oleh

Perak Tuan Flori Waor Wujon Pr

-Kolom-142 views

KOTBAH Petrus Lilibala Wujon hidup. Isinya mengena di hati. Kalau sudah depan altar Gereja Paroki St Joseph Boto, Dekanat Lembata, kami anak-anak SD yang duduk dua atau tiga baris bangku paling depan altar mulai atur posisi duduk. Kepala Peter atau Lilibala, begitu ayah saya menyapa akan mengeluarkan cerita pengantar semacam ilustrasi sebagai pengantar perikop Injil Minggu itu.

“Kalau Kepala Peter sudah di depan jangan liat kiri kanan. Jangan baku ganggu dengan teman di samping. Supaya kamu bisa omong macam dia,” kata ayah saya. “Tapi satu kalimat dari kepala Peter itu saya lupa. Itu barangkali bahasa dari Suster Amaria atau Dorotildis dorang punya negara,” kata ayah melanjutkan.

Amaria dan Dorotildis yang dimaksud ayah saya, Peter, adalah Sr Amaria SSpS dan Sr Dorotildis SSpS, misionaris dari Amerika Serikat yang berkarya di Susteran SSpS Boto, salah satu komunitas SSpS tua di Lembata. Lalu frasa yang dimaksud ayah dari Kepala Peter adalah Today is better than yesterday. Hari ini hidup kita, umat, mesti lebih baik dari kemarin. Frasa itu pula yang memasyarakat di Boto. Setiap tofa rumput di kebun, “Today is better than yesterday” beberapa orangtua mengulanginya.

“Engko tau arti kalimat Kepala Peter itu? Kalau engko tidak tahu, engko ingat saja artinya dalam bahasa Indonesia,” kata ayah saya. “Kami di SD saja masih belajar bahasa Indonesia. Itu juga lidah masih kaku. Kalau tesalah bahasa daerah, melanggar aturan, kita disuruh tulis di kayer. Jadi saat main bola pun instruksi antar teman harus pake bahasa Indonesia,” kata saya kepada magun Peter, ayah saya, yang sama nama baptisnya dengan Petrus Lilibala Wujon.

Dua belas tahun lalu, kisah Petrus Lilibala Wujon saya ulangi saat ngobrol santai dengan Pastor Florianus Waor Wujon, Pr. Pastor Flori kala itu tengah jadi Pastor Paroki St Joseph Lite, Adonara Barat. Kala itu kaka tuan Flori (saya menyapa akrab sebagai sesama orang sekampung) tengah menemui warga asal Adonara Barat di Jakarta untuk ikut berggandengan tangan dengan umatnya di Lite membangun pipa air minum di wilayah parokinya.

“Kalau ade punya kontak kaka dokter Stef Eke Ola atau kaka ade dari Waiwadan bisa hubungi mereka. Saya percaya banyak relasi atau teman yang bisa bantu umat dan kami agar bisa punya air minum,” kata Romo Florianus.

Sekadar tambahan, sebelum balik ke Paroki St Joseph Lite, Romo Florianus bertugas di Paroki St Joseph Duri, Keuskupan Padang, Provinsi Riau. Selain bertemu keluarga asal Adonara Barat, ia juga berniat menjumpai kerabat dan keluarga umat Duri dan warga asal Paroki Boto di Jabodetabek agar bisa membantu program umat Paroki Lite yang kala itu sungguh mengalami kesulitan akses air minum. Romo Flori adalah imam yang sangat mencintai umat dan program paroki di mana ia diberi tugas.

Saya menuliskan kisah pengabdian imam dan kegigihannya mencari dermawan hingga Ibu Kota atas nama cinta yang total pada panggilan sebagai gembala umat di mana ia ditugaskan. (Paragraf berikut adalah catatan saya 12 tahun lalu).

Tentang air minum

Umat tujuh desa di Paroki St Joseph Lite, Adonara Barat, Keuskupan Larantuka, NTT belum menikmati air minum. Mereka terpaksa berjalan satu kilo meter lebih untuk mendapatkan air minum.

KONDISI ini disadari pula Pastor Paroki St Joseph Lite, Romo Florianus Faor Wujon, Pr sejak ia mendapat tugas baru sebagai pastor paroki. Upaya mendatangkan air minum dari sumbernya di Desa Wainore, Kecamatan Adonara Timur sangat sulit. Selain berjarak kurang lebih 14 kilo meter, jalur pipa melewati medan terjal.

Tak ayal, harga pembelian pipa dan sok membutuhkan dana besar. Padahal, umat di tujuh desa yakni Horowura, Hoko Horowura, Lite, Knotan, Lewopao, Lewobele, dan Koko Tobo tetap merindukan air minum. Warga berharap dapat menikmati air minum sebagaimana desa-desa lain yang mendapat bantuan pemerintah.

Pastor Flori mengakui, sebenarnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur sudah menyadari kesulitan air minum yang dihadapi masyarakat. Awalnya, Pemkab Flotim mengalokasikan sedikt dana untuk membiayai proyek air minum masyarakat.

Proyek yang dikerjakan sebuah kontraktor lokal itu berhasil memasang jaringan pipa hingga ke Lite. Sayangnya, air tak bisa keluar di kran-kran di pinggiran kampung karena debitnya kurang. Kemudian, proyek air minum itu terhenti dan masyarakat harus kembali berjalan sejauh satu kilo meter untuk mengambil air di Sungai Wai Matan.

Pastor kelahiran Boto, Lembata ini mengakui, sejak 2001 proyek itu diserahkan kepada Dewan Pastoral Paroki (DPP) Paroki St Joseph Lite. Setelah mulai bertugas pada akhir Oktober 2002 di paroki itu, ia dan pengurus DPP dan umat tujuh desa mulai melaksanakan serangkaian rapat. Para kepala desa, guru-guru, tua-tua adat, dan tokoh-tokoh masyarakat dilibatkan dalam kepanitiaan. Tak sampai di situ. Panitia juga membangun komunikasi dengan para putera daerah di perantauan agar bisa ikut berpartisipasi dalam pengadaan air minum di paroki.

Hal ini penting karena dalam rencana panitia dibutuhkan dana sebesar Rp 200 juta lebih. Dana itu untuk mengganti pipa yang patah karena longsor dan membeli soket, kran-kran, dan menyiapkan bak-bak penampung di tujuh desa. Juga untuk membiayai dua tukang.

Saat ini, menurut pastor yang pernah bertugas di Paroki St Joseph Duri, Provinsi Riau ini, swadaya umat yang harus dikumpulkan sebesar Rp 27 juta. Sebanyak 12 orang putera daerah di Jakarta juga pernah mengirimkan bantuan melalui panitia.

Semua dana yang masuk dari umat dan bantuan pihak lain, hanya lewat bendahara. Kami percayakan bendahara seorang suster. Kami memiliki satu rekening sehingga para simpatisan dan donatur bisa mengirim lewat rekening ini.

“Saya juga secara rutin mengumumkan di mimbar usai Misa. Nama-nama penyumbang juga kita tempelkan di papan pengumuman agar umat bisa tahu,” katanya.

Selama ini, menurut Pastor Flori, pihaknya sudah menyampaikan kesulitan yang dihadapi umat tujuh desa dalam memperoleh air minum namun belum ada tanggapan dari Pemkab Flores Timur. Ia menjelaskan, sebanyak 12 desa masuk di wilayah Paroki St Joseph Lite.

Dua belas desa itu adalah Horowura, Hoko Horowura, Lite, Knotan, Lewopao, Koko Tobo, Lewo Bele, Baya, Wato Baya, Wewit, Papilawe, dan Klibang. Paroki ini memiliki 22 stasi dan 90 komunitas basis dengan jumlah umat Katolik sebanyak 12 ribu orang.

Pihaknya sangat bangga karena kepanitiaan air minum untuk tujuh desa di atas didukung penuh umat. Baik umat Katolik dan Muslim. Kesadaran membayar iuran secara kontinyu makin mendorong panitia bekerja lebih giat.

“Saya harus mendatangi sejumlah donatur di luar NTT dan menceritakan kesulitan yang kami hadapi. Mudah-mudahan dengan doa dan usaha, usaha mendatangkan air minum bisa berhasil dan warga tujuh desa di paroki bisa menkmati air minum,” kata Pastor Flori.

Hari ini, Rabu, 21 Oktober 2020, Pastor Florianus Waor Wujon Pr merayakan Misa Syukur 25 Tahun sebagai Imam. Tentu sebagai adik dan umat asal stasi Boto, doa dan ungkapan rasa syukur pada Tuhan atas karya Tuhan dalam diri sosok Pastor Florianus Waor Wujon Pr, lahir dan memenuhi rongga batin.

Hari ini juga, umat di Stasi maupun Paroki St Joseph Boto tengah bersyukur atas peristiwa iman ini. Kebahagiaan kian digandakan karena dua imam lainnya, kerabat Romo Florianus juga baru saja merayakan Pesta Perak Imamat. Mereka adalah dua bersaudara kandung: Pastor Paskalis Bako Wujon SVD dan Pastor Raimundus Beda Wujon SVD. Tuan Kalis saat ini menjalani Misi di China. Sedang sang adik, tuan Mundus, mengabdi sebagai dosen di Unika St Paulus Ruteng. Ayah tuan Florianus dan ayah tuan Kalis dan Mundus bersaudara kandung.

Selamat HUT ke-25 Imamat, kaka tuan Flori. Semoga pelayanan kaka bagi Tuhan dan sesama semakin hari semakin baik. Atau seperti kata bapa Peter Lilbala, “Today is better than yesterday”. Salam dari rantau untuk kaka tuan, ibunda terkasih mama Veronika Ose Baon dan kaka ade serta ponakan semua. Juga para Pastor Paroki Boto dan umat di kampung halaman. Tuhan berkati.

Oleh: Ansel Deri

Komentar

Jangan Lewatkan