oleh

Pentingkan Corona, Jangan Lupa Corruption

-Kolom-619 views

Sejak awal 2020, dunia digemparkan dengan sebuah virus yang menyerang pernapasan manusia dan dapat menyebabkan kematian. Virus yang dikenal dengan nama virus Corona (SARS-CoV-2). Mulai dari Wuhan dengan ratusan ribu korban sampai kota ini dikarantina, perawatan ribuan pasien sampai dokter yang meninggal, upaya berbagai warganya untuk mengungsi dan upaya dari pemerintah untuk menyelamatkan warganya.

Media sosial dan televisi ramai memberitakan berbagai hal sehubungan dengan virus Corona yang bisa merenggut nyawa jika tidak diatasi dengan cepat dan tepat. Virus Corona menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia.

Di negeri kita Indonesia, virus Corona mulai menyebar di beberapa kota besar yang membuat pemerintah dan masyarakat merasa gelisah. Banyak reaksi dari berbagai lapisan masyarakat, yang mengisyaratkan ketakutan akan bahaya virus Corona bagi kehidupan mereka. Penyakit ganas yang menyebar dengan cepat dan berbahaya mematikan memang harus diantisipasi dan segera ditangani dengan istimewa karena begitu penting kehidupan ini.

Di tengah meningkatnya keprihatinan kita terhadap virus Corona, kita tidak boleh melupakan virus-virus lama yang masih ada sampai sekarang, salah satunya adalah virus Corruption (korupsi). Virus Corruption atau penyakit korupsi yang sudah merupakan budaya bangsa kita, berbeda lagi reaksi dan penanganannya. Mengapa demikian? Jawabannya pasti berbeda-beda, tergantung dari pandangan kita. Karena pandangan rakyat kecil akan berbeda dengan pandangan pengidap korupsi mengenai virus Corruption tersebut. Virus Corruption di negeri ini sepertinya tidak berbahaya seperti virus Corona, sehingga tidak menjadi kecemasan dan ketakutan bersama, karena tidak kelihatan mengancam nyawa manusia.

Virus Corona akan mematikan jiwa raga pengidapnya, sedangkan virus Corruption tidak membahayakan kesehatan ragawi pengidapnya. Malahan virus Corruption memberikan kekayaan dan kenikmatan bagi pengidap bahkan virus tersebut akan menjadi teman dekatnya. Tak hanya sampai di situ, hasil kerja sama antara virus Corruption dan pengidapnya bisa dipakai untuk mencegah oknum penegak hukum bertindak dan bisa merangkul berbagai pihak yang mengancam pengidapnya. Dengan begitu, virus Corruption akan menyebar dan menjadi penyakit yang susah untuk diatasi.

Virus Corona akan bisa diatasi dan dibasmi melalui kerja sama pemerintah, tim medis juga masyarakat. Bisa melalui pelayanan kesehatan, melakukan karantina, menerapkan lockdown, atau kebijakan-kebijakan lain untuk mengatasi penyebaran virus Corona. Berbeda dengan virus Corruption yang sudah mempunyai lembaga khusus untuk pencegahan dan pemberantasan. Namun, sampai saat ini virus ini belum mampu dikarantina, apalagi dibasmi tuntas dari jiwa raga pengidap-pengidapnya. Mungkin karena itu adalah budaya, sehingga tidak boleh untuk dilupakan apalagi dihilangkan.

Virus Corona menakutkan semua orang dan menarik kita semua untuk berupaya mencegah dan mengobati pengidapnya demi keselamatan hidup. Sedangkan virus Corruption menarik berbagai pihak untuk ikut terlibat dan menikmati, sampai dijaga dan seolah-olah dipelihara berbagai pihak yang berkepentingan karena virus itu menguntungkan bagi mereka. Sementara rakyat kecil haknya dirugikan, nasibnya menderita, hanya dihibur dengan kata-kata indah, sehingga hanya menimbulkan kebingungan dan akhirnya masa bodoh dan pasrah.

Antara virus Corona dan virus Corruption memang beda nama, beda ancamannya bagi nyawa dan kehidupan, sehingga berbeda pula reaksi penanganannya oleh pemerintah dan masyarakat luas di negeri ini. Namun, keduanya tetap sangat berbahaya untuk kehidupan pemerintah maupun masyarakat.

Sebenarnya, kita bisa membasmi kedua virus ini dengan kerja sama. Untuk melindungi diri dari virus Corona, setidaknya tetap mengikuti anjuran yang sudah diberikan oleh pemerintah atau lembaga kesehatan. Sedangkan untuk melindungi diri dari virus Corruption, cobalah membayangkan seorang saudara kita yang sedang menangis karena uangnya dicuri oleh saudaranya sendiri.

Semoga kedua virus ini bisa dibasmi bukan hanya untuk bangsa dan negara kita, tetapi untuk dunia, karena hakekatnya kedua virus ini mematikan nyawa dan peradaban manusia.

 

Oleh : Indra Kumanireng, Mahasiswa Politeknik Statistik STIS Jakarta

Komentar

Jangan Lewatkan