oleh

Perguruan Tinggi Harus Lentur dan Tangkas

-Kolom-458 views

Gebrakan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim supaya perguruan tinggi lebih lentur dan tangkas (agile), kompatibel dan berinovasi dalam era hiper disrupsi ini. Perguruan tinggi boleh membuka program studi baru, asal bermitra dengan lembaga yang reputasinya mumpuni di tingkat nasional atau global.

Produksi makin meninggalkan tenaga kerja. Automasi, robot, artificial intelligence, 3Dprinting misalnya, bukan hanya menggantikan pekerjaan sederhana dan berulang, namun pekerjaan yang sophistikasinya tinggi seperti akutansi/audit https://www.journalofaccountancy.com/issues/2019/jun/artificial-intelligence-in-audit.html atau bahkan organ vital manusia seperti jantung atau mata mampu “dicetak” https://www.mdlinx.com/internal-medicine/article/2668.

Taksi dikalahkan transportasi online. Hotel dikalahkan sharing penginapan online. Mall dikalahkan dengan gerilya ratusan ribu pedagang online. Perbankan konvensional sebentar lagi digulung fintech. Pertanian makin menuju smart farming yang efisien dan presisi.

Tak pernah ada dalam sejarah Indonesia sebelumnya, sebuah perusahaan mampu mencetak lebih dari 2 juta pekerjaan dalam waktu sekitar 5 tahun. Bahkan, tak ada perusahaan konvensional hingga kini yang memiliki karyawan sebanyak itu. Namun itulah transportasi online, keajaiban teknologi.

Lalu, akan banyak pengetahuan yang dulu dipelajari akan segera musnah tak berbekas. Dulu dari STM hingga perguruan tinggi (S1) saya menekuni mesin pembakaran (combustion engines) penggerak kendaràn, namun ilmu itu akan lenyap tak terpakai karena segera tergantikan mobil listrik. Saat inipun sebenarnya dalam mesin pembakaran, karburasi sudah digantikan injeksi. Platina pengatur pengapian sudah digantikan dengan pengapian diatur elektronik.

Zaman berubah, berbagai pekerjaan lama akan lenyap. Namun, pekerjaan yang baru juga akan tumbuh. Bahkan, ada proyeksi optimis pekerjaan yang baru akan surplus melampaui jumlah pekerjaan lama yang hilang. Ada juga yang memproyeksikan, akan ada 65 persen pekerjaan baru yang saat ini belum ada, akan muncul dalam 2 dekade ini.

Akan tetapi, persyaratan mengalami surplus itu ada catatan tebal. Apakah para pekerja kita mempunyai kapasitas untuk pekerjaan baru itu? Bila tidak, lautan pengangguran akan terjadi. Nadiem tampaknya mau mengantisipasi itu, karena tampaknya dia cukup memahami apa yang terjadi ke depan dari pengalaman bergumul dengan trend dan cutting edge technology.

Tantangannya sekarang, maukah kita berubah? Pendidik perlu bertransformasi dalam revolusi pendidikan. Anak didik yang mempunyai passion dan curiosity tinggi akan bisa mengalahkan pengajar konvensional. Internet telah memfasilitasi informasi yang dulu 50 tahun didapat, kini bisa diakses kurang dari setahun. Pendidik hanya perlu mendorong hyper learning dan long life learning untuk anak didiknya.

Dan juga yang penting adalah mengatasi mental blok di sebagian masyarakat. Saya memperhatikan di era keterbukaan dan disrupsi yang begitu hebat ini, dari sisi sosial konservatisme, fanatisme, penutupan dan pengelompokan diri justru meningkat. Fenomena ini kalau saya perhatikan, tampaknya terjadi resistensi karena sebenarnya ketidaksiapan menghadapi perubahan-perubahan. Lebih parah lagi, mereka melihat orang lain yang di luar kelompoknya adalah sesat dan makin memaksakan diri.

Saya berpandangan, kalau itu hanya dilakukan orang-orang tua sih boleh-boleh saja. Problemnya, pandangan itu juga ditularkan pada anak-anak atau anggota keluarga yang lain. Ini yang menggelisahkan. Bagaimana nasib anak-anak itu di jaman yang makin canggih dengan sophistikasi yang begitu tinggi nanti (dan sekarang)?

 

Oleh: Setyo Budiantoro

Komentar

Jangan Lewatkan