oleh

Pendidikan (Anak) di Masa Tatanan Normal Baru

-Kolom-707 views

Tatanan normal baru (new normal live) mulai dijalani oleh masyarakat Indonesia. Sekalipun banyak pihak terutama para pakar epidemilogi masih keberatan, namun karena sudah menjadi kebijakan pemerintah Indonesia sehingga mau tidak mau masyarakat harus menjalaninya. Meminjam kata-kata Presiden Jokowi, “kita harus berdamai dengan Covid-19”.

Dalam bidang pendidikan hampir pasti bahwa pemerintah akan menerapkan skenario pelaksanaan tahun ajaran baru 2020/2021 dengan beragam model pembelajaran, baik secara online, offline, maupun kombinasi keduanya. Tergantung pada tingkat risiko atau status pendemi suatu daerah.

Tanggapan orang tua dan anak

Bagaimana tanggapan orang tua dan anak? Survei yang penulis lakukan di awal Juni 2020, menunjukkan bahwa persepsi dan sikap orang tua terhadap tahun ajaran baru yakni 50,44% orang tua sudah mengetahui rencana pemerintah melaksanakan Tahun Ajaran 2020/2021, sementara 46,90% belum mengetahui. Orang tua juga sebanyak 39,81% setuju dengan rencana pelaksanaan Tahun Ajaran 2020/2021 pada Juli mendatang, 12,02% tidak setuju, dan 45,37% ragu-ragu. Sama halnya ketika penulis menanyakan kepada anak-anak 44,24% setuju, 15,92% tidak setuju. 39,82% ragu-ragu. Terkait kekhawatiran Orang tua dengan anak-anak jika pemerintah melaksanakan Tahun Ajaran 2020/2021 pada Juli, 65,21% khawatir. 13,91%, tidak khawatir, 20,86% ragu-ragu. Namun yang menarik ketika ditanya apakah orang tua akan mengijinkan anak-anak bersekolah bila pemerintah tetap melaksanakan T.A 2020/2021 bulan Juli mendatang. 55,96% Mengijinkan, 10,09% tidak mengijinkan, dan 38,53% ragu-ragu. Kemudian terkait dengan apakah orang tua percaya dengan para guru atau pihak sekolah yang akan bertanggung jawab mengawasi anak-anak selama mereka berada di sekolah. 53,70% percaya, 7,40%  tidak percaya, dan 36,11% Ragu-ragu. Begitu pula anak-anak, 54,46% percaya.  6,25%  tidak percaya.  37,50% ragu-ragu.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa orang tua secara umum masih khawatir dengan pelaksanaan tahun ajaran 2020/2021 di sekolah, akan tetapi di sisi lain mereka juga tidak menginginkan agar anak-anak tidak belajar, begitu pula dengan anak-anak. Orang tua dan anak secara umum percaya pada pemerintah dan sekolah terkait dengan kebijakan-kebijakan.

PT Menatap Tahun Ajaran Baru

Bagaimana dengan pelaksanaan tahun ajaran baru di level Perguruan Tinggi (PT)? Pada level perguruan tinggi model PJJ (pendidikan jarak jauh) ala Universitas Terbuka (UT) nampkanya akan diadopsi sebagai model yang pas dalam situasi saat ini. UT dipandang sebagai pelopor bagi pelaksanaan PJJ. Sebab Physical Distancing dalam beragam aktivitas termasuk aktivitas pendidikan memerlukan ruang dan fasilitas pendukung yang cukup besar bagi perguruan tinggi. Penyelenggaraan PJJ dipandang sebagai solusi dalam memecahkan permasalahan keterbatasan ruang dan fasilitas. 

Tripusat Pendidikan

Dalam situasi demikian, rumah (home) atau keluarga sebagai basis pendidikan anak masih akan menjadi tempat utama bagi anak untuk belajar di  masa tatanan normal baru. Dari berbagai wadah pendidikan, keluarga merupakan wadah yang pertama dan paling tua. Semua anak melewati tahap-tahap pembentukan dari keluarga. Bahkan dari perspektif moral, keluarga merupakan infrastruktur moral, selain masyarakat, sekolah, dan gereja (Etzioni, 1995).

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara pernah menulis tentang Tri Pusat Pendidikan (TPP), yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tri Pusat Pendidikan benar-benar menjadi wadah  yang sangat penting bagi anak-anak untuk belajar dalam tatanan normal baru. Ini tidak berarti bahwa pada masa normal (sebelum Covid-19) TPP tidak berfungsi, tentu berfungsi. Akan tetapi oleh karena ada kaitan dengan bagaimana menciptakan kebiasaan dan budaya baru sehingga diperlukan peran maksimal dari TPP.

Pembiasaan Budaya Baru

Dalam rangka menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru di rumah (home), di sekolah, dan masyarakat maka penulis akan membuat ilustrasi terkait langkah-langkah yang penting untuk diacu. Sedapat-dapatnya untuk meminimalkan risiko dari pendemi yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Ikuti ilustrasi berikut.

Ilustrasi Pembiasaan Dalam Tatanan Normal Baru

Untuk mengajarkan anak agar dapat menerapkan kebiasan-kebiasaan baru atau cara-cara baru dalam tatanan normal baru maka tahap-tahap di atas dapat diacun. Dalam konteks sekolah dapat dimulai dari tahap pertama, yakni anak diajarkan dulu, dilatih, baru dibiasakan sehingga menjadi karakter, dan sesuatu yang sudah menjadi karakter setiap individu dan bersama-sama akan menjadi budaya masyarakat, dan budaya masyarakat dapat dikembangkan sesuai tuntutan zaman.

Berbeda dengan dalam konteks keluarga dan masyarakat. Di mana, untuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan baru tidak perlu dimulai dengan tahap pertama, tetapi langsung pada tahap ketiga. Melalui proses pembiasaan (terus menerus). Misalnya sering mencuci tangan dengan sabun, pakai masker, menggunakan etika bersin dan batuk, tidak menyentuh area segitiga wajah, dan seterusnya, maka semakin lama dan semakin sering akan menciptakan kebiasaan baru yang baik. Orang tua atau orang dewasa memegang peran sentral dalam proses pembiasaan ini, karena anak-anak akan lebih sering menyontoinya. Sebab bukankan anak-anak adalah peniru ulung. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua dan orang dewasa, dari bangun tidur sampai dengan tidur kembali, cara orang tua merapikan tempat tidur, bahkan cara orang tua berbaring sekalipun. Kesemuanya akan menjadi contoh bagi anak-anak.

Itulah sebabnya mengapa orang tua atau orang dewasa memiliki peran yang sangat penting. Cara menasihati, mendorong, memberi contoh, meminta tolong, melarang/menegur, memarahi, menguatkan (membangun rasa percaya diri anak), mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan seterusnya dapat dijalankan orang tua dalam keseharian bersama anak. Anak belajar dengan cara membiasakan bukan menghafal atau mendengar ceramah.

Tatanan normal baru akan menjadi momentum untuk meningkatkan kesehatan juga keadaban manusia ke taraf yang lebih baik. Menjadi momentum untuk mewarisi nilai-nilai baru (merevitalisasi) aspek sosial, budaya, dan infrastruktur (sosial, ekonomi, dan seterusnya). Selamat menjadi pembelajar di masa tatanan normal baru.

 

Oleh: Fredrik Abia Kande, Dosen FKIP UNTRIB Kalabahi, Alor

Komentar

Jangan Lewatkan