tahun dibanding Paroki Dumai yang baru memasuki usia 40 tahun. Jarak tempuh dari Dumai ke Bagansiapiapi mencapai puluhan kilometer.

Paroki Dumai meliputi beberapa wilayah seperti Bengkalis, Selat Panjang, Merupat, dan lain-lain. Jumlah stasi di Dumai ada 17 buah. Sedangkan umat Paroki Bagansiapiapi kurang dari 300-an kepala keluarga (KK).

“Tapi, paroki ini tergolong tua. Tahun ini genap berusia 78 tahun,” ujar Romo John kepada Flores Pos yang menemuinya di rumah pastoran Paroki Bagansiapiapi beberapa waktu lalu.

Romo John menuturkan, ia dan rekan-rekan imam lainnya memulai tugas pelayanan dengan pendekatan akar rumput atau basis. Satu hal yang mereka lakukan adalah menyadarkan umat tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan.

“Setelah mengamati sepintas, saya berpikir umat di Dumai sebenarnya sudah memiliki kemampuan untuk berkembang. Kalau di Paroki Bagansiapiapi saya belum bisa membaca secara baik karena praktis hanya dua kali sebulan melayani umat di sini. Itu pun kami lakukan secara bergantian dengan tiga rekan imam lain,” lanjut Romo John.

Khusus di Paroki Bagansiapiapi, ia mengakui bahwa kehidupan berparoki sedikit terganggu. Ini terutama karena pastor berpindah tugas. Selain itu, Kemudian Dewan Pimpinan Pastoral (DPP) lebih melihat diri sebagai pengontrol pastor dan lain-lain.

“Saya berusaha agar ke depan tetap ada pemahaman bersama. Bahwa antara DPP dan pastor adalah mitra kerja yang saling mendukung satu sama lain. Nah Setelah pelantikan pengurus DPP yang baru beberapa waktu lalu, kemitraan itu yang sudah kami gariskan bersama,” lanjutnya.

Strategi pastoral

Romo John dan rekan-rekan juga sudah memikirkan strategi pastoral, khususnya di Paroki Bagansiapiapi. Strategi dimaksud adalah menggerakkan seluruh anggota paroki untuk memikirkan apa yang harus dikembangkan bersama umat dan pastor. Termasuk bagaimana juga kita merumuskan visi dan misi paroki.

“Ada umat juga sudah sepaham. Bahwa paroki jangan hanya tersentral pada pastor paroki sendiri, tetapi juga butuh keterlibatan semua umat. Ya, kalau turne pastor dan pelayanan sakramen memang tidak ada masalah. Tetapi soal kebijakan pastoral secara umum harus direfleksikan bersama umat. Ini kelihatan agak idealistis tetapi mau tidak mau ke depan umat harus semakin berkembang,” ujarnya lebih lanjut.

Saran guru

Romo John mengungkapkan, keinginan masuk seminari bukanlah datang dari dirinya, melainkan datang dari gurunya yang saat itu menjabat Kepala SD Nangapanda, Ende. Sang guru memperhatikan John sebagai anak yang berprestasi di kelasnya.

Guru yang bekas seminari ini yang menganjurkan orangtua John agar John dimasukkan di seminari. “Sejak tamat SD Nangapanda, kepala sekolah menganjurkan orantua agar segera mendaftarkan saya di Seminari Todabelu Mataloko di Kabupaten Ngada. Dia bilang, pokoknya masuk seminari dulu. Mau jadi pastor atau tidak, nanti urusan belakangan,” kenang Romo John sembari tertawa.

Saat itu, tahun 1980, John tidak sendirian. Bersama empat siswa lain dari sekolahnya mereka mengikuti seleksi masuk. Hasilnya, hanya John sendiri yang dinyatakan lulus. Jadilah ia siswa seminari Todabelu.

Namun, seiring perjalanan waktu John ingin keluar untuk mencari sekolah yang bisa cepat memberikan jaminan pekerjaan di bidang pertanian. Ia ingin menjadi petugas penyuluh lapangan (PPL).

Nah, saat itu, Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Boawae menjadi sekolah favorit di Kabupaten Ngada. Tapi, keinginan itu akhirnya terkubur dalam-dalam karena Tuhan sudah memanggil dan menjadikan frater John pelayan Sabda.

Selepas dari seminari menengah Todabelu, ia memilih menjadi imam diosesan kemudian melanjutkan studi di Seminari Tinggi St Paulus Ritapiret Maumere. Frater John menyelesaikan studi dari 1986-1994 di Ritapiret.

Pada 24 September 1994, ia ditahbiskan menjadi imam. Selama masa persiapan di seminari menengah, ia mengaku tidak pernah merasa ada guncangan. Begitu pula saat di seminari tinggi, tidak ada gejolak dalam panggilannya.

Artinya, tak ada kesulitan selama kuliah. Ia juga termasuk mahasiswa yang pas-pasan. Tidak terlalu di bawah atau di atas dalam hal prestasi akademik. Ia akhirnya melewati tahun orientasi pastoral (TOP) di Seminari Todabelo kemudian kembali ke Ritapiret tahun 1992.

“Motivasi menjadi imam sangat sederhana. Saya ingin seperti para pastor yang selalu naik kuda atau motor (sepeda motor) ke kampung-kampung saat bertugas. Saya juga hanya ingin agar bisa ikut minum anggur. Di kampung, kalau naik kuda atau motor kemudian masuk ke kampung-kampung, kita selalu dikerubuti anak-anak kecil. Itu yang saya rasa mengasyikkan. Saat itu, saya juga lihat para pastor yang turne di kampung-kampung selalu disambut guru agama dan disuguhi makanan yang enak. Itulah motivasi dasar yang sedikit menggerakkan saya untuk mengikuti apa yang dikehendaki guru saya saat itu,” ujar Romo John.

Tawaran dari Padang

Tapi di balik itu, ia menyadari motivasi menjadi imam adalah ingin melayani Tuhan dan umat Allah. Perjalanan imamat yang sudah dilaluinya selama 12 tahun diyakini sebagai bentuk campur tangan dan keagungan Tuhan.

Ini nyata terjadi ketika ia dan sembilan (5 SVD dan 5 Projo) rekan lain ditahbiskan pada 24 September 1994 di Gereja St Joseph Freinademetz Mautapaga, Ende. Satu di antaranya sudah meninggalkan imamatnya.

“Nah, pada 1996 ada tawaran dari Keuskupan Padang sehingga saya memutuskan untuk sedikit keluar dari Flores dan melayani umat di keuskupan ini. Saya akan mengabdi selama tiga tahun dan bisa ditambah tiga tahun lagi. Jika diperpanjang maka itu tergantung pertimbangan Bapak Uskup,” katanya.

Sebagai orang baru di Dumai dan Bagansiapiapi, ia berusaha menyesuaikan diri dengan umat sehingga tugas mulia ini bisa terlaksana dengan baik. Begitu juga dalam interaksi dengan warga masyarakat Bagansiapiapi atau Kabupaten Rokan Hilir umumnya. Di Paroki Bagansiapiapi, umat Katolik hanya kurang dari 300 kepala keluarga. Mayoritas warganya beragama Islam, disusul Protestan.

“Saya pernah diundang menghadiri sebuah pertemuan tetapi tidak sempat karena bertepatan dengan pelaksanaan kursus persiapan perkawinan. Saya bangga karena relasi antarumat beragama di Bagansiapiapi atau Rokan Hilir tak jauh berbeda di Flores. Tingkat penerimaan terhadap kelompok minoritas ternyata sangat tinggi. Ini yang sangat membanggakan,” ujar Romo John.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan